
“Apa kau bisa mempelajari semuanya? Kalau tidak itu hanya akan membuang waktu saja bukan?” ucap Kak Azzack memberitahunya.
“Tak masalah, aku akan berusaha mempelajari semuanya.” jawabnya sambil menumpuk semua buku sihir menjadi satu.
“Kalau begitu latihan hari ini selesai. Kau bebas melakukan apa pun.” ucap Kak Azzack berdiri dari duduknya.
“Tunggu dulu! Aku sudah bilang, aku akan mempelajari semuanya.” ucap Ravel ke Kak Azzack dengan wajah intimidasi karena ia masih kesal dengan apa yang di lakukannya kepada Adrea.
“Apa maksudmu?” tanya Kak Azzack sedikit bingung.
“Se . . . mu . . . a . . . nya!” ucapnya sambil menunjuk buku sihir ungu yang ada di balik baju Kak Azzack.
“Apa dia ingin mempelajari buku sihir level ungu ini? Tapi, kalau dia mempelajari ini mungkin tak akan sempat membacanya, dan belum tentu ia bisa mempelajarinya. Dia hanya akan membuang waktu.” ucap Kak Azzack dalam hatinya.
__ADS_1
“Kau pasti berpikir kalau aku tak akan sempat mempelajarinya dan itu hanya akan membuang waktu bukan?” tanya Ravel ke Kak Azzack.
“Sepertinya kau sadar diri. Memang tak mungkin untuk mempelajari semua buku sihir itu dan buku sihir ungu ini” jawab Kak Azzack sambil mengeluarkan buku sihir ungu yang ada di sakunya.
“Bagaimana kalau begini, aku akan mempelajari semua buku sihir ini dan jika ada waktu sisa setelah aku mempelajarinya, aku ingin kau mengizinkanku untuk mempelajari buku sihir ungu itu, bagaimana?” tanya Ravel membuat taruhan ke Kak Azzack.
“Baiklah, tapi bagaimana kalau kau tak berhasil?” tanya Kak Azzack mengejeknya.
“Baiklah, aku setuju.” jawab Kak Azzack.
Setelah perjanjian itu, Ravel tidak mendapat latihan dari Kak Azzack. Ia di biarkan mempelajari semua buku sihir itu. 5 hari berlalu, Ravel mencari Kak Azzack untuk mengembalikan buku sihirnya. Kak Azzack tertawa saat dia mengembalikan buku itu, karena ia mengira kalau Ravel sudah menyerah.
“Kak Azzack, aku ingin mengembalikan buku sihirmu?” tanya Ravel ke Kak Azzack di dalam tempat latihan.
__ADS_1
“Hahaha, aku kira kau hebat, ternyata hanya begini.” ucapnya menertawakan Ravel.
Kemudian Ravel menggunakan 12 sihir dari buku itu secara bergantian di depan Kak Azzack. Ia terkejut sekali kalau Ravel bisa mempelajari 12 buku sihir hanya dalam 5 hari. Tanpa basa-basi ia menyerahkan buku sihir ungu miliknya ke Ravel lalu, pergi begitu saja. Saat ia akan pergi, ia sempat berkata 1 hal pada Ravel.
“Hari terakhir, kita akan duel lagi nanti!” ucap Kak Azzack.
“Baik!” jawab Ravel teriak agar Kak Azzack mendengarnya.
Lalu Ravel melihat buku sihir itu. Saat ia melihat isinya, Mort melakukan perwujudan untuk melihat buku itu bersama. Buku sihir ini berisi sihir yang merupakan sihir pertahanan. Sihir ini di gunakan dengan cara melapisi orang yang di kenakan mantra ini, sihir itu adalah Impenetrable yang bisa membuat tubuh serasa di lapisi pelindung yang sangat kuat.
Setelah itu, Ravel mempelajari sihir itu dan mendalaminya. Ia menemukan suatu hal mengenai sihir itu. Ia menemukan suatu metode untuk menggunakan sihir itu lebih efektif. Pada awalnya sihir ini adalah sihir yang membutuhkan mana banyak karena akan aktif secara terus menerus melapisi tubuh. Ravel menggunakaan metodenya dengan mengaktifkan sihirnya hanya ketika ia di serang.
Setelah mempelajari itu, ia terus menggunakan sihirnya agar terbiasa dan tak perlu merapalnya lagi. Setelah berlatih membiasakan diri selama 5 hari, ia bisa menggunakan sihir itu hanya dengan sekali menyebut mantra, meskipun ia mengaktifkannya ketika ia di serang saja.
__ADS_1