Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Pertemuan Sepasang Dewa


__ADS_3

Di malam yang terlihat akan hujan, Ravel terdiam memandangi langit dari kamarnya. Tak terasa sudah 2 bulan mereka semua melakukan pelatihan. Lalu, hujan turun dengan derasnya. Ravel merasakan sebuah aura kuat yang melaju dengan cepat ke arahnya dari langit. Ia melihat ada sesuatu yang menuju ke arahnya dengan sangat cepat.


Lalu, Mort tiba-tiba melakukan perwujudan dan melompat dari jendela kamar Ravel untuk menangkap sesuatu yang mendekati itu. Ravel pun turun ke bawah untuk melihat keadaannya. Lalu, terlihat Mort sedang menggendong seorang wanita di tengah hujan dengan senyuman kecil yang terlihat di wajahnya.


“Mort, siapa dia?” tanya Ravel menanyakan Mort yang sepertinya mengenal wanita itu.


“Apa kau tak merasa familier dengannya?” tanya Mort menguraikan rambut yang menghalangi sedikit bagian wajah wanita itu.


“Apa itu Ares?” tanya Ravel menyadarinya.


“Ya, benar. Sepertinya dia sengaja kabur ke sini.” ucap Mort melihat Ares terluka di beberapa bagian.


“Apa pun masalahnya, sebaiknya kita ke dalam dulu.” ucap Ravel menyuruh Mort membawa Ares ke dalam terlebih dahulu.


Setelah itu, Ravel menggunakan sihir dasar angin untuk mengeringkan pakaiannya dan Ares. Setelah itu, Ravel membiarkan Ares tidur di tempat tidurnya. Ravel tidur di bawah dengan posisi duduk bersandar di lantai. Tak terasa malam berlalu dengan cepat dan pagi pun menyapa. Ravel yang baru bangun, ia melihat Ares sedang mengobrol dengan Mort.


“Kalian sudah bangun ternyata.” ucap Ravel menyapanya sambil bangun dari duduknya.


“Siapa kamu? Aku tak merasakan kehadirannya sama sekali.” tanya Ares memunculkan pedang dan menodongkannya ke leher Ravel.

__ADS_1


“Hentikan! Dia adalah partnerku, aku membuat kontrak dengannya.” ucap Mort sambil menahan tangan Ares.


“Apa kau gila? Kenapa kau membuat kontrak dengan anak ini?” tanya Ares merasa kalau Mort salah memilih orang.


“Apa aku pernah salah menilai orang?” tanya Mort balik dan membuat Ares terdiam dan menghilangkan pedangnya.


Suasananya sangat canggung bagi Ravel. Ia mencoba memperkenalkan diri untuk meredakan keadaan canggung itu


“Namaku Arravel Dista, selama hampir setahun ini aku menjalin kontrak dengan Mort. Salam kenal.” ucap Ravel mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.


“Invisible Sword!” ucap Ares dalam hati menggunakan sihirnya.


“Sial! Reading!” Ravel menggunakan sihirnya untuk membaca pergerakan serangan sebuah pedang yang tak terlihat.


“Mort! Apa yang kau lihat? Cepat bantu aku!” teriak Ravel menghindari serangan pedang tak terlihat itu tanpa henti.


“Bertahanlah, jika kau mampu bertahan ia akan menerimamu.” teriak balik Mort.


“Serangan ini cepat sekali, Accel!” kecepatan Ravel bertambah cepat.

__ADS_1


“Kalau hanya itu, aku juga bisa. Accel!” serangan pedang itu kembali mengimbangi kecepatannya.


“Double Accel!” teriak Ravel terus meningkatkan kecepatannya.


“Double Accel!” kecepatan pedang itu kembali mengimbanginya.


“Triple Accel!” ucap Ravel terus meningkatkan kecepatannya.


“Triple Accel! Lumayan juga dia bisa menyamai kecepatan tertinggiku." ucap Ares sedikit memujinya.


“Heh, Quadraple Accel!” ucap Ravel dengan senyum kecil.


“Apa? Dia bisa sampai ke kecepatan tertinggi sihir Accel. Sepertinya sudah cukup, Lightning Breath!” ucap Ares menggunakan sihir percepatan level tinggi yang bisa membuat pedangnya secepat kilat untuk satu serangan.


“Sial! Time Rules! Sihir peraturan pertama, Time Stop!” ucap Ravel menghentikan waktu dengan pedang t itu sudah tepat di depan wajahnya.


Ia mengeluarkan salah satu pisau yang ada di penyimpanan dimensinya dan berjalan menuju Ares. Ia menodongkan pisaunya ke leher Ares lalu mengembalikan waktunya seperti semula.


“Time Rules! Sihir peraturan pertama, Normal.” ucapnya lalu waktu kembali berjalan normal.

__ADS_1


Ares terkejut ketika Ravel berada di belakangnya dengan tiba-tiba dan membuatnya jatuh untuk menghindari tangan Ravel. Ia sangat kaget karena bisa selengah itu dan hampir terbunuh.


“Bagaimana? Apa aku salah menilai seseorang?” tanya Mort mengulurkan tangannya ke Ares yang terjatuh.


__ADS_2