Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Lomba Kecil dan Masalah Reruntuhan Neredzahm


__ADS_3

Setelah selesai makan mereka bertiga bersiap untuk berangkat ke sekolah. Mereka bertiga melakukan balap lari menuju ke sekolah, tentu saja bukan balap lari biasa. Mereka bebas menggunakan sihir apa pun agar bisa lebih cepat sampai di sekolah. Dalam pertandingan ini Dion memenangkannya, tetapi ia meninggalkan beberapa masalah karena sihirnya.


Ravel dan Nia hanya menggunakan sihir non-elemen dalam lomba ini. Yaitu, sihir penguat fisik yang merupakan salah satu dasar dari ilmu dasar sihir non-elemen. Meskipun roh kontrak memiliki spesialis dalam elemen, tetapi mereka bisa menggunakan semua sihir non-elemen. Kemenangan Dion adalah karena ia menggunakan sihir dasar elemen es.


Karena elemen airnya bisa di manifestasikan menjadi elemen es. Itulah sebabnya kenapa ia meninggalkan masalah. Karena jalur larinya berubah menjadi es.


“Haha, aku menang kali ini!” teriak Dion yang baru saja sampai di gerbang.


“Hei, kau dalam masalah Dion.” ucap Ravel yang kedua sampai di sekolah.


“Masalah? Memangnya apa yang ku perbuat?” tanya Dion yang tidak menyadarinya kesalahannya.


“Hei tunggu aku dong!” ucap Nia yang baru saja sampai.


“Kau membuat jalur lintasanmu menjadi es, lihat itu!” ucap Ravel sambil menunjuk ke arah yang sebelumnya dilewati oleh Dion.


“Astaga, aku lupa tentang esnya. Aku akan mencairkannya dulu.” ucap Dion lalu bersila di sana.

__ADS_1


Kemudian datang banyak air yang mengalir ke Dion. Setelah air itu mengumpul di tengah tangan Dion, ia melepas air itu ke tanah.


“Masalah selesai.”


“Biarpun begitu, nanti saat pulang sekolah kita harus meminta maaf pada pedagang di sepanjang jalan. Pasti es mu sudah menyulitkan orang.” ucap Nia.


“Baiklah, tapi temani aku ya.” respon Dion dengan wajah lesu.


“Ya, aku akan menemanimu. Tumben sekali kau bisa seceroboh itu.” ucap Ravel menyemangatinya dan sedikit mengejeknya.


“Hari ini, aku hanya berlebihan untuk mencoba sihir es ku untuk pertama kalinya.” jawab Dion sambil tertawa kecil.


“Ariel, apa kepala sekolah ada?” tanya Dion yang memanggil Ariel sambil menuju ke arahnya bersama Nia dan Ravel.


“Aku sudah menunggu kalian, ayo ikut aku ke tempat latihan.” ucap Ariel lalu mengajak mereka langsung pergi.


Kemudian mereka bertiga mengikuti Ariel dan Adrea tanpa bertanya. Mereka terhenti di sebuah ruangan yang sangat luas, di dalam sana tidak ada siapa pun. Di dalam ruangan itu terdapat banyak buku dan benda sihir. Terakhir, yang paling menarik adalah ada banyak peninggalan pahlawan kerajaan beserta gambar mereka saat masih sekolah di Sekolah Sihir Vitoria.

__ADS_1


“Tempat apa ini?” tanya Nia.


“Tempat ini adalah perpustakaan sihir.” jawab Ariel dengan singkat.


“Lalu, kenapa kalian membawa kami ke tempat ini?” tanya Dion yang bingung.


“Kepala sekolah menyuruhku untuk membawa kalian ke sini. Kalian di perbolehkan mengambil 1 buku ksatria di sini.” jawab Ariel menjelaskan alasan membawa mereka ke perpustakaan sihir.


“Buku ksatria? Mengapa harus buku ksatria dan bukaan buku sihir?” tanya Ravel yang sedikit tertarik.


“Apa kalian tahu Reruntuhan Neredzahm?” tanya Ariel tiba-tiba serius.


“Aku hanya pernah membacanya di buku. Kalau tidak salah reruntuhan kasat mata yang di penuhi peninggalan raja iblis bukan?” ucap Ravel mencoba menanyakan kalau yang ia ingat tidak salah.


“Ya kau benar. 2 bulan lagi akan di adakan ekspedisi ke tempat itu.”


“Bukankah tempat itu sudah di jamah? Mengapa sekolah kita melakukan ekspedisi ke sana?” tanya Nia.

__ADS_1


“Sekolah kita ke sana bukan untuk mencari harta karun. Sebenarnya tadi malam ada sekumpulan pemburu monster iblis di dekat tempat itu. Dari 5 orang pemburu iblis yang berpengalaman telah habis di bunuh di sana.”


“Apa kau bilang?" respon Ravel terkejut bukan main.


__ADS_2