
Ravel pun mencoba melakukan sedikit percobaan ke Chimera itu dari jarak jauh. Ravel menggunakan sihir invisible bersamaan dengan sihir existence. Ia tidak terlihat dan menghilangkan hawa keberadaannya. Lalu ia mencoba menikam chimera itu dengan santai menggunakan pisau khusus miliknya.
Saat ia mencoba menyerang, entah mengapa chimera itu memandangnya ketika ia berdiri tepat di depannya. Ravel hanya menatap chimera itu ketika terlihat geram dan terus menatapnya. Namun, sepertinya chimera itu tak bisa menyerangnya. Ia seperti di kendalikan oleh seseorang agar mengikuti perintah dari Remon.
Setelah itu Ravel kembali menyimpan pisaunya. Ia bersila di depan chimera itu dan menyuruh Mort untuk memeriksa aliran mana chimera itu. Karena penasaran juga, Mort pun menggunakan salah satu sihir kecilnya untuk melihat seluruh mana yang ada di sana. Ia melihat sebuah mana yang terhubung panjang seperti rantai ke leher chimera itu.
Ravel pun mencoba mengikuti instruksi Mort untuk mencari dari mana asal sihir pengekang itu. Ketika Ravel mencari asal sihir itu, ia merasa ada seseorang dengan mana yang sangat kuat tak beda jauh dari Remon dari belik sebuah tembok yang ada di reruntuhan itu. Awalnya Ravel berniat untuk menghancurkan tembok itu tanpa basa-basi.
Ia mendengar suara lolongan serigala dari arah tim medis. Ravel pun langsung berlari secepatnya ke sana untuk melihat keadaan. Sesampainya di sana, tim penyerang sudah membantu tim medis sementara tim pertahanan terbagi menjadi dua dan menyokong tim pengintai dan tim penyerang. Di baris belakang ada sekitar 20 serigala liar yang agresif menyerang.
Setelah membantu menyelesaikan serigala liar di barisan belakang, Ravel menuju ke dinding tadi untuk mengecek apa yang ada di sana. Sesampainya di dinding itu, mana yang ia lihat sebelumnya suah menghilang dan tak terlacak sedikit pun di sekitar sana. Ia pun kembali ke tim pengintai dan seperti yang ia duga. Chimera itu sudah tergeletak mati di tengah tim yang beristirahat.
__ADS_1
Ravel mendekati mayat chimera itu. Ia mendekatkan kepalanya ke kepala chimera yang mati itu. Ravel berkata singkat dengan bisikan kecil ke chimera itu.
“Aku akan membantumu melepaskan amarahmu nanti, semoga kau bisa tenang.” ucap pelan Ravel ke chimera yang sudah mati itu.
Kemudian Ravel menuju ke tempat Kak Remon dan menanyakan beberapa hal tentang tujuan ekspedisi kali ini. Karena Remon sepertinya menyembunyikan sesuatu di balik ekspedisi ini dan Ravel pun mencoba mencari tahu secara tidak langsung.
“Kak Remon!” teriak Ravel berlari menujunya.
“Namaku Ravel, ada yang aku ingin tanyakan. Sebenarnya apa tujuan kita melakukan ekspedisi ke reruntuhan neredzahm?” tanya Ravel mencoba membaca ekspresi Kak Remon.
“Bukankah kalian sudah di beritahu? Tujuan kali ini adalah mengecek apa sebab dari hilangnya beberapa orang di reruntuhan neredzahm.” jawab Kak Remon dengan tenang.
__ADS_1
“Berarti penyebabnya adalah chimera ini ya kak? Bukankah ini berarti ekspedisi ini sudah selesai dan berhasil?” tanya Ravel mencoba menekan Kak Remon.
“Belum lagi, karena masih ada kemungkinan kalau di bagian dalam dan bawah tanah reruntuhan neredzahm masih di tinggali monster lainnya.” jawab Kak Remon yang merasa kalau Ravel terlalu penasaran.
“Tapi, bukankah kita sudah mengetahui apa penyebab hilangnya orang di sekitar sini? Bukankah kita lebih baik kembali dan memberitahu kepala sekolah dan menandai area ini sebagai area berbahaya?” tanya Ravel terus-menerus tanpa ampun.
“Dari tadi kau menanyakan hal yang sudah pasti, tetapi selalu menyarankan untuk kembali. Apa kau seorang 0engecut yang takut mati?” tanya Kak Remon yang mulai kesal dengan sekian pertanyaan Ravel.
“Ya, kau benar Kak! Aku seorang pengecut, jadi aku ingin segera pulang dan beristirahat dari tempat berbahaya ini.” jawab Ravel mengatakan dirinya pengecut tetapi dengan wajah memprovokasi.
“Apa anak ini tahu sesuatu tentang tujuanku?” ucap Kak Remon dalam hati mulai panik dan gelisah.
__ADS_1
“Hehehe.” Ravel hanya tertawa melihat wajah Kak Remon yang gelisah.