Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Pengumuman Penting


__ADS_3

“Hah, sungguh hari yang membosankan. Kenapa aku merasa kalau aku tidak akan bisa berkembang jika terus berada di kelas?” ucap Ravel dalam hatinya.


Ia pun melanjutkan membaca beberapa buku yang sudah dia bawa dari rumah. Semuanya adalah sihir kuno dan tak mudah di dapat dan yang paling utama buku sihirnya banyak memiliki sihir unik hanya dalam 1 buku. Bukunya pun tak memiliki warna hanya lembaran kertas yang menyatu tanpa sampul buku berwarna.


Buku itu ia dapatkan dari perpustakaan di panti asuhan dan berada di dalam kotak buku yang rusak. Karena sudah tak terpakai dan rusak, Ravel mengambilnya untuk mempelajarinya sendiri. Ia sudah banyak mempelajari sihir dari buku itu dan banyak sihir yang berguna untuk kehidupan kesehariannya.


Tak lama kepala sekolah menggunakan sihir yang sebelumnya pernah digunakan saat hewan gaib memasuki sekolah dan membuat kekacauan. Sihir ini ditujukan untuk memberikan pemberitahuan ke seluruh murid sekolah.


“Kepada semua muridku! Aku ingin menyampaikan kabar, kalau Sekolah Asteri akan mengunjungi sekolah kita untuk melakukan pertukaran murid. Di sana tidak ada pemberlakuan kelas dan tak lama lagi hal itu juga akan di terapkan di sekolah kita. Jadi, murid yang merasa ingin mencoba pendidikan di Sekolah Asteri bisa datang di ruanganku, jika lebih banyak dari perkiraan aku akan memilih orang dari yang akan pergi.” ucap kepala sekolah menggunakan sihir miliknya.


Ravel yang mendengarnya menjadi sedikit tertarik. Tapi, Mort bilang padanya untuk tidak pergi ke sana. Karena tidak ada hal yang berguna untuk Ravel pergi ke sana. Ravel bingung mengapa Mort melarangnya, padahal dia sedang memikirkan tentang perkembangannya.

__ADS_1


“Kenapa kita tidak ikut dalam perpindahan pelajar? Bukankah aku bisa mempelajari sihir yang berbeda dengan yang ada di sekolah ini?” tanya Ravel ke Mort yang pada akhirnya dia benar-benar penasaran.


“Mereka melakukan pertukaran pelajar itu hanya untuk mengintai kemampuan musuh, apa kau tidak sadar itu?” ucap Mort memperingati Ravel tentang latihan yang di sebut oleh kepala sekolah.


“Tapi, bukankah ini akan bagus untuk mengintai musuh juga?” ucap Ravel merasa ini juga cukup bagus.


“Jadilah orang yang berpikir Ravel! Jika ke sekolah sana ada banyak murid, bagaimana kau tahu siapa yang akan mengikuti latihannya? Mereka akan membuat mu berpikir kalau bagus untuk mengintai jadi orang kuat di sekolah ini akan ke sekolah itu. Bagaimana cara mereka mengamankan dan menyembunyikan kemampuan murid mereka yang akan mengikuti acara ini?” tanya Mort setelah berkata panjang lebar.


“Sekolah ini! Mereka akan mengirim murid yang mengikuti acara itu ke sekolah ini.” jawab Ravel setelah berpikir.


“Aku paham, aku akan mengikuti perkataanmu.” ucap Ravel menjawab dengan tegas.

__ADS_1


“Oh iya, sebaiknya kau mendekatkan diri pada murid pindahan dari sekolah di sana. Kau hanya perlu bilang kalau kau masih kelas 1 dan tak bisa ikut pertukaran pelajar. Karena di sekolah ini sebelumnya yang ikut acara ini adalah murid kelas 3 sampai 5, jadi ia akan lengah. Karena sebentar lagi program kelas akan di hilangkan dan kau bisa berpartisipasi.” ucap Mort memberitahu beberapa rencana untuk Ravel.


“Ternyata kau itu selalu berpikir ya? Mungkin aku harus tenang dan menggunakan kemampuanku di dunia lamaku.” ucap Ravel memikirkan suatu rencana kecil.


“Apa yang kau akan lakukan?” ucap Mort merasa sedikit khawatir karena Ravel akan menggunakan sesuatu dari dunianya.


“Tenang saja, hanya teknik perang saja.” jawab Ravel sambil menunjuk kepalanya dan menutup sebelah matanya.


Setelah sekolah usai, ia menuju ke gerbang sekolah dan menunggu Kak Remon datang. Ia bersama semua temannya dan sudah di beritahu kalau akan di undang ke tempat latihan Kak Remon. Tak lama menunggu Kak Remon datang dengan menggunakan kereta kuda. Mereka pun langsung naik dan menuju tempat tujuan.


“Bagaimana kabarmu Ravel? Kemarin kau bilang ingin meminta maaf aku khawatir kau membuat masalah.” ucap Kak Remon sambil bersandar dan meletakkan lengannya di pundak Ravel.

__ADS_1


“Haha, sebenarnya itu hanya hal kecil. Aku meminta maaf bukan berarti aku membuat masalah loh!” jawab Ravel dengan akrabnya.


Semua temannya sedikit terkejut karena Ravel mudah sekali akrab dengan orang lain. Bahkan, alumni saja bisa sampai sedekat ini dengannya. Nia dan Dion saja kaget karena melihat Kak Remon yang selalu terlihat dewasa dan memiliki jiwa kepemimpinan terlihat seperti seorang kakak pada umumnya saja.


__ADS_2