
Kemudian Ravel mengeluarkan beberapa potion yang di gunakan untuk menyembuhkan luka dan memberikannya ke setiap orang yang terluka. Ada 4 wanita yang di sandera di dalam gua itu termasuk elf dari desa bangsa elf.
"Nina, syukurlah kamu selamat." ucap kepala desa memeluk Nina yang merupakan bangsa elf yang hilang itu.
Kemudian Ravel menyuruh semuanya untuk meminum potion yang ia miliki agar semua luka lebih cepat sembuh. Bukan hanya cepat sembuh, saat mereka meminum potion itu, semua luka langsung tertutup dan tidak meninggalkan bekas sedikit pun. Ravel sendiri pun terkejut dengan efek obat yang di berikan Kak Nata.
Setelah itu, mereka kembali menuju ke kota untuk mengantar semua korban kembali ke tempat asalnya. Para elf itu pun juga ikut pergi ke kota untuk membantu Ravel dan yang lainnya. Karena akan ada keributan jika bangsa elf masuk ke kota tiba-tiba, Ravel menggunakan sihirnya untuk membuat telinga para bangsa elf itu terlihat seperti manusia pada umumnya.
Mereka menuju ke Sekolah Sihir Astilice untuk meminta bantuan kepala sekolah di sana untuk menangani para korban. Ketika sampai di pintu masuk kota, mereka menggunakan sihir teleportasi Ravel untuk menuju lamgsung ke ruangan kepala sekolah.
"Kepala sekolah, aku ingin melaporkan sesuatu." ucap Ravel tiba-tiba muncul dari cahaya ungu yang membuat kepala sekolah terkejut.
__ADS_1
"Ravel, jangan mengejutkanku! Apa yang ingin di laporkan?" tanya kepala sekolah setelah tenang ketika terkejut oleh kedatangan Ravel yang tiba-tiba.
"Mereka adalah korban yang di culik oleh kumpulan ras iblis yang bersembunyi di gua bawah gunung di sekitar hutan. Aku butuh bantuanmu untuk mengantar mereka ke keluarganya." ucap Ravel lalu di belakangnya muncul semua orang yang ikut bersamanya.
"Tunggu dulu, tuan putri aku tunduk hormat kepadamu." ucap kepala sekolah lalu menekuk lutut dan memberi hormat ke salah satu sandera yang di selamatkan Ravel.
"Apa? Tuan putri?" ucap Ravel ikut menekuk lutut untuk menjaga nama baiknya.
Kemudian mereka berdiri dan menyelesaikan permasalahannya. Ravel kembali ke hutan bersama bangsa elf untuk mengantar mereka. Setelah kembali ke hutan, Catari datang menghampiri Ravel dan saling menyentuh kening satu sama lain. Ravel melihat tempat yang di tuju dan menggunakan sihir teleportasinya untuk ke sana.
"Teleport! Ayo, aku akan mengantar kalian kembali." ucap Ravel ke para elf itu.
__ADS_1
Kemudian mereka tiba di desa elf yang berada di tengah hutan setelah melewati sihir Ravel. Ravel terpana dengan rumah yang terbentuk seperti alami di atas pepohonan. Layaknya tempat itu tercipta sendiri dan memang di khususkan untuk para elf. Nina yang telah di selamatkan sejak tadi hanya menatapi Ravel dari jauh.
"Hei, kenapa kau terpana melihat tempat ini?" tanya Nina ke Ravel.
"Tidak ada, hanya saja tempat ini sangat bagus." jawab Ravel apa adanya.
"Bagaimana kau bisa menggunakan sihir tadi? Bukankah sihir itu tidak bisa di gunakan sembarang orang?" tanya Nina tak memalingkan matanya dari wajah Ravel.
"Maaf, bisakah berhenti menatapku seperti itu? Aku merasa sedikit terganggu." ucap Ravel memalingkan wajahnya merasa tidak nyaman.
"Oh, maafkan aku. Karena tertarik dengan manusia tanpa kusadari." ucap Nina memalingkan wajahnya dan meminta maaf.
__ADS_1