Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Makan Bersama Keluarga Kecil


__ADS_3

Hari ini sangatlah melelahkan bagi Ravel. Padahal hari masih siang tapi ia sudah kehilangan seluruh tenaganya. Karena terlalu lelah ia menghabiskan hari untuk tidur dan mengistirahatkan diri. Karena hari libur sekolah pun ia juga tak tahu apa yang ingin dia lakukan, jadi dia hanya beristirahat sampai jam makan malam dan melewatkan makan siang.


Hari mulai menggelap, dan matahari mulai tenggelam. Ravel yang tertidur bagai orang tak bernyawa sangat pulas dan terlihat tak dapat di ganggu. Nia datang ke kamarnya untuk mengajaknya makan malam besar menyambut kepulangan Kak Nata. Setelah bangun ia membasuh wajahnya terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa kantuknya yang tersisa.


“Oh, Ravel apa kabar?” tanya Kak Nata yang duduk di meja makan bersama dengan Dion menunggunya.


“Hai Kak, aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?” jawab Ravel dan menanyakan balik kabar Kak Nata.


“Aku sih baik saja, tapi kau bilang baik-baik saja apa sungguh? Bukankah kau sudah melakukan beberapa hal hebat tapi juga bodoh di sekolah? Dan juga tidak satu kali saja.” Tanya Kak Nata mencoba menyudutkannya dengan kejadian-kejadian yang dialaminya di sekolah.


“Itu hanya hal kecil, jadi aku tak terluka sama sekali kok.” jawabnya tak ingin membuat khawatir Kak Nata.

__ADS_1


“Tak usah di sembunyikan, kau tak sadar sampai berapa hari? Dan setelah sadar malah mencari masalah dengan penyihir kerajaan, kau pikir aku tak tahu semua hal itu?” ucap Kak Nata memarahinya karena terlalu gegabah mengambil keputusan.


“Ya, aku pikir kau tidak tahu.” jawab Ravel apa adanya dengan senyuman.


“Sudahlah, yang penting syukur tidak ada hal yang tak di inginkan. Sekarang waktunya makan jadi tak usah banyak bertengkar.” ucap Dion sambil mengunyah makanan.


“Hei, kau sendiri jangan makan sambil berbicara!” teriak Nia memarahi Dion.


“Oh iya, apa kau membuat banyak porsi? Ella baru makan tadi pagi saja, mungkin.”


“Bukan begitu, sepanjang siang ini aku tertidur pulas jadi tak tahu apa dia sudah makan apa belum.”

__ADS_1


Kemudian Ella melakukan perwujudan di belakang Ravel. Ravel pun langsung menyuruhnya makan bersama yang lain. Bahkan, ia juga menyarankan untuk mengajak semuanya agar lebih ramai. Kemudian Aine dan Lynne pun juga melakukan perwujudan dan makan bersama kami. Tak lama Ravel terpikir suatu hal.


“Makan bersama seperti ini, mengingatkanku pada saat masih di panti asuhan.” ucap Ravel bergumam sendiri.


“Kau benar juga, sudah cukup lama kita meninggalkan panti asuhan.” ucap Kak Nata merespon gumaman Ravel.


“Yah, meski sebenarnya masih ada orang yang ingin ku ajak makan bersama kita.”


“Ravel, apa maksudmu dia?” tanya Nia dengan pertanyaan yang tertuju kalau ia mengira itu Mort.


“Ya, tali tenang saja. Aku pastikan kalau Kak Nata tidak menyadarinya.” ucap Ravel membisik ke Nia.

__ADS_1


Kemudian Mort turun dari lantai atas berjalan dan menyembunyikan hawa membunuhnya layaknya seorang manusia pada umumnya. Ravel memperkenalkannya sebagai temannya yang akan menginap untuk malam ini. Ia menceritakan ia berkenalan dengan Mort saat sedang di toko pandai besi.


Tanpa sungkan Kak Nata pun mengajaknya makan bersama. Karena Mort hidup abadi, ia mungkin sudah berusia ratusan tahun. Namun, penampilannya masihlah sama seperti orang seusia Kak Nata. Jadi, Ravel memanggilnya dengan sebutan Kak Mot. Karena Kak Nata orang yang penerima, ia tidak menanyakan hal apa pun tentang Mort yang bisa memojokkan Ravel akan pertanyaan.


__ADS_2