Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Buku Peraturan


__ADS_3

Kemudian, Dion memanggil Ravel untuk segera ke kamar Nia. Dion bilang kalau ada hal menarik yang sedang mereka bicarakan.


“Ravel, ayo cepat ke kamar Nia.” Teriak Dion dari pertengahan tangga.


“Ada apa? Apa ada masalah?”


“Bukan, sudah cepat saja ke sini!” teriak Dion lalu pergi ke kamar Nia duluan.


Kemudian Ravel mengajak Ella untuk ikut bersamanya ke kamar Nia.


“Apa kau juga mau ikut?” tanya Ravel mengulurkan tangannya tapi menghindari kontak mata langsung.


“Hmmm” jawab Ella sambil mengangguk lalu meraih tangan Ravel.


Kemudian mereka berdua menuju ke kamar Nia bersama sambil bergandengan tangan. Wajah mereka sangat merah merona menahan rasa malu. Setibanya di kamar Nia mereka melihat Nia dan Dion sedang membaca buku peraturan kelas inti. Mereka berdua pun ikut penasaran dan langsung menghampiri Nia dan Dion.


“Apa kau benar-benar Ella?” tanya Nia yang terkejut kalau Ella berubah menjadi peri.


“Ya, aku Ella.” jawab Ella terheran kenapa Nia terkejut.


“Jadi, apa yang sedang kalian bicarakan di sini?” tanya Ravel ke Nia dan Dion.

__ADS_1


“Coba kau lihat ini.” ucap Dion sambil menunjukkan sebuah informasi di dalam buku peraturan.


“Memang ada apa di sana?”


“Biarpun ini buku peraturan, tetapi terdapat daftar kegiatan yang akan dilakukan bersama di dalamnya. Tidak disangka Ravel yang mengurung diri di panti asuhan untuk membaca buku malah belum membaca buku ini.” ucap Nia menjelaskan dan sedikit meledek Ravel.


“Coba ku lihat, kegiatan percobaan kontrak peri di tanah suci murni kerajaan.”


“Bukankah ini hal yang sangat besar? Aku bingung sekolah sampai membawa murid ke kerajaan untuk melakukan hal ini.” ucap Dion menjelaskan.


“Menjalin hubungan dengan hewan gaib? Apa kalian tahu apa maksud kegiatan ini?”


“Bukankah itu sama seperti mencari peliharaan?” ucap Nia


“Kenapa kau sampai semangat begitu?” tanya Dion yang merasa kalau Ravel terlalu berlebihan.


“Apakah kalian tidak menyadari sesuatu? Dari semua informasi hal ini hanya ada 5 daftar loh. Bukankah aneh kalau di pisahkan?”


“Benar juga, aku baru menyadarinya.” Ucap Dion.


“Berarti tidak salah lagi, ini pasti ujian naik kelasnya. Menurut kalian, kita bisa langsung kelas berapa?” tanya Ravel dengan percaya dirinya.

__ADS_1


“Bukankah dari kelas satu dulu? Kita kan tidak pernah mempelajari sihir pembuat kontrak paksa atau sihir penjinak.” ucap Nia menjelaskan.


“Hah, benar juga. Kupikir kita bisa langsung melompat kelas. Bukankah kalian merasa sedikit malu sekelas dengan orang yang umurnya 1 tahun lebih muda dari kalian?” ucap Ravel kehilangan harapan dan mengeluarkan keluhan-keluhannya.


Note: Umur mereka 12 tahun yang seharusnya sudah kelas 2.


“Tidak juga, kan kita murid kelas inti.” jawab Dion dengan santainya.


“Memangnya apa bedanya?” tanya Ravel yang heran hanya karena perbedaan kelas.


“Kita bisa bebas ingin berada di sekolah selama berapa tahun. Bahkan jika kita sudah lulus dan ingin mempelajari sesuatu dapat meminta diajarkan oleh kepala sekolah.” ucap Nia menjelaskan.


“Benar juga, kalau begitu untuk apa aku merasa malu. Bodohnya diriku ini.”


Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, karena besok di pagi hari mereka harus berangkat ke sekolah. Sesampainya di kamar, Ravel dan Ella membicarakan suatu hal untuk menentukan kelas apa yang mereka tentukan di awal masuk.


“Ella, menurutmu kelas apa yang sebaiknya kita ambil?” tanya Ravel sambil membuka pintu.


“Kenapa kamu menanyakannya padaku? Kan yang akan mempelajarinya bukan kita, hanya kamu saja kan?” tanya Ella yang heran.


“Bukankah jika aku mempelajari sihir yang belum kamu ketahui kamu juga bisa menggunakannya?”

__ADS_1


“Kalau begitu, bukankah aku akan merepotkanmu? Kelas awal ini kamu pilih saja, misalkan kamu sedang tidak ingin mempelajari sesuatu, aku akan memilih kelasnya.” Jawab Ella dengan penuh rasa senang karena Ravel memperhatikannya.


__ADS_2