
Muncul sebuah buku hitam dengan rantai kecil panjang dengan percikan darah di setiap lembarannya. Buku itu terlihat sangat tebal dan berat hanya dari melihatnya saja.
“Ravel, apa kau tahu apa buku ini?” tanya Mort ke Ravel.
“Buku sihir? Tidak, kalau buku sihir tidak akan setebal itu meski sihir tingkat tinggi sekali pun. Buku apa itu sebenarnya?” ucap Ravel berpikir namun tak menemukan jawabannya.
“Buku ini di sebut Archive, semua sihir yang pernah aku pelajari dan aku kembangkan ada di dalam ini. Aku hanya perlu menyebut sihir untuk menggunakan buku ini. Misalkan seperti ini, Heavy Rain!” teriak Mort lalu buku itu terbang dan terbuka dengan sendirinya dan mengeluarkan banyak lingkaran sihir secara berkala.
Bulan purnama penuh tertutup awan dan terdengar suara gemuruh di langit. Saat itu juga turun hujan yang sangat deras dengan tiba-tiba. bintang yang awalnya terlihat dan cuaca yang tak menandakan hujan dapat di ubah dengan semudah itu.
“Memanggil hujan? Apa ada sihir seperti ini?” tanya Ravel terdiam melihatnya.
__ADS_1
“Caraku melakukannya adalah dengan sihir angin. Aku menyusun proses sihirnya di buku ini secara berurutan. Dengan susunan pengaktifan sihir angin yang mampu menggerakkan awan dan mengarahkannya agar menjadi satu. Karena proses itu akan menyulitkan jika di realisasikan secara langsung, buatlah Archive mu dan kembangkan sihirmu sendiri.” ucap Mort menjelaskan cara kerja sihirnya.
“Sihir angin? Jadi ia menyatukan awan untuk menciptakan hujan, kalau bisa merealisasikan suatu dengan tepat, maka akan meningkatkan sihir atau dapat menciptakan efek lainnya.” jawab Ravel mencoba memahaminya.
Kemudian mereka menyelesaikan pembicaraannya untuk saat ini, karena Ravel sudah terlalu lelah untuk mendengarkan lebih lanjut. Ravel pun tertidur dengan pulasnya dalam seketika. Karena terlalu lelah dan tidur yang sangat nyenyak, ia sampai memimpikan kehidupannya di dunia asalnya. Hari di mana ia berkunjung ke sebuah tempat pembuatan senjata api.
Ia pun kembali teringat dengan semua cara pembuatannya. Pagi hari tiba dan Ravel bangun dari tidurnya. Ia langsung menyiapkan diri dengan cepat dan ingin mencoba melakukan percobaan untuk membuat senjata baru. Setelah sarapan, Ravel pergi ke area bekas penambangan untuk mencari bahan mentah senjata.
Muncul chimera, seekor harimau dengan buntut ular yang bergerak dengan kesadaran sendiri. Monster itu langsung menyerang Ravel dengan cepat. Pergerakannya sangat cepat dan setiap serangannya juga sangat kuat. Indra pendengarannya melebihi monster iblis lainnya dan berada di tingkat atas dalam tingginya refleks.
Note: Chimera adalah campuran dari spesies yang berbeda dalam satu wujud.
__ADS_1
“Ravel, jika berhasil mengalahkannya maka ada kemungkinan terdapat batu iblis di dalam tubuh monster ini.” ucap Mort melakukan perwujudan dan hanya menonton pertarungan itu.
“Batu iblis? Di dalam buku itu merupakan batu yang cukup sulit di dapatkan, apa bisa di dapatkan semudah itu?” tanya Ravel merasa Mort terlalu menggampangkan.
”Aku bicara bukan berarti tanpa sebab dan berpikir dahulu.” ucap Mort merasa kalau Ravel mengiranya sedang bercanda.
“Baiklah, yang penting beresi makhluk ini dulu, Shadow Bind!” teriak Ravel melemparkan pisaunya ke bayangan monster iblis itu dan tak bisa bergerak setelahnya.
“Hoo, pilihan sihir yang bagus. Dengan ini bisa langsung mengambil batu iblis di dalam tubuhnya.” ucap Mort lalu menggunakan sihir untuk merasakan letak batu iblis di dalam tubuh monster iblis itu.
“Gawat, sepertinya Chimera ini bukan yang terbesar. Aku merasakan ada aura iblis yang mendekat kemari.” ucap Mort yang sedang memeriksa letak batu iblis dan menyadari sesuatu.
__ADS_1