
Masih ada 3 jam sebelum mereka masuk sekolah. Pertama, dia membangunkan Nia dan Dion dan memberitahu kalau Kak Nata ada urusan dan harus membuat sarapan sendiri. Kemudian mereka pergi ke ruang makan.
“Siapa yang akan memasak?” tanya Ravel dengan wajah sedikit mengantuk.
“Aku tidak bisa memasak, Bagaimana kalau kita beli makan di luar?” jawab Dion dan mengusulkan pendapat.
“Bodoh, memangnya kau punya banyak uang? Biar aku saja yang memasak.” ucap Nia dengan percaya dirinya.
Kemudian Ravel dan Dion tertegun karena mengingat saat masih di panti asuhan. Ketika mereka berlatih lari di pagi hari. Saat itu sedang hujan dan Nia tidak ikut berlatih. Setelah Ravel dan Dion menyelesaikan latihannya, Nia berada di dapur memasak untuk mereka berdua. Setelah mandi Ravel dan Dion pun memakan makanan yang di buat Nia untuk mereka.
Kemudian setelah memakan makanan itu mereka berdua tidak keluar kamar selama 3 hari. Ketika Kak Nata menyadarinya ia mencoba melihat keadaan Ravel dan Dion. Mereka berdua tergeletak di lantai memegang perut. Sehingga Kak Nata memanggil dokter untuk mengobati mereka. Setelah di periksa kata dokter mereka keracunan makanan. Semenjak hari itu mereka tidak pernah makan makanan buatan Nia lagi.
Setelah mengingat hal itu mereka berdua langsung membuat alasan agar dapat menghindari makanan buatan Nia.
“Sepertinya hari ini aku tidak terlalu lapar, aku akan menyiapkan diri untuk sekolah dulu.” ucap Ravel mencoba melarikan diri menuju kamarnya.
“Aku juga tidak terlalu lapar, mungkin nanti saja saat makan siang di sekolah.” ucap Dion beralasan agar Nia tidak membuat makanan untuk mereka.
Kemudian mereka berdua menuju ke kamar masing-masing. Baru saja berbalik badan “Kruuuuuk”(Suara perut kelaparan.). Kemudian Nia menghentikan mereka berdua.
“Tunggu dulu, kalian bilang tidak lapar lalu suara apa itu?” tanya Nia menginterogasi mereka.
__ADS_1
Kemudian Lynne, Aine, dan Ella melakukan perwujudan.
“Ada apa sih? Pagi-pagi begini ribut sekali. Ganggu tidurku saja.” ucap Ella yang baru saja bangun tidur.
“Hei, kalian bertiga apa ada yang bisa memasak?” tanya Ravel ke mereka bertiga.
“Memangnya ada apa? Bukankah biasanya kalian disiapkan makanan oleh kakak cantik?” tanya balik Aine.
“Kakak cantik? Siapa itu?” tanya Dion merasa bingung dengan nama panggilan itu.
“Aku bisa memasak, memangnya ada apa?” ucap Lynne dengan wajah datarnya.
“Ya, aku mengerti maksudmu.” ucap Dion seadanya.
“Kami minta tolong, Lynne bisakah kamu membuatkan makanan untuk sarapan kami?” tanya Ravel dan Dion yang bersujud memohon.
Kemudian setelah banyak hal yang terjadi keadaan sudah mereda. Lynne membuat sarapan untuk mereka, Nia cemberut karena tidak bisa memasak. Kemudian Ravel dan Dion meminta maaf karena telah membuatnya bersedih. Kemudian mereka menyantap sarapan bersama, termasuk Ella dan yang lainnya.
“Maaf, bukannya kami ingin menyinggungmu tadi.” ucap Ravel meminta maaf ke Nia
“Aku juga minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih.” ucap Dion juga meminta maaf pada Nia.
__ADS_1
“Ya aku tahu, aku memang tidak memiliki bakat memasak.” jawab Nia yang cemberut.
“Kalau kau mau memasak, aku bisa mengajarimu.” ucap Lynne mencoba menghibur Nia.
“Benarkah? Kalau begitu saat ada waktu luang aku ingin kau mengajariku secepatnya.” jawab Nia dengan semangat.
“Ya, aku akan membantumu.”
“Apa aku juga boleh ikut belajar memasak?” tanya Ella dengan sedikit malu.
“Tentu saja bisa.” jawab Lynne dengan senyuman.
“Nia, tadi kau bilang tidak memiliki bakat memasak. Kau tidak boleh mengatakan itu, karena kau sangat berbakat.” ucap Ravel menggurui Nia.
“Kalau begitu kenapa kau tidak mau makanan buatanku?” tanya Nia untuk memojokkan Ravel.
“Maksudku makananmu itu memiliki bakat tertentu, dan karena bakat itu aku tidak bisa memakannya.”
“Memangnya bakat apa yang ada dalam masakanku?” tanya Nia yang tidak mengharapkan pujian apa pun.
"Membunuh orang dengan racun" ucap Ravel lalu di pukuli oleh Nia.
__ADS_1