Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Terlalu Mudah


__ADS_3

Semua melewati pintu dimensi Ravel yang terhubung langsung ke depan gerbang sekolah. Karena khawatir dengan perkataan Ravel yang serius, semuanya langsung menuju ke ruang kepala sekolah. Ravel, Mort, dan Ares terdiam sesampainya di sana. Hanya Kak Walles dan Dion saja yang menetap di sana bersama Ravel.


Ares mengendus langit untuk merasakan arah dari awalnya perang di mulai. Mort membuat tebing pembatas yang setara dengan pembatas kota sampai 3 lapis. Sementara Ella mengumpulkan mana dari energi alam sebanyak mungkin. Setelah mengetahui arah munculnya musuh, Ravel dan yang lainnya menuju ke sana.


Saat sampai, tempat itu hanyalah rerumputan yang luas sejauh mata memandang. Ravel memasang sihir jebakan sebanyak mungkin di tempat seluas itu. Setelah sepenuhnya hanya jebakan yang mematikan memenuhi daratan itu, Ravel, Mort, Ares, dan Ella terengah-engah kelelahan karena tipisnya sisa persediaan mana.


Setelah 30 menit mengembalikan semua mana, yang lainnya pun sampai dengan wajah marah karena kepala sekolah tak mengalami apa pun.


“Ravel! Kau ini ya!” ucap Ariel dengan wajah kesal dan sudah ingin menghajarnya.


“Diam dulu, sebentar lagi akan di mulai.” ucap Ravel menaruh telunjuknya di bibir Ariel yang akan berbicara.


Kemudian terlihat sebuah rombongan bandit yang berjumlah sekitar 200 orang. Karena ladang luas ini, mereka dapat dengan jelas melihat musuh dan mengaktifkan jebakan manual juga dari jauh. Ketika menyadarinya, semua jadi tidak tenang dan mulai mengaktifkan sihir.

__ADS_1


“Jangan serang!” ucap Mort menjentikkan jari lalu semua sihir di batalkan.


“Bagaimana bisa kita tak menyerang? Apa kau tak melihat kerumunan bandit itu?” ucap Nia memarahi Mort.


“Gadis kecil, jangan berisik! Aku bungkam loh!” ucap Ares kesal ketika ada gadis yang berbicara pada Mort.


Lalu, para bandit itu mulai berlari menyerang setelah menyadari keberadaan Ravel dan kawan-kawan. Baru saja mulai berlari, timbul ledakan dari berbagai arah. Setiap semakin dekat menjadi semakin banyak jebakan dan semakin kuat pula dampaknya. Para alumni terkejut melihat hal tersebut. Karena dengan cepatnya bisa memasang jebakan sampai sebanyak itu.


“Walles, tak aku sangka kemampuan jebakanmu sehebat ini.” ucap Kak Azzack melihat para bandit tumbang satu persatu.


“Lalu, ini ulah siapa?” tanya Kak Remon yang merasa tak ada yang mampu selain Kak Walles.


“Menurutmu? Aku mana mungkin bisa menggunakan sihir sebanyak itu. Meskipun ada 5 orang diriku, mungkin hanya bisa setengahnya.” ucap Kak Walles mengatakan apa adanya.

__ADS_1


“Apa mereka berdua yang memasangnya?” tanya Kak Azzack menyadari aura mengerikan Ares dan Mort.


“Gadis itu memprediksi tempat ini akan muncul musuh hanya dalam beberapa detik saja dan jarak musuh ke sini pun masih sangat jauh. Pria yang itu membuat dinding tinggi di belakang kita ini hingga membuat pembatas kota menjadi tiga kali lipat. Terakhir sudah pasti, Ravel membuat semua sihir jebakan ini hanya dengan waktu kurang dari 10 menit.” jawab Kak Walles menjelaskan apa yang ia lihat.


“Dion juga membantuku membuat jebakan loh.” ucap Ravel menunjuk Dion.


“Apa jebakan yang ia buat? Aku tak memperhatikannya membuat jebakan.” tanya Kak Walles tak menyadari sihir jebakan Dion.


“Sebenarnya aku hanya memasang satu sihir jebakan saja di area tengah.” jawab Dion malu-malu karena terlalu di harapkan.


“Ini dia sihir jebakannya Dion, membekulah!” teriak Ravel lalu dari tengah muncul semacam kabut putih.


Setelah kabut itu menghilang, sisa pasukan bandit yang terkena kabut itu membeku jadi patung es. Pemandangan pun berubah, dari yang awalnya rerumputan hijau luas menjadi es biru yang berkilau terkena sinar matahari. Semuanya tersentak dengan penyelesaian para bandit itu. Keadaan yang menjadi ancaman kota berhasil di musnahkan dalam sekejap bahkan sebelum mencapai kota.

__ADS_1


“Kalian ini sebenarnya apa? Aku sudah tak paham.” ucap Kak Remon dalam hatinya.


__ADS_2