
Mereka mengelilingi seisi kota serta beberapa kota sekitar yang tidak terlalu jauh juga. Setelah melihat sekeliling, salah satu kota terlihat sangat ramai dan membuat mereka tertarik.
"Kepala sekolah, ada apa dengan kota itu? Mengapa ramai sekali orang berkumpul?" tanya Kak Remon melihat sekerumunan orang di salah satu kota.
"Oh, kota itu ya. Mereka mengadakan kompetisi yang di ikuti banyak orang berbakat." ucap kepala sekolah malas membahas sekolah itu.
"Kenapa kepala sekolah menghela napas begitu?" tanya Nia ke kepala sekolah.
"Mereka selalu mengadakan acara itu setiap tahun dan selalu ada yang curang, tetapi para panitia kompetisi tidak mempedulikannya sama sekali dan membiarkannya." jawab kepala sekolah.
Tiba- tiba Ravel bergerak dengan cepat dan langsung melihat sekitar, begitu pun Mort yang awalanya juga sedang tertidur.
"Ada apa kalian berdua? Tiba-tiba panik begitu." tanya Dion karena Ravel dan Mort membuat semua orang kaget.
"Maaf, aku hanya malukan itu tanpa sengaja." jawab Mort memegang kepalanya karena sedikit pusing akibat bangun dari tidur dengan tiba-tiba.
"Sama, aku hanya merasakan hawa membunuh dan bereaksi tanpa sengaja." jawab Ravel lalu duduk di sebelah Ella.
"Apa-apaan itu? Bagaimana kalian merasakan hal itu? Bukankah kalian hanya tidur dari tadi?" ucap Ariel tidak percaya.
"Tidak, mereka berdua bisa merasakannya. Karena aku sudah pernah melihat Ravel ketika melatih instingnya." jawab Dion yang terkesan dengan hasil latihan yang ia lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, jika benar dari mana mereka merasakan niat membunuh itu?" tanya Adrea ke Dion.
"Tentu saja hanya dari satu tempat saja, kompetisi itu." ucap kepala sekolah menunjuk ke kota yang penuh kerumunan orang itu.
Kemudian Ravel dan Mort melihat ke bawah untuk melihat apa yang di maksud. Ketika melihat ke bawah, mereka merasakan artefak dan langsung terjun ke bawah dari kapal sihir.
"Artefak langka!" ucap Mort dan Ravel lalu terjun ke bawah secara langsung.
"Bahaya! Apa yang kalian lakukan?" teriak kepala sekolah terkejut ketika mereka berdua terjun saat melirik ke bawah.
"Apa yang mereka berdua lakukan? Bukankah itu bahaya!" ucap Kak Remon lalu melirik ke bawah tempat mereka berdua terjun.
"Kami akan ke bawah, kalian pergi saja duluan. Aku dan Mort akan kembali dengan Catari nanti." teriak Ravel lalu terjun ke bawah dengan menunggangi Catari.
"Tunggu du . . ." ucap Kak Remon terpotong karena mereka berdua sudah sangat jauh.
Kak Remon hanya menghela napas panjang dan membiarkan mereka berdua pergi. Ketika menoleh ke belakang, Ella dan Ares menghilang begitu saja.
"Astaga, kenapa orang yang aku awasi hanya berisi orang yang merepotkan saja?" ucap Kak Remon menghela napas dan berbicara sendiri.
"Kak Remon, apa kita hanya akan membiarkan mereka begitu saja?" tanya Nia ke Kak Remon khawatir Ravel membuat masalah.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka, kalau besok masih belum kembali baru kita melihatnya ke sini." ucap Ariel kesal dengan perilaku mereka.
"Sebaiknya kita biarkan saja. Kalian tahu sendiri apa yang bisa di lakukan mereka bukan?" ucap Kak Walles menyarankan untuk membiarkan mereka.
"Apa kalian yakin? Bukankah dia junior kalian?" tanya kepala sekolah ke para senior.
"Justru karena kami senior, jadi mengerti batasannya dalam menghadapi masalah." jawab Kak Remon.
"Apa-apaan perkataanmu itu? Apa kamu mencoba bertingkah keren?" ucap Kak Nata melihat Kak Remon mulai mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
"Apa kalian sungguh akan meninggalkan mereka?" tanya kepala sekolah masih belum percaya karena ada sedikit candaan di pembicaraan barusan.
"Tentu saja, lagi pula mereka juga tidak akan terluka meski mengikuti kompetisi itu." jawab Kak Remon dengan serius dan membanggakan para seniornya.
"Baiklah, kita akan kembali." jawab kepala sekolah lalu mengarahkan kembali kapal sihir ke sekolah.
Kemudian ketika sampai kepala sekolah bertanya kepada para junior mengenai Ravel, Mort dan yang lainnya.
"Apa kalian sungguh tidak khawatir padanya?" tanya kepala sekolah ke para junior.
"Kalau khawatir tentu saja, tapi kami percaya kalau Ravel dan yang lainnya akan baik-baik saja. Kami yakin dia akan menang meski melawan ras iblis sekali pun." jawab Dion dan di respon semua temannya dengan senyum dan anggukan kepala.
__ADS_1