
Setelah latihan hari itu, Ravel di beri jam bebas oleh Kak Walles karena terlalu cepat berkembang. Kak Walles sampai bingung dengan apa yang harus dia ajarkan pada Ravel selama 1 bulan itu. Baru hari ke dua dia sudah menguasai salah satu buku sihir yang di berikan. Jadi, selama Ravel masih mempelajari 2 buku sisanya, Kak Walles berpikir tentang apa yang bisa ia ajarkan ke Ravel.
Setelah 500 anak panah itu, Ravel memulihkan mananya dan beristirahat sebentar. Setelah mananya pulih sepenuhnya, ia menuju ke Kak Walles dan menanyakan beberapa hal mengenai buku sihir yang ia dapatkan darinya.
“Kak Walles! Apa ada waktu sebentar? Ada yang ingin ku tanyakan.” tanya Ravel membawa ketiga buku sihir yang di berikan Kak Walles.
“Ada apa?” tanya Kak Walles menoleh ke Ravel di saat di sedang melamun.
“Sebenarnya aku ingin memberitahu sesuatu tentang salah satu buku sihir yang Kak Walles berikan.”
“Buku sihir yang mana? Apa ada yang tidak kamu mengerti?” tanya Kak Walles.
“Bukan itu, buku sihir putih ini hanya hasil tulis ulang bukan?” tanya balik Ravel mengenai buku sihir tingkat putih.
__ADS_1
“Bagaimana kau tahu? Aku membeli salinan buku sihir ini saat aku menjelajah.” jawab Kak Walles kaget kalau Ravel mengetahui itu.
“Sudah kuduga, ini bukan sihir biasa. Sihir ini memang ada di tingkat putih, namun bukan sihir yang di gunakan untuk memperbanyak anak panah.”
“Apa kamu bilang? Aku tak menyadarinya, bagaimana kamu bisa bilang begitu?” tanya Kak Walles terkejut dan tidak terlalu percaya perkataan Ravel.
“Dulu aku pernah membaca buku kuno yang di dalamnya berisi daftar sihir tingkat tinggi yang sudah hampir tak di ketahui keberadaannya. Sihir ini adalah salah satunya, karena ini adalah sihir penciptaan yang bisa meniru apa yang sudah pernah kita lihat selama kehidupan kita.”
“Apa? Memangnya ada sihir semacam itu?” tanya Kak Walles semakin tak percaya.
Ravel menciptakan 5 pisau kecil di atas tangannya dalam sekejap. Ia membuat Kak Walles terkejut dengan apa yang dia lihat. Ia sungguh tidak percaya kalau perkataan Ravel adalah kebenaran. Ia sangat senang karena buku sihirnya adalah buku langka, di saat yang sama di semakin takut dengan kegeniusan Ravel yang sangat jauh dari perkiraannya.
“Ravel, apa kamu bisa mengajariku isi dari buku sihir ini yang asli?” tanya Kak Walles ingin mempelajari buku sihirnya dari Ravel yang seharusnya ia ajarkan.
__ADS_1
“Tenang saja, bahkan aku sudah membuat salinan dari buku sihir itu dengan pengertian sihir aslinya.” jawab Ravel mengeluarkan buku sihir putih dari dalam gelang penyimpanan dimensinya.
“Benarkah? Terima kasih banyak! Aku berhutang banyak padamu.” ucap Kak Walles memeluknya dan mendekapnya di dadanya.
“Kak! Kau membuatku sesak!” ucapnya tercekik dada Kak Walles yang tak mendengarkan ucapannya sedikit pun.
Lalu Ella melakukan perwujudan untuk menghentikan Kak Walles yang mencekiknya tanpa sadar. Ella terlihat sedikit jengkel pada Ravel karena tak menghindarinya. Ia pun memasang wajah cemberut yang cukup imut di lihat. Kak Walles yang melihatnya hanya tertawa kecil saat melihat Ella cemberut dengan wajah lucunya.
“Syukurlah kau datang Ella! Aku pikir aku akan mati.” ucap Ravel tergeletak di tanah karena hampir pingsan kehabisan napas.
“Bukankah kau menikmatinya?” tanya Ella memalingkan wajahnya.
“Ella? Kenapa kau marah?” tanya Ravel bingung dengan situasinya.
__ADS_1
“Bodoh!” ucap Ella memukul kepala Ravel cukup keras lalu menghentikan perwujudan.