
Karena Ravel berhenti Mort pun menangkapnya. Lalu Mort berbicara ke Ella dengan suara yang cukup kuat.
“Hakim tolong pengadilannya!” ucap canda kecil Mort ke Ella sambil memegang Ravel dengan kuat agar tak lepas.
“Pengadilan?” tanya Ella bingung dengan perkataan Mort.
“Tersangka Ravel memilih saran nama berdasarkan orang yang di sukainya. Apakah tersangka bersalah dan berhak mendapatkan hukuman?” tanya lagi Mort mencoba melihat reaksi Ella.
“Heh?” tersentak diam Ella dengan wajah memerah.
“Ella, tolong aku! Mort ini genggamannya kuat sekali, sial!” teriak Ravel meminta tolong ke Ella.
Ella tersentak diam setelah mendengar perkataan Mort. Jantungnya tak berhenti berdetak dan terus bertambah cepat setiap menatap Ravel. Lama kelamaan ia kehilangan kesadaran dan pingsan dengan sendirinya. Mereka berdua langsung tersentak balik karena Ella tiba-tiba pingsan dengan sendirinya.
Mort melepaskan genggamannya dan Ravel langsung mengangkat Ella ke tempat tidurnya. Ia langsung bertanya pada Mort apa yang terjadi pada Ella. Karena sangat tiba-tiba dan tanpa ada gejala apa pun. Karena Ravel mengira Ella sakit atau semacamnya.
__ADS_1
“Mort, apa kau tahu Ella kenapa? Aku tak paham karena dia tiba-tiba langsung pingsan begitu saja. Apa dia sakit atau semacamnya?” tanya Ravel ke Mort karena mengkhawatirkan Ella.
“Tenanglah sedikit, dia hanya pingsan karena hal kecil. Sebaiknya kau merawatnya sampai ia sadar.” jawab Mort lalu menghilangkan perwujudan.
Kemudian Ravel langsung menuju lantai bawah dan menyiapkan air hangat untuk mengompres Ella karena suhu tubuhnya sedikit tinggi. Ia merasa sedikit lega karena dari gejalanya ia hanya terkena demam ringan saja. Ia sendiri pun heran kenapa Ella bisa pingsan hanya karena demam kecil yang hampir tidak berpengaruh pada beberapa orang.
Kemudian Ravel bermain bersama Catari sembari mengganti handuk yang di gunakan untuk mengompres Ella. Ravel melatih Catari agar lebih jinak dan mudah di kendalikan agar tidak berada dalam bahaya ketika naga kecil ini ceroboh atau pun terlalu bersemangat. Setelah hampir 1 jam bermain bersama Catari, Ella terbangun dari tempat tidur.
“Dimana aku?” tanya Ella setengah sadar.
“Ravel? Aku kenapa? Apa aku pingsan?” tanya Ella yang tidak mengingat kejadian sebelumnya.
“Tidak, kau hanya ketiduran. Bagaimana perasaanmu sekarang?” ucap Ravel yang tak ingin membuat Ella merasa merepotkannya.
“Entah kenapa, badanku terasa lebih ringan.” ucap Ella lalu berdiri dan handuk kecil di keningnya terjatuh.
__ADS_1
Ella tersadar melihat handuk kecil itu di gunakan untuk menurunkan suhu tubuhnya. Ella langsung melompat ke Ravel dan memeluknya erat. Wajah mereka tak saling melihat karena tetap saja merasakan sedikit malu. Ketika pelukan Ella mulai di lepas Ravel mengelus kepala Ella. Ella hanya menundukkan kepalanya karena malu.
“Lain kali, bilang saja kalau kau tidak enak badan. Sekarang kau bukan lagi roh, tapi peri. Bagi peri tubuh fisik sangat penting jadi jangan sampai sakit ya.” ucap Ravel sambil mengelus kepala Ella secara perlahan dan penuh kasih sayang.
“Lain kali, kamu juga tak perlu menyembunyikan suatu hal padaku. Handuk itu, kamu yang meletakkannya di keningku kan? Apa aku salah?” tanya Ella yang masih menundukkan kepalanya.
“Iya, itu aku!” ucap Ravel lalu spontan menyentuhkan keningnya ke kening Ella.
“Eh? Apa yang kamu lakukan?” ucap Ella kembali memerah.
“Suhunya sudah turun. Tapi, entah kenapa lama kelamaan terasa sedikit hangat.” ucap Ravel merasakan suhu dengan membandingkannya dengan keningnya.
“Tentu saja terasa hangat! Aku kan masih hidup.” jawab Ella lalu melepaskan kening mereka yang saling bersentuhan.
“Aku harap aku tak kehilangan kehangatan itu.” jawab Ravel lalu tersenyum dengan cerianya.
__ADS_1