Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Sihir Baru dan Catari


__ADS_3

“Apa maksudmu, sabitmu di buat dengan material yang ada di dalam buku ini? Tapi, bagaimana buku ini bisa jatuh ke dunia ini?” tanya Ravel mengenai buku yang seharusnya ada di dunia dewa.


“Dia merupakan setengah dewa, jadi dia bisa berpindah tanpa ada halangan. Sementara kami para dewa memiliki peraturan tertentu dalam turun ke dunia ini. Namun, peraturan itu tak mengekang para setengah dewa.” jawab Mort menduga kalau Lyudota menetap di dunia ini.


“Apa kita perlu menanyakannya ke paman Strakeln?” tanya Ravel linglung.


“Tak perlu, mungkin dia juga tak tahu siapa itu Lyudota.” jawab Mort mencegah Ravel bertanya karena hanya akan membuang waktu saja.


Kemudian Ravel membaca buku itu sementara Mort mencarikannya buku sihir baru untuk di pelajari. Ella sedang ada di alam bawah sadar dan sedang mencoba sihir dimensinya. Setelah 3 jam berlalu, Mort menemukan buku sihir yang cocok. Ravel pun langsung membawa buku itu dan berlatih di halaman rumah di temani dengan Ella dan Mort.


Buku sihir kali ini berbeda dari biasanya, karena sihir ini bisa melapisi senjata dengan sihir berbagai elemen dan dengan efek dari elemen tersebut yang cukup kuat, namun juga tak merusak senjata yang di gunakan sebagai wadah dari berbagai elemen tersebut. Sihir ini sering di sebut Element controller. Biasanya kata akhir sihirnya adalah elemen yang ingin dikendalikan.


Ravel mempelajari elemen api, air, kayu, tanah, petir, dan cahaya. Ia mempelajarinya dan mempraktikkannya selama hampir 8 jam. Tanpa ia sadari, matahari mulai tenggelam dan hari mulai menggelap. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah karena udaranya mulai mendingin. Saat ke dalam rumah ada Dion, Nia, dan Kak Nata yang sedang terburu-buru memilih pakaian dengan heboh.

__ADS_1


“Kenapa kalian sibuk sekali memilih pakaian? Apa kalian sedang ada janji kencan dengan seseorang?” tanya Ravel dengan heran.


“Memangnya kau tidak akan datang ke sekolah malam ini?” tanya Dion.


“Sekolah? Untuk apa?” tanya balik Ravel yang tak mengerti alasan untuk ke sekolah di malam hari.


“Malam ini akan ada acara pesta dan pemilihan ketua kelompok ekspedisi reruntuhan Neredzahm besok.” ucap Kak Nata sambil berdandan di meja rias.


“Lalu, kenapa kau juga ikut bersiap Kak?” tanya Ravel melihat Kak Nata dengan pandangan aneh.


“Sudahlah, aku tak ada niatan untuk pergi. Malam ini aku akan melatih si naga kecil.” ucap Ravel lalu langsung menuju ke kamarnya untuk bertemu si naga kecil.


Saat ia membuka pintu kamar, dengan cepat naga kecil itu terbang dan menjilati pipi Ravel. Ravel hanya tertawa karena jilatan si naga kecil membuatnya merasa seperti sedang di gelitik. Kemudian Ella dan Mort melakukan perwujudan dan naga itu pun terbang mengelilingi mereka berdua. Ravel pun menangkapnya dan menenangkannya agar tidak terlalu bersemangat.

__ADS_1


“Sepertinya aku harus memberi nama untuknya.” ucap Ravel memegang naga itu sambil duduk di lantai.


“Ah, ide bagus. Apa nama yang cocok ya?” ucap Ella dengan senang karena lucunya si naga kecil dan mencoba memikirkan nama untuknya.


“Zeke! Itu saja.” Jawab Mort.


“Nama macam apa itu? Seleramu jelek sekali Mort.” ucap Ravel mengejek pilihan namanya.


“Kurang ajar kau! Rasakan ini!” jawab Mort kesal lalu mencoba memukul Ravel.


“Hah, tidak kena!” jawab Ravel dengan semakin mengejeknya dan berlarian untuk menghindar.


“Bagaimana kalau Catari?” tanya Ella menyarankan nama.

__ADS_1


Note: Catari memiliki arti Ular/ Naga


“Catari, nama yang bagus.” jawab Ravel berhenti berlari.


__ADS_2