
Kemudian mereka pergi meninggalkan sekolah. Mereka menuju tempat bersembunyi Fanya sebelumnya. Mereka berniat mengumpulkan kekuatan sebelum melakukan pertandingan itu. Ravel menggunakan sihir teleportasi untuk menuju ke sekolahnya. Ia menuju ke teman-temannya yang sedang latihan.
"Eh? Portal itu, Ravel datang ke sin." ucap Nia ketika menyadari ada pintu teleportasi Ravel di ujung lapangan sekolah.
"Yo, bagaimana kabar kalian?" tanya Ravel ke semua yang ada di sana.
"Apa urusan mu di sana sudah selesai?" tanya Dion ke Ravel.
"Sebenarnya kami sedang membantu kepala sekolah di sana untuk menyelesaikan masalah. 3 hari lagi, kami akan bertanding dengan semua murid dan huru yang ada di sana." jawab Ravel dengan memaksa wajahnya tertawa.
"Hah?" teriak semua orang terkejut dengan apa yang di lakukan Ravel.
"Apa kau serius? Kekuatan mereka mungkin bukanlah masalah, tapi jumlah murid di sana banyak loh." ucap Kak Remon langsung menyela pembicaraan.
"Karena itu aku datang ke sini. Apa kalian mau ikut dengan ku membuat keributan di sana?" tanya Ravel tersenyum lalu Mort dan yang lainnya juga keluar dari pintu teleportasi Ravel.
Mereka semua berkumpul termasuk Fanya yang langsung membuat semuanya bersikap waspada.
__ADS_1
"Kalian jahat sekali, perkenalkan namanya Fanya." ucap Ravel memperkenalkan Fanya.
"Nama ku Fanya, senang bertemu kalian." sambung Fanya memperkenalkan diri.
"Ravel, dia ras iblis bukan? Mengapa bisa begitu beda sifatnya dengan para ras iblis lainnya? Ngomong-ngomong nama ku Nia, senang juga berkenalan dengan mu." respon Nia lalu memperkenalkan diri dan meraih tangan Fanya.
"Aku Dion, mereka semua juga teman kami. Ini Ariel, Adrea, Kak Remon, Kak Nia, dan juga ada beberapa orang yang sedang keluar." ucap Dion memperkenalkan diri juga memberitahu semua nama orang yang ada di sana.
"Hei, ku dengar ras iblis bisa menyerap mana tanpa henti dari alam. Apa itu benar?" tanya Ariel merasa tertarik.
"Benar, karena ada batu katalis yang biasa di gunakan manusia untuk menggunakan sihir di dalam tubuh kami." jawab Fanya malu-malu karena tidak biasa dengan lingkungan itu.
"Tidak, sebenarnya aku payah dalam sihir dan hanya bisa menggunakan mana untuk peningkatan fisik saja." jawab Fanya sedikit merasa tidak enak karena menghancurkan ekspetasi mereka.
"Bukankah itu tetap hebat? Dia pasti akan menjadi rekan latihan yang sangat cocok dengan Kak Azzack." ucap Nia teringat kemampuan Kak Azzack.
"Benar juga, mereka sama-sama pengguna sihir peningkat fisik." sambung Dion setuju dengan pendapat Nia.
__ADS_1
"Mereka orang yang baik, bukan?" bisik Ravel ke Fanya yang mengira kalau dia hanya akan membuat semua orang takut.
"Ya, sekumpulan orang yang sangat baik." jawab Fanya balik membisik ke Ravel dengan tersenyum.
Kemudian Kak Walles, Kak Azzack, serta Intelligent, masuk ke dalam ruangan dan lumayan terkejut karena ramainya ruangan tersebut. Mereka juga terkejut kalau di sana ada Ravel dan ras iblis yang bersamanya.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul aku akan menjelaskan kedatangan ku kemari." ucap Ravel lalu semua orang duduk dan mendengarkan penjelasan Ravel.
Ketika semua sudah siap mendengar penjelasan, Ravek teringat seseorang yang bisa ia minta tolong juga.
"Ah, aku baru ingat. Tunggu di sini, aku akan mengajak satu orang lagi." ucap Ravel lalu pergi ke desa elf untuk meminta bantuan Nina untuk ikut serta dalam kekacauan yang di buat Ravel.
"Nina, aku butuh bantuan mu. 3 hari lagi aku akan melakukan permainan yang cukup besar, apa kau ingin ikut serta?" tanya Ravel ke Nina secara langsung yang padahal dia baru tiba du desa elf.
"Tunggu dulu, permaianan? Apa maksudnya?" tanya Nina sempat bingung dengan kedatangan Ravel yang tiba-tiba dan mengajaknya dengan cara tidak masuk akal.
"Aku akan menjelaskannya nanti, apa kau mau ikut?" tanya Ravel sudah menggenggam tangan Nina dan siap berlari menuju pintu teleportasi.
__ADS_1
"Baiklah!" jawab Nina lalu Ravel menariknya menuju ke pintu teleportasi yang ada di bawah.
"Ayah! Ibu! Aku pergi untuk beberapa hari dengan Ravel!" teriak Nina sambil di tarik Ravel ke pintu teleportasinya.