
Setelah merapikan meja makan dan peralatan makan, Ravel memanggil Nia dan Dion untuk makan malam bersama. Saat di lantai atas bertepatan sekali Nia dan Dion selesai merapikan kamar. Kemudian mereka bertiga pergi meja makan. Di meja, Kak Nata sudah menyiapkan makanan. Karena rasa lapar mereka pun langsung menyantap makan malam dengan lahapnya.
“Kak, bukankah kau akan menjelaskan tentang rumah ini?” tanya Ravel setelah selesai makan.
“Memangnya, apa yang ingin kalian ketahui?” tanya Kak Nata yang lelah karena Ravel dan lainnya sangat penasaran.
“Kan sudah kubilang, bagaimana Kak Nata bisa mempunyai rumah sebagus ini?” tanya Dion mengingatkan pertanyaannya sebelumnya.
“Tentu saja aku membelinya.” jawab Kak Nata.
“Biarpun kakak bilang begitu bagaimana kau mendapat uang untuk membeli rumah ini?” tanya Dion merasa Kak Nata terlalu berbelit-belit.
“Tentu saja pemberian keluargaku. Ayahku dan ibuku tinggal di kota ini, karena mereka harus pindah untuk bekerja, aku yang waktu itu masih sekolah di sekolah vitoria tidak ingin ikut pindah. Jadi, mereka memberikan aku rumah ini.” ucap Kak Nata menjelaskan.
“Apa pekerjaan orang tua Kak Nata?” tanya Dion
“Ibuku adalah penyihir kerajaan, sedangkan ayahku ksatria taring emas kerajaan.” jawabnya merasa akan ada kebisingan.
“Tunggu, bukankah ksatria taring emas adalah prajurit kepercayaan raja?” tanya Nia terkejut.
“Ya benar, karena itu dia harus mengikuti arahan sang raja untuk pindah dari kota ini.” jawabnya dengan wajah lesu karena tepat sekali mereka menjadi berisik.
“Kak, kalau boleh tahu siapa nama ayahmu?” tanya Ravel sambil berpikir.
__ADS_1
“Egil Aurelius, memangnya kenapa?” jawab Kak Nata.
“Kak, bukankah dia terkenal? Mengapa kau baru memberi tahu kami?” tanya Ravel dengan mata yang menusuk tajam ke arah Kak Nata.
“Yah, kalau itu karena aku tidak ingin kalian merasa terganggu oleh status sosial keluargaku.” ucap Kak Nata menjelaskan alasannya.
“Ya, memang Kak Nata sekali.” respon Ravel lalu meminum segelas air.
“Aku sekali? Apanya?” tanya Kak Nata yang bingung.
“Tentu saja, sikap tidak ingin menyulitkan orang lain mu itu.” jawab Ravel memberitahu sifat Kak Nata yang tidak di sadar akan kebiasaannya sendiri.
“Benar juga katamu, aku tidak pernah melihat Kak Nata merepotkan orang lain.” ucap Dion sambil mencoba mengingat.
“Tapi, tetap saja itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan.” ucap Nia yang terkagum atas sifat Kak Nata.
“Sudahlah, intinya kalian sudah tahu kan bagaimana aku memiliki rumah ini bukan?” ucap Kak Nata yang merasa sedikit malu karena terlalu dipuji.
“Kak, ada satu hal yang masih ingin aku tanyakan.” ucap Ravel
“Apa lagi?” tanya Kak Nata mulai lelah.
“Kenapa kakak berada di panti asuhan Lamour?” tanya Ravel merasa kalau sebaiknya berlatih sihir dengan keluarganya.
__ADS_1
“Tempat itu adalah tempat ayah dan ibuku di besarkan. Awalnya mereka hanya anak yatim piatu, hingga mendapat gelar dan diakui sebagai orang berbakat di kerajaan ini.” jawab Kak Nata memberitahu alasannya.
“Apa aku bisa bertemu dengan orang tuamu kak?” tanya Dion penasaran dengan kemampuan kedua orang tua Kak Nata.
“Mungkin tahun depan baru bisa, memangnya kenapa?” jawab Kak Nata memperkirakan kepulangan kedua orang tuanya.
“Tidak, aku hanya mengagumi mereka.” ucap Dion mengungkapkan apa yang dia rasakan.
“Jika ayahku melihat kemampuan kalian, aku yakin dia akan terkejut.” ucap Kak Nata memperkirakan apa yang terjadi jika mereka semua saling bertemu.
“Benarkah? Apa kami sehebat itu?” tanya Ravel merasa kalau itu berlebihan.
“Ya, kalian mungkin tidak menyangka kalau sebenarnya kalian sangat berbakat.” jawab Kak Nata memuji mereka bertiga.
“Oh iya, bukankah kakak alumni sekolah itu? Kenapa kakak tidak melanjutkan ke sekolah sihir lanjutan?” tanya Dion.
“Karena aku tidak membutuhkannya.” jawab Kak Nata.
“Tidak membutuhkan? Kenapa?” tanya Ravel bingung dan menyayangkan kalau tidak dilanjut.
“Setelah lulus aku di latih khusus oleh ibuku, Gracellia Aurelius sang peneliti sihir kerajaan.” jawab Kak Nata yang sangat dekat dengan ibunya di banding ayahnya.
“Jadi begitu, pantas saja kau tidak melanjutkan. Sudah berapa lama kakak mempelajari sihir dari beliau?” tanya Ravel dan memahami alasan Kak Nata tidak melanjutkan ke sekolah sihir lanjutan.
__ADS_1
“Kalau dihitung, sepertinya di antara 4 – 5 bulan.” jawab Kak Nata menghitung waktu berlatihnya.