Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Penyelamatan


__ADS_3

"Jangan bersuara, ada seseorang di sekitar sini." ucap Ravel lalu sembunyi di antara semak belukar.


Mereka melihat 2 ras iblis yang sedang melihat sekeliling. Ravel menggunakan sihirnya untuk memisah dimensi mereka. Mereka berada di penyimpangan dimensi yang dapat membuat mereka memperhatikan sekitar dengan normal, namun mereka tidak bisa di lihat orang lain. Karena dimensi mereka berbeda.


"Apa ini sihir?" tanya elf itu terkejut dengan sihir yang belum pernah ia lihat.


"Diamlah, mereka menuju ke sini." ucap Ravel menyuruh semuanya sunyi karena iblis memiliki indra yang sangat tajam.


Kedua ras iblis itu menuju ke kemah mereka dan mengecek sekitar. Setelah itu mereka berdua berlari secepatnya yang sepertinya terlihat ingin melaporkan menemuan mereka.


"Ayo, ikuti mereka." ucap Ravel mengembalikan dimensi dan mengejar 2 ras iblis itu sambil menjaga jarak.


Ras iblis itu menuju sebuah kaki gunung yang terdapat gua. Fanya mencium aroma orang yang di cari oleh Alf dari dalam sana.


"Aku mencium aroma orang itu di dalam." ucap Fanya sambil mengendus.


"Ap kalian siap membuat keributan malam ini?" ucap Ravel yang berniat menerobos masuk langsung dan membuat kekacauan.


"Aku sangat siap." ucap Ares menarik pedangnya.

__ADS_1


"Aku juga siap untuk melakukan ini." ucap Mort mengeluarkan salah satu sabitnya dari penyimpanan dimensi.


"Aku juga akan ikut bersama kalian!" ucap Fanya mengeluarkan palu besar buatan Ravel.


"Baiklah, waktunya membuat kekacauan." ucap Ravel mengeluarkan perlatan pisaunya beserta ikat pinggangnya.


"Apa kalian akan menyerang langsung? Lawan kita ras iblis, mana mungkin bisa menang mudah di markas mereka." ucap Alf merasa kalau itu tindakan ceroboh.


"Dalam sebuah perang ada satu hal yang harus di lakukan. Siapa yang mengambil inisiatif terlebih dahulu, dialah yang akan memimpin medan perang." ucap Ravel beranggapan kalau menyerang mereka sebelum membuat persiapan adalah hal yang terbaik.


Kemudian Ravel berdiri dan sudah siap untuk memasuki gua itu. Begitu pun semua temannya yang sudah menyiapkan senjata yang di perlukan.


Alf terdiam dengan apa yang mereka katakan. Ia tidak menyangka kalau manusia memiliki kepercayaan diri seperti itu. Manusia memiliki fisik yang lebih lemah dari elf, mereka juga membutuhkan pelatihan mana untuk menggunakan sihir, tetapi Alf merasa lebih rendah dari para manusia yang membantunya.


Kemudian setelah berdiam di sana sekitar 10 menit, Catari turun dari langit bersama kepala desa dan beberapa elf yang ahli menggunakan sihir.


"Kepala desa, para manusia yang membantu kami masuk ke dalam. Kami melacak kalau putri anda ada di sana. Tempat itu adalah tempat persembunyian ras iblis." ucap Alf menjelaskan lalu membawa mereka semua masuk ke dalam gua.


Saat memasuki gua itu, terlihat cukup dalam karena sangat gelap. Ketika memasukinya, lama-kelamaan terlihat sebuah cahaya di dalam gua itu. Mereka semua langsung berlaru menuju cahaya di gua itu. Ketika sampai di tempat itu, terlihat lava yang menerangi gua itu.

__ADS_1


Mereka melihat sekeliling terlihat banyak mayat ras iblis yang sekiranya sekitar puluhan. Mereka terkejut dengan semua mayat yang terlihat masih baru itu.


"Siapa yang menyebabkan semua ini?" tanya kepala desa saat melihat semua mayat itu.


Kemudian seorang pemimpin ras iblis iti terlempar dari tempat yang jauh sampai membuat benturan besar dan tanah retak.


"Oh, kalian sudah masuk ke sini? Kami menemukan benerapa sandera di sana, kalian bisa memeriksanya untuk kami? Kami masih ada sedikit urusan dengan sampah kecil ini." ucap Ravel sambil berjalan dengan santainya dan di ikuti semua temannya.


"Biarkan kami mengurus dia, kalian tolong amankan sandera dan membantunya keluar dari gua ini." ucap Ella dengan sopan di antara semua temannya yang terlihat sangat brutal.


"Saatnya penebusan dosa!" ucap Mort mengayunkan sabitnya sambil bejalan mendekati iblis itu.


Ia mengayunkan sabitnya tepat ke leher iblis itu. Kepala ras iblis itu terpotong dengan sangat rapi. Ravel mendekati kepala yang sudah terpotong itu dan menatapnya dengan kesal.


"Sampah yang sangat tidak layak di daur ulang, harus di musnahkan." ucap pelan Ravel lalu menendang kelala yang terpenggal itu ke arah lava yang mengalir di dalam gua.


Mereka meninggalkan gua itu sambil membawa para sandera. Saat berhasil keluar, Ravel menghela napas lega karena berhasil menyelamatkan para sandera wanita yang terlihat memiliki banyak bekas luka yang terlihat akibat di tempelkan besi panas.


"Maaf, aku terlambat! Apa kalian baik-baik saja?" tanya Ravel menanyakan kondisi para sandera dan tanpa sadar meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2