Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Benda Pesanan dan Pesanan Baru


__ADS_3

“Mort, apa ada sihir yang bisa meningkatkan kualitas senjata?” tanya Ravel yang ingin mencoba kemampuan di dunia asalnya.


“Oh? Tumben sekali kau bertanya, apa kau ingin menggunakan senjata?” tanya balik Mort.


“Kau tahu, di dunia lamaku aku juga mempelajari ilmu bela diri. Namun, perbedaannya adalah tak ada sihir di duniaku. Kami biasanya menggunakan senjata yang memiliki berbagai macam bentuk.” jawab Ravel menjelaskan alasannya.


“Sihir yang memperkuat senjata sih banyak, cuma tergantung kau yang ingin menggunakan tipe sihir senjata apa.” ucap Mort bingung memilih sihir yang tepat.


“Aku dulu ahli dalam menggunakan pisau kecil, karena kemampuanku lebih ke kelincahan di bandingkan kekuatan sih.” ucap Ravel memberitahu kelebihannya agar lebih mudah memilih sihirnya.


“Apa yang kau maksud itu seperti pembunuh bayaran yang ada di ingatanmu ini?” tanya Mort sembari mengingat ingatan masa lalu Ravel.


“Ya, tekniknya di gunakan untuk membunuh dengan pasti dalam sekejap. Masalahnya, di sini memiliki sihir yang sangat luar biasa, jadi aku mempunyai beberapa ide untuk menggunakan kemampuanku di dunia lamaku.”


“Tapi, bukankah kau sudah belajar teknik bela diri dari kotak hitam. Apa itu tidak lebih kuat dari teknik di dunia mu?” tanya Mort bingung dengan buku yang ia kasih.


“Jujur saja itu sangat kuat, hanya saja aku tak terbiasa menggunakan teknik seperti itu. Aku lebih sering menggunakan pikiran dan kecepatan untuk melawan orang yang lebih kuat.” ucap Ravel dengan jujur atas perbandingan kekuatan tekniknya.

__ADS_1


“Kalau begitu aku punya ide, beri aku 3 hari untuk merealisasikan ide ini.” Mort mencoba suatu hal.


“Jangan lakukan hal yang aneh ya!” ucap Ravel memperingati.


Kemudian Ravel tertidur setelah mengobrol cukup panjang dengan Mort. Tak terasa pagi pun tiba dengan cepat. Ravel bertujuan mengambil sarung tangan pesanannya untuk latihannya hari ini. Ia bangun lebih pagi dan langsung menuju ke toko pandai besi itu. Sesampainya di sana, dwarf yang ia temui sebelumnya terlihat sedang menempa sebuah pedang.


“Paman Strakeln, apa sarung tanganku sudah jadi?” teriak Ravel sambil berjalan menujunya.


“Oh, kau bocah dari sekolah vitoria waktu itu. Senjata yang kau inginkan itu lumayan menyusahkan juga, untungnya aku cukup ahli.”


“Tentu saja, jika di toko lain mungkin tak bisa membuatnya.”


“Terima kasih paman!” Ravel berterima kasih dan menundukkan kepalanya.


Kemudian dwarf itu mengambil sarung tangannya dan langsung memberikannya. Setelah selesai awalnya Ravel bertujuan untuk langsung pulang dan berlatih di pagi hari. Namun, setelah ingat ia meminta di buatkan senjata lagi. Ia meminta di buatkan beberapa pisau kecil.


“Paman, apa kau bisa menerima pesanan cepat?” tanya Ravel yang membutuhkan pisau cukup banyak dalam waktu singkat.

__ADS_1


“Memangnya kau ingin aku membuat apa? Kalau aku sanggup akan kuselesaikan.” jawab Paman Strakeln.


“Aku membutuhkan 50 pisau kecil dengan bahan dasar logam terkuat yang ada di sini, apa kau bisa membuatnya?”


“Kalau pisau sih gampang, tapi kau membutuhkannya dalam berapa hari?”


“3 hari!”


“Kau gila? Apa kau ingin aku bergadang sepanjang malam untuk membuat pisau mu ini? Belum lagi dalam membuat bagian pegangannya.”


“Kalau pisau tajam tanpa pegangan apa kau bisa membuatnya dalam 3 hari?” tanya Ravel karena sangat butuh dalam 3 hari ini.


“Meski tanpa pegangan mungkin akan menghabiskan waktu 5 hari.”


“Kalau aku membantumu selama 3 hari penuh apa sanggup?” ucapnya karena terlalu membutuhkannya.


“Kalau itu, tergantung kemampuanmu membantuku.”

__ADS_1


__ADS_2