Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Terlalu Memaksakan Diri


__ADS_3

Mereka terus berlatih sampai hari menjelang sore. Setelah selesai mereka mandi secara bergiliran dan tidur. Ravel tak pergi ke kamarnya dan menuju ke kamar Kak Walles. Ia meminta 3 buku sihir yang di janjikan oleh Kak Walles bisa di pelajarinya. Setelah mengambil buku sihir, ia membacanya di kamar semalaman suntuk.


Keesokan paginya tiba, Ravel berwajah lemas karena kurang tidur dan masih merasa lelah karena sisa latihan kemarin. Kak Walles memarahinya karena ia sudah menyuruhnya untuk tidur malam itu dan mempelajari bukunya di esok hari.


“Kenapa kamu lesu begitu? Apa kamu mengabaikan apa yang aku katakan tadi malam?” tanya Kak Walles menebak kalau ia bergadang untuk mempelajari buku sihir itu.


“Maaf Kak Walles, aku terlalu bersemangat dan tanpa aku sadari matahari sudah muncul saat ingin tidur.” jawabnya dengan tawa kecil saat memberi alasan.


“Lalu bagaimana dengan latihan hari ini? Apa kau tidak ingin berlatih lagi?” tanya Kak Walles merasa bingung dengan apa yang harus di lakukannya.


“Aku sudah terbiasa dengan panah kemarin, dan saat ini mana ku sangat terkuras untuk uji coba semalam.” jawab Ravel meminta istirahat secara tidak langsung.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan memberikan waktu istirahat padamu selama 3 jam saja. Setelah itu pastikan kamu akan melakukan latihan lagi.” ucap Kak Walles memberikan izin istirahat untuk Ravel.


Kemudian Ella muncul melakukan perwujudan dan memangku kepala Ravel untuk tidur. Kak Walles sedikit terkejut karena Ravel memiliki kontrak dengan peri. Ini juga pertama kalinya ia melihat peri secara langsung. Ia sudah benar-benar di buat terbungkam oleh Ravel. Sudah di pastikan kalau Ravel akan memiliki masa depan yang tak terduga.


“Maaf ya, karena dia begini. Padahal semalam aku sudah menyuruhnya untuk tidur tapi dia tetap membaca buku sihir itu dan mencoba menguasai sampai ke tingkat akhir.” ucap Ella ke Kak Walles meminta maaf mewakili Ravel.


“Tidak apa, aku juga sudah di buat terkejut dengan bakatnya kemarin. Ini bisa di anggap hadiah setelah berhasil melebihi perkiraanku.” ucap Kak Walles merespon perkataan Ella.


“Apa dia memang selalu begitu setiap saat?” tanya Kak Walles ke Ella.


“Kalau tentang sihir, ia selalu seperti ini. Namun, ia mengerti ada waktunya untuk berpikir. Dia selalu mengatakan hal tak penting, dan selalu bercanda dalam melakukan hal. Tapi, di saat dia serius tidak akan ada yang bisa menggapainya.” jawab Ella sambil mengelus rambut hitam Ravel yang tertidur pulas.

__ADS_1


“Kamu benar juga ya, aku saja tidak menyangka sama sekali kalau ia bisa mengenai titik panah sebanyak 200 kali tanpa mengulang sekali pun.” ucap Kak Walles tidak merasa perkataan Ella di lebih-lebihkan.


Kemudian Kak Walles pergi ke dalam rumah untuk menyeduh teh dan membawanya ke tempat latihan. Ia mengobrol panjang dengan Ella sambil menunggu waktu 3 jam istirahat Ravel. Tak terasa mengobrol dengan senangnya, waktu istirahat selesai dan Ravel bangun tepat saat waktu istirahat habis.


“Hoaam, sungguh istirahat yang sangat memuaskan. Aku sudah mengisi manaku sampai penuh sekarang.” ucap Ravel setelah bangun dengan sedikit menguap.


“Manamu penuh? Apa kamu bisa menyerap mana secepat itu?” tanya Kak Walles yang merasa penyerapan mananya sangat cepat.


“Iya, kau bisa lihat sendiri manaku.” jawab Ravel sambil meloncatkan sedikit tubuhnya untuk pemanasan.


“Baiklah, kali ini kau harus melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Perbedaannya, kau harus melepaskan 500 anak panah.”

__ADS_1


__ADS_2