
Vampire merupakan salah satu ras yang memiliki kemampuan memanipulasi mana tanpa kontrak apa pun. Ravel beranggapan kalau kemungkinan vampire ini yang membuka portalnya. Setelah mendengar kalau gadis itu vampire, keempat orang itu langsung melarikan diri ke belakang Ravel.
“Apa yang kau incar? Mengapa kau memasuki perpustakaan inti.” ucap Ravel yang sebenarnya gemetar karena tidak ada sedikit pun kemungkinan untuk menang.
“Hah, hanya bocah kecil tapi bisa mengetahui penyamaranku.” ucap vampire itu lalu kembali ke wujud sebenarnya.
“Katakan saja apa yang kau butuh kan? Aku juga tidak mungkin menang melawanmu.”
“Aku membutuhkan buku sihir es darah. Kalau kau bisa mencarikannya untukku mungkin aku akan membiarkan kalian hidup.”
“Baiklah, aku akan mencarinya untukmu.”
Kemudian Ravel mencari bukunya dan berhasil menemukannya. Ia menggunakan sihir ilusi agar buku biasa menjadi terlihat seperti buku yang ia cari. Karena sudah mengetahui bentuknya jadi, dia bisa menirunya dengan sihir ilusi. Namun, vampire itu mengetahui kalau ada sihir yang sedang di gunakan oleh Ravel.
“Sebaiknya hentikan itu, takutnya aku akan membunuh orang-orang ini.” teriak vampire itu mengancamnya.
Kemudian ia menggunakan kekuatan Ella yang merupakan kekuatan alam juga. Lalu merubah buku itu lagi. Setelah selesai, ia menuju ke vampire itu dan memberikan bukunya.
“Bagus, aku akan pergi dari sini. Tapi . . .” ucap vampire itu lalu mencekik leher Ravel dan melemparnya.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan? Bukankah kau sudah janji?” ucap salah satu murid yang di selamatkan Ravel.
“Apa ada yang masih ingin mati?” ucap vampire itu membungkam mulut mereka semua.
Kemudian vampire itu pergi meninggalkan mereka. Mereka langsung menuju Ravel dan melihat keadaannya. Tiba-tiba saat mereka mendekat Ravel kembali bangun.
“Aduh, sakit sekali lemparannya itu. Ku pikir aku mati.” ucap Ravel terbangun dengan darah menetes di kepalanya.
“Kau tidak apa?” ucap salah satu murid.
“Kalian pergilah ke lapangan secepatnya dan bilang semua sudah aman.”
Kemudian mereka pergi ke lapangan dan memberitahu kalau semua sudah aman. Lalu, mereka memberitahu kalau Ravel terluka parah di perpustakaan inti. Kepala sekolah mengirim bantuan untuk menjemput Ravel di perpustakaan inti. Ketika di sepanjang jalan tidak ada hewan gaib satu pun yang masih hidup.
Kemudian Ravel di bawa ke ruang UKS. Ia pingsan selama seminggu penuh. Lukanya pun sudah hampir seluruhnya sembuh. Sementara teman-temannya selalu menunggu Ravel sadar kembali. Setelah lama pingsan akhirnya Ravel kembali sadar. Semua temannya merasa lega karena tidak terjadi hal buruk.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Ariel.
“Aku minta tolong, panggil kepala sekolah kemari.” ucap Ravel dengan serius.
__ADS_1
Kemudian kepala sekolah datang menemuinya. Semua temannya diperintahkan untuk menunggu di luar ketika pembicaraan Ravel dengan kepala sekolah.
“Kepala sekolah Gregory, kejadian itu direncanakan oleh ras vampire. Mereka mengejar sebuah buku sihir es darah.”
“Apa mereka mendapatkannya?”
“Tidak, aku menipunya. Inilah balasan dari tipuanku, benar-benar setimpal bukan.”
“Kau sungguh berani, masalah ini biar aku yang mengurusnya. Terima kasih.”
“Tenang saja, aku hanya kesal dengan vampire itu jadi aku menipunya.”
Kepala sekolah yang mendengarnya hanya tersenyum. Kemudian ia membiarkan Ravel beristirahat. Ravel pun berpikir kalau ia harus lebih kuat lagi agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.
“Baiklah, aku akan menjadi lebih kuat. Sampai tidak terkalahkan oleh siapa pun!” ucap Ravel membulatkan tekadnya.
Note: Baca Sampai Akhir!
Hai, pembacaku sekalian! Terima kasih untuk yang terus ikutin update novel ini sampai sini. Pada akhirnya novel ini tamat di sini. Tapi, buat pembaca setiaku sekalian jangan khawatir. Karena ceritanya akan berlanjut di S2 Oke! Jadi, baca terus ceritaku ya!
__ADS_1
Salam dari Author kalian, terimakasih atas dukungan dan supportnya.