
"Ada apa dengan orang ini? Tertarik dengan manusia apa harus memperhatikanku dengan seteliti itu?" ucap Ravel dalam hatinya.
Kemudian kepala desa menghampiri Ravel dan mengajaknya berbicara berdua.
"Maaf, putriku sangat pemalu. Apa kau bisa ikut denganku sebentar?" ucap kepala desa itu.
Kemudian mereka masuk ke sebuah salah satu rumah di pepohonan itu. Mereka menggunakan tangga gantung yang terbuat dari akar dan kayu. Sesampainya di atas, terlihat seorang wanita cantik sedang membuat teh.
"Siapa wanita itu?" tanya Ravel ketika melihatnya dari ke jauhan dan menanyakannya ke Nina.
"Ibuku." jawab Nina.
"Muda sekali! Apa semua bangsa elf memiliki garis keturunan seperti ini?" ucap Ravel terkejut kalau wanita itu adalah ibu Nina yang ia kira hanyalah kakak dari Nina.
"Bangsa elf memiliki umur yang jauh lebih panjang dari manusia. Ketika kami menginjak umur 15 tahun, penuaan kami akan melambat dan membuat kami lebih awet muda." ucap Nina menjelaskan mengenai elf.
"Memangnya berapa usia elf tertua di sini?" tanya Ravel ke Nina sambil menatap ke luar melalui jendela.
"Apa kau lihat nenek itu? Dialah orang tertua di sini. Usianya sudah 642 tahun." ucap Nina menunjuk nenek tua di sebuah kursi goyang dan sedang tertidur.
__ADS_1
"Tunggu, apa aku tak salah dengar? Bisa kau ulang?" tanya Ravel tertegun mendengar perkataan Nina dan mencoba memastikan kalau ia tidak salah dengar.
"642 tahun." jawab Nina.
"Hahaha, aku sudah tidak paham lagi." ucap Ravel dengan wajah mendatar tidak tahu ingin berekspresi seperti apa.
Kemudian kepala desa menyuruh dua bawahannya untuk menyebarkan selembaran ke seluruh desa. Ia menyuruh Ravel untuk menetap dan bermalam di sana untuk ikut merayakan pesta karena anak kepala suku di temukan selamat dan baik-baik saja.
"Sebaiknya malam ini kalian bermalam di sini dan ikut merayakan pesta. Terimalah sebagai tanda terima kasihku ke kalian semua." ucap kepala suku ke Ravel dan semua temannya.
"Bagaimana ya? Bagaimana menurut kalian?" tanya Ravel ke yang lainnya.
"Aku juga setuju! Sudah lama aku tidak keliling dunia dan menjelajah." ucap Ares sangat bersemangat dan senang.
"Sepertinya sebaiknya kita tetap tinggal malam ini. Mereka berdua juga sepertinya sudah sagat ingin bersantai." jawab Ella tiba-tiba muncul.
"Baiklah, kita akan bermalam di sini." ucap Ravel ke kepala desa dan semua orang terlihat mempersiapkan pesta malam itu.
"Kalian beristirahatlah di sini, kami akan mengatur penduduk untuk membantu menyiapkan perayaan." ucap kepala desa pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Kemudian terlihat di semua tempat menyiapkan pesta perayaan itu. Ravel merasa kalau kepala desa terlalu berlebihan mengenai perayaan do temukannya anaknya.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Ravel ke istri kepala desa yang merupakan ibu Nina.
"Tidak apa, karena putri kami yang akan memegam nama desa ini nantinya." jawab istri kepala desa itu.
"Bgeitukah?" tanya Ravel tidak mengira kalau Nina memiliki kedudukan yang begitu penting di sana.
"Ya, aku akan menjadi penerus desa ini nantinya." jawab Nìna sambil menuangkan teh ke gelas.
"Apa kedudukan kepala desa di turunkan berdasarkan garis darah?" tanya Ella sambil berjalan menuju ke Ravel.
"Tidak, kami menentukannya dengan kompetisi desa. Karena bakatku menonjol, penduduk desa asal menyebutku sebagai penerus kepala suku meski kompetisi belum di mulai." ucap Nina memberikan gelas itu ke Ella dan menuangkan lagi untuk Ravel.
"Kompetisi? Kapan akan di mulainya?" tanya Ravel yang cukup penasaran dengan cara bertarung bangsa elf.
"3 hari lagi, kompetisi di ikuti oleh generasi yang seumuran denganku." ucap Nina memberitahu.
"Apa kami bisa menonton pertandingan di kompetisi itu?" tanya Ravel ke Nina.
__ADS_1
"Datanglah, jangan lupa menyemangatiku." jawab Nina dengan wajah senang karena mereka semua ingin melihat kompetisinya.