
Pagi hari tiba dengan cepatnya. Nia pergi ke kamar Ravel untuk membangunkannya karena mungkin Ravel masih tidur karena kelelahan. Seperti yang ia duga, Ravel memang masih tidur, tetapi tidak hanya sendirian.
"Ravel, ayo bangun!" teriak Nia sambil membuka pintu.
Nia terkejut bukan main ketika melihat Ravel dan Ella tidur bersama di tempat tidur yang sama, lalu juga dengan Mort tertidur di sofa bersama Ares dengan posisi Ares menindih Mort karena terlalu sempit untuk dua orang.
"Ahhhhh!!!" teriak Nia melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri lalu berlari memanggil yang lain.
Karena terkejut dengan teriakan Nia, mereka berempat terbangun dan langsung mengambil posisi aman agar tidak terjadi kesalah pahaman. Nia kembali bersama dengan yang lainnya untuk memberitahu kejadian itu. Ketika mereka semua sampai di kamar Ravel, semuanya terlihat seperti sudah bangun sejak tadi dan sedang mengobrol biasa.
"Kenapa kalian semua sudah rapi dan siap pergi ke sekolah?" tanya Nia heran dengan perubahan mereka yang sangat cepat.
"Harusnya kami yang bertanya padamu. Saat kau membuka pintu hanya terdiam melihat kami lalu berteriak dengan kerasnya." ucap Ravel mencoba mengelak.
"Tapi, bukankah tadi kau sedang tidur di tempat tidur bersama Ella?" tanya Nia ke Ravel yang sangat yakin kalau ia memang melakukannya.
__ADS_1
"Hah? Apa yang kau bilang? Mana mungkin aku melakukan hal itu!" ucap Ravel pura-pura kaget dan malu.
"Maaf, sebenarnya tadi itu sihir ilusiku." ucap Mort mencoba berbohong ke Nia.
"Astaga, ku kira itu sungguhan. Jangan membuatku kaget dong." ucap Nia menghela napas karena merasa tenang.
"Sudahlah, kalian pergilah ke sekolah. Masih ada hal yang perlu kami bicarakan." ucap Ravel memberitahu semua temannya.
Setelah semuanya pergi, Ravel menghilangkan sihirnya yang merupakan ilusi yang membuat mereka terlihat seperti sudah siap menggunakan seragam dan hanya tinggal berangkat. Padahal sebenarnya keadaan mereka belum berubah dari semalam. Karena tak ingin terlambat, mereka pun langsung membasuh wajah dan bersiap menuju ke sekolah.
Setelah itu mereka menuju ke sekolah bersama. Karena Ravel sudah mengabari Kak Remon dengan sihir telepatinya, jadi tidak akan ada masalah jika Mort, Ares, dan Ella ikut ke sekolah dengan seragam. Mereka berempat berada di kelas yang sama dengan yang lainnya. Sesampainya di kelas, terjatuh ember berisi air dari atas pintu membasahi tubuh mereka berempat.
"Dry!" ucap Mort menggunakan sihir kecilnya ke dirinya dan 3 orang lainnya.
Air itu langsung kering seketika dan membuat tawa murid senyap kembali. Lalu mereka menuju bangku kosong di bagian paling belakang. Tak lama guru pun masuk ke sana dan memulai pelajaran. Selama pelajaran Ravel hanya tertidur, Ella menatapi wajah tidur Ravel yang lucu, sementara Mort dan Ares mengobrol bersama setelah sekian lamanya.
__ADS_1
"Apa yang mereka berempat lakukan? Bukankah mereka tak ada bedanya dengan murid sekolah ini?" ucap Ariel merasa kesal terhadap kelakuan mereka berempat.
"Biarkanlah saja, mungkin ada rencana di balik kelakuan mereka itu." jawab Dion mencoba membela Ravel.
"Benar, di sekolah juga biasanya Ravel . . ." ucap Nia terhenti saat ia teringat kalau Ravel hanya tidur saja ketika di sekolah.
"Hanya tertidur! benar bukan?" tanya Ariel merasa semakin malu karena sifat buruk murid dari sekolah kakeknya.
Jam pelajaran teori sudah selesai, mereka berkumpul di tempat latihan untuk melatih sihir. Karena tak pernah di uji kemampuannya, semua murid perpindahan sementara harus memperlihatkan kapasitas mananya untuk memastikan apa bisa mengikuti latihan ini. Mereka memiliki sebuah kristal untuk menilai tingkat mana murid.
Semua berada di tingkat tertinggi kristal itu. Meski sebenarnya Ravel, Ares, Mort, dan Ella menutupi kapasitas mananya dan hanya mengeluarkan sedikit saja.
"Hei, bukankah mana Ravel lebih tipis dari biasanya?" tanya Adrea ke semua temannya.
"Hehe, dia memang sengaja melakukan itu agar bisa mengejutkan mereka semua." jawab Dion menjelaskan.
__ADS_1
"Tapi, aku sudah mengerahkan kemampuanku yang terbaik." ucap Adrea lesu merasa tertinggal.
"Kami juga melakukannya dengan kekuatan penuh, yang bisa melakukannya dengan santai memang hanya mereka berempat saja." jawab Nia mengatakan hal yang memang benar adanya.