Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Tekanan Dewa Kematian


__ADS_3

Ariel pun bingung, karena Nia dan Dion yang kemampuannya setara dengannya sampai melakukan itu. Padahal Ravel hanya akan memperlihatkan kapasitas mananya.


“Kenapa kalian berusaha sampai seperti itu? Dia kan hanya akan memperlihatkan kapasitas mananya.” tanya Ariel terheran melihatnya.


“Aku sarankan kau menggunakan penghalang sekuat tenagamu, kalau kau masih bisa sadar saja sudah hebat.” jawab Dion.


“Ravel, jangan terlalu berlebihan. Tahanlah sedikit kekuatanmu.” ucap Nia menyuruh Ravel agar tak berlebihan.


“Tanpa kau beritahu pun aku akan melakukannya.” jawab Ravel santainya.


Kemudian Ariel mendengarkan perkataan Dion dan membuat penghalang yang sangat kuat. Dion dan Nia terkejut melihat kekuatan Ariel. Sementara Ravel yang memperhatikan Ariel tersenyum karena sepertinya Ariel mulai mengerti dengan apa yang dimaksud saling percaya.


“Wah, lumayan juga penghalangmu. Sepertinya aku tidak bisa membuat sekuat itu.” ucap Ravel merespon pelindungnya.


“Ravel, jangan menggodanya lagi, mempertahankan sihir penghalang di dua tempat merepotkan tahu!” teriak Nia yang merasa kesulitan.


Kemudian Ravel diam tanpa suara dan hawa keberadaannya pun hilang, tiba-tiba Ravel mengeluarkan tekanan dari kapasitas mananya dalam skala cukup besar. Ariel yang melihatnya terkejut, namun dia masih jauh dari kata pingsan karena dia bisa menahan tekanan Ravel.


“Apa hanya begini? Ini sih bukan apa-apa.” ledek Ariel.

__ADS_1


“Ariel, jujur saja kau lebih kuat dari yang aku bayangkan.” jawab Ravel sambil mendekatinya dengan hawa tekanan yang besar.


“Tentu saja, aku tidak akan kalah darimu!” ucap Ariel mencoba bertahan sekuat tenaganya.


“Baiklah, ada yang ingin aku tanyakan.” ucap Ravel dalam keadaan itu.


“Apa?” ucap Ariel yang sudah kesulitan untuk menahan kapasitas mana Ravel.


“Pernahkah kau melihat dewa kematian?” tanya Ravel menghilangkan kapasitas mananya.


“Tentu saja belum, aku kan belum mati.” jawab Ariel mengambil napas lega.


Ravel mengarahkan tekanannya ke Ariel saja dan meningkatkan mananya, dari yang awalnya hanya terlihat kehitaman yang pekat berubah menjadi sebuah bayangan berjubah hitam membawa sabit besar. Ariel yang melihatnya sangat terkejut dan merasa takut. Saat Ariel hampir pingsan kehabisan mana Ravel menghentikan tekanannya.


“Hei, apa kau tidak apa-apa?” tanya Ravel menangkapnya yang hampir pingsan.


“Tidak apa-apa, hanya sedikit lelah.” jawab Ariel meminta di turunkan Ravel.


“Apa kau bisa berdiri?” tanya Ravel sembari menurunkan Ariel.

__ADS_1


“Ya, aku sanggup. Ravel, siapa kau sebenarnya? Meskipun aku tidak pernah melihat dewa kematian tapi, aku pernah melihat gambarnya saat di kuil dewa kematian. Aura mu sangat mirip dengan sebuah kotak hitam yang ada di sana.”


“Kotak hitam? Apa kotak itu dirantai dan terdapat sebuah gembok di rantainya?”


“Ya, benar. Bagaimana kau bisa tahu? Tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.”


“Tidak, rasanya aku hanya pernah memimpikannya.” jawab Ravel berbohong untuk menutupi hal yang ia alami.


Kemudian Kak Nata tiba di sana dan membawa 3 buah gelang di tangannya. Kak Nata memberikan gelang itu ke Ravel dan kedua temannya. Tidak tahu kenapa gelang itu berubah sesuai warna elemen masing-masing. Gelang Nia berubah menjadi merah dan kuning, Dion berubah menjadi warna biru laut dan putih, sementara milik Ravel berubah menjadi warna-warni.


“Indah sekali, baru pertama kali aku melihat perubahan warna gelang dari kakek sampai seperti ini. Apa elemenmu sebenarnya?” ucap Andrea yang terkagum.


“Kak, apa fungsi dari gelang ini? Apa bisa meningkatkan kemampuan kita?” tanya Ravel tak memahami kegunaan gelang itu.


“Gelang itu penyimpanan dimensi. Kalau kau mempelajari ilmu pembagian dimensi kau bisa menggunakan gelang ini.” jawab Ariel menunjukkan gelangnya.


“Apa itu gelang dimensi?” tanya Ravel dengan polosnya.


“Astaga, apa kau tidak mengetahui hal sekecil ini? Gunanya adalah dapat menyimpan barang sebesar dan sebanyak apa pun di dalam permatanya.” jawab Ariel kecewa dan kehilangan rasa kagum atas kemampuan Ravel.

__ADS_1


__ADS_2