Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Olahraga Setelah Makan


__ADS_3

"Ini menunya, apa yang akan di pesan?" tanya pelayan itu memberikan daftar menu.


"Pesan yang terlaku di sini 4 porsi." jawab Ares menyela Ravel yang sedang membaca menu.


"Kau ini ya, kenapa asal memilih begitu?" tanya Mort ke Ares sedikit jengkel dengan kebiasaan buruknya.


"Tidak masalah, kalau begitu sesuai yang dia pesan." ucap Mort tidak mempedulikan masalah kecil dan mendengarkan apa perkataan Ares.


"Baik, mohon tunggu sebentar." ucap pelayan itu lalu pergi untuk memberikan daftar pesanan.


Setelah 10 menit, pelayan itu mengantarkan makanan yang sudah di pesan ke meja. Saat makanan baru saja sampai, tiba-tiba ada seseorang berbadan besar masuk dan membuat banyak orang takut dan menyingkir atau memalingkan wajahnya. Ravel dan yang lainnya menghiraukannya dan mulai memakan pesanan yang baru di antar itu.


"Hei, bocah yang di sana!" ucap pria besar itu berjalan menujunya.


Ravel dan yang lainnya menghiraukannya dan tetap melanjutkan makan. Karena kesal dan merasa di remehkan, pria itu hendak membentak meja untuk memberikan peringatan. Baru saja tangannya akan memukul meja, tubuhnya berhenti bergerak seketika.


"Ada apa ini? Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?" ucap pria besar itu mulai panik.

__ADS_1


"Kau mengganggu, pergilah!" ucap Mort mengendalikan tubuhnya dengan sihir.


Pria besar itu pergi dengan damai dan membuat para pengunjung lain kembali tenang. Kemudian pelayan yang sebelumnya datang mengantarkan makanan kembali dan berbicara serta berterima kasih pada mereka berempat.


"Terima kasih banyak! Karena kalian pria itu tidak membuat masalah lagi di sini." ucap pelayan itu menundukkan kepalanya dan berterima kasih dengan tulusnya.


"Tidak masalah, kami hanya ingin makan dengan tenang." jawab Mort tidak berpanjang kata dan menyelesaikan makannya.


"Apa tadi kau bilang dia tidak membuat masalah lagi di sini?" tanya Ares mengambil kesimpulan kalau pria tadi sudah pernah membuat onar di sini beberapa kali.


"Benar, dia selalu datang ke sini untuk meminta uang, jika kami tidak bisa membayar maka dia akan menghancurkan semua properti di sini." jawabnya lalu diam begitu saja.


"Ada apa tiba-tiba begini Ares?" tanya Ella yang bingung karena Ares tiba-tiba ingin membantunya.


"Kita tidak ada kegiatan apa pun setelah ini bukan? Anggap saja sebagai olahraga setelah makan." jawab Ares yang hanya ingin bersenang-senang dengan membantu pelayan itu.


Kemudian dengan terpaksa, mereka semua ikut untuk mencari di mana tempat pria besar tadi tinggal. Pelayan itu juga ikut untuk melihat apa yang ingin Ares lakukan. Ketika mengelilingi kota, terdapat satu wilayah yang sangat sepi. Mereka pun berjalan ke sana dan mengeceknya.

__ADS_1


Ketika Ares sedang mengecek keadaan, tiba-tiba pria besar itu muncul dan menyerang Ares dengan sebuah kapak besar. Ares melompat ke belakang untuk menghindarinya.


"Ada apa dengan orang itu? Dia terlihat sedikit aneh." ucap Ravel memperhatikan pria besar itu.


"Sepertinya dia di kendalikan iblis, karena warna matanya berubah menjadi hitam." ucap Mort menunjuk mata pria besar itu.


"Apa lagi yang kalian tunggu, cepat buat orang itu sadar, bodoh!" teriak Ares yang terus di serang dan berusaha menghindar.


"Kau saja Mort, jangan di bunuh ya." ucap Ravel malas melawan pria itu.


"Baiklah, agar lebih cepat begini saja." ucap Mort mengeluarlan salah satu sabitnya dari penyimpanan dimensi.


"Hei, aku bilang jangan membunuhnya dan kau malah mengeluarkan sabit mu." ucap Ravel mengira Mort berlebihan.


"Sabit ini namanya, Breaker Sickle. Sabit ini bisa memutus apa pun hanya dengan sekali serang saja. Bahkan sabit ini juga bisa memutus kontrak kalian asal kau tahu." jawab Mort menjelaskan sabitnya.


"Jangan lakukan itu atau aku akan membunuhmu." ucap Ravel tidak suka dengan canda Mort.

__ADS_1


"Mana mungkin aku melakukannya bukan?" ucap Mort menerjang pria besar itu dan menebasnya.


__ADS_2