Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Obrolan di Luar Jalur


__ADS_3

“Coba rasakan ini adik kelasku, Wind Fist!” ucap Kak Azzack lalu memukul Ravel dari jauh dan lengannya mengeluarkan hempasan angin yang kuatnya setara dengan serangannya.


Ravel terpental jauh hingga terguling-guling. Lalu Ravel bangun perlahan dari jatuhnya dan mencoba kembali menghadapi Kak Azzack. Namun, lukanya sudah mencapai batasnya dan hanya bisa menahan kesadaran dari tekadnya saja. Tubuhnya tak bisa di gerakkan sedikit pun. Seketika Kak Azzack jatuh ke posisi duduk dan menghela napas panjang.


“Sial, padahal aku sudah menggunakan sihir pelindung sebelumnya.”


“Yo, adik kelasku! Kau hebat juga bisa membuatku seperti ini.” ucap Kak Azzack duduk di sebelah Ravel yang terkapar tak bisa bergerak.


“Sial! Bagaimana ada serangan sekuat itu hanya menggunakan sihir rendah.” ucap Ravel kesal karena kalah.


“Hahaha, kau sangat menarik perhatianku! Apa kau ingin tahu dari mana asal kekuatanku?” tanya Kak Azzack mencoba menarik perhatian Ravel.


“Kau mau memberitahunya? Dari mana sebenarnya kekuatan itu berasal?” tanya Ravel sedikit penasaran.

__ADS_1


“Tidak akan ku beri tahu bodoh! Kau terlalu sombong pada alumni sekolahmu, dasar payah!” jawab Kak Azzack mengejeknya karena suasana hatinya sedang senang.


“Sialan! Orang ini!” ucap Ravel geram dari dalam hatinya.


“Tidak semua kekuatan di dunia ini harus mempelajarinya dulu baru bisa menggunakannya, apa kau tahu itu, bocah sialan?” jawab Kak Azzack dengan sungguh-sungguh.


“Tanpa kau beri tahu aku sudah tahu, dasar bodoh! Otak otot bodoh! Gorila! Badak! Beruang kutub sialan!” respon Ravel mengejeknya balik saat ada kesempatan.


“Anak ini, lebih menyebalkan dari yang aku kira. Lama-lama aku ingin menginjaknya.” ucap Kak Azzack dalam hati.


“Hei, ke mana kau akan pergi!? Sialan! Tubuhku tak bisa bergerak sama sekali, bagaimana aku bisa keluar? Hei otak otot sialan!” ucap Ravel meneriaki Kak Azzack yang menuju keluar dimensi tempat pelatihan.


“Sampai jumpa besok, bocah sialan!” ucap Kak Azzack melambaikan tangannya mengejek balik Ravel.

__ADS_1


Kemudian Kak Azzack meninggalkan Ravel di dalam dimensi tempat pelatihan sendirian. Ravel menyuruh Mort dan Ella menyembuhkannya saat Kak Azzack pergi. Hari masih siang dan jika dia tak berusaha menyembuhkan diri sendiri, maka dia akan berada di sana sampai malam ketika yang lain menyadari.


Setelah 2 jam memulihkan diri, ia keluar dari dimensi tempat pelatihan dan mencari Kak Azzack untuk membalas perbuatannya. Saat ia masuk ke dalam rumah Kak Remon, ia melihat Kak Azzack yang sedang merasa senang sambil memilih buku sihir. Ia hanya memperhatikannya dari jauh dan mengamati apa yang di lakukan Kak Azzack.


“Apa yang sedang dia lakukan dengan buku sihir sebanyak itu? Existence!” Ravel mengamatinya dari jauh sambil menghilangkan hawa keberadaannya.


“Sudah lama aku tak bertemu orang yang bisa menyerangku sampai seperti tadi, dan juga di lebih muda dariku. Baru dia seorang selain Remon, orang yang lebih muda dariku yang bisa memberikan serangan kepadaku.” ucap Kak Azzack berbicara sendiri dengan senangnya.


“Sudah kuduga kalau Kak Remon sangat kuat.” ucap Ravel dalam hati sambil mengawasi Kak Azzack.


“Aku harus memilihkan buku sihir yang tepat untuk Ravel, tapi sihir level putihku hanya ada dua dan sangat sulit untuk di pelajari. Apa aku beri dia buku sihir yang lain?” ucapnya bergumam sendiri.


“Ku kira kenapa? Ternyata hanya memilihkan buku sihir untuk latihan.” ucapnya dalam hati lalu malas mengawasi dan pergi.

__ADS_1


“Apa aku beri dia buku sihir ungu itu saja ya?” ucap Kak Azzack berbicara sendiri.


“Buku sihir level ungu?” ucap Ravel dalam hati terkejut mendengarnya.


__ADS_2