
“Tentu saja, di sekolah sihir hanya ada buku level putih saja yang paling tinggi. Buku level ungu hanya di berikan oleh kepala sekolah pada orang yang berperan penting untuk kejayaan sekolah. Kapan lagi aku bisa mempelajari sihir level ungu bukan?” ucap Ravel ke Mort mengatakan opininya.
“Apa bagusnya sihir level ungu, ada banyak buku sihir di dunia ini yang levelnya merah namun bisa melebihi level ungu.” ucap Mort memberitahu ke Ravel.
“Apa kau bilang? Apa sungguh ada?” tanya Ravel terkejut mendengarnya.
“Kau pikir buku sihir yang telah kau pelajari tak ada yang lebih hebat dari sihir level ungu? Tentu saja ada, seperti buku sihir perpindahan dimensi dan buku sihir peraturan waktu. Kedua sihir itu jauh di atas level ungu, mungkin setara dengan buku sihir ungu tang berada di tingkat deretan teratas.”
Kemudian Ravel merenungkan sejenak dan berpikir mengenai buku sihir level ungu itu. Lalu, ia pikir ia tak perlu memaksakan untuk mempelajarinya.
“Sihir adalah suatu yang harus di pahami sebelum kita bisa menguasainya. Jika kau mendalami suatu sihir dan menelitinya, maka akan mendapatkan sihir dengan level yang lebih tinggi. Jadi, bukan berarti kau tak perlu mempelajarinya. Jika kau bisa menelitinya dan melihat lebih dalam, maka kau akan menemukan suatu rahasia dalam sihir tingkat tinggi.” ucap Mort berbicara tanpa henti.
__ADS_1
“Sepertinya hari ini kau cukup banyak bicara ya.” ucap Ravel yang cukup jengkel mendengar perkataan Mort meski ada benarnya.
“Bagaimana kalau kau mempelajari sihir level hitam di kotakku?” tanya Mort ke Ravel menawari sihir dewanya.
“Buku sihir level hitam? Lebih tinggi mana dengan level ungu?” tanyanya penasaran.
“Dalam dunia dewa, tak ada yang namanya level. Buku sihir di kelompokkan berdasarkan elemen atau dasarnya. Buku sihir hitam merupakan contoh dari buku sihir kegelapan. Ada pula merah yang menggambarkan elemen api, biru menggambarkan elemen air, coklat menggambarkan elemen tanah, dan lainnya. Untuk mengenali warna buku sihir dewa, ini masih belum waktumu untuk mempelajarinya.” ucap Mort menjelaskan perbedaan buku sihir di dunia dewa dengan yang ada di sana.
“Kalau buku sihir, tentu saja aku mau. Apa pun levelnya aku tak terlalu mempermasalahkannya.” ucap Ravel yang memiliki rasa haus akan ilmu pengetahuan.
“Oke, kalau aku gagal bagaimana?” tanya Ravel.
__ADS_1
“Gagal? Apa kau tak percaya diri pada kemampuanmu? Kalau begitu, sebaiknya batalkan saja taruhan kali ini.” ucap Mort menyemangati Ravel dengan caranya sendiri.
“Baiklah, siapa takut! Apa pun hukumannya saat kalah aku tak akan takut, karena aku pasti akan menang.”
Lalu, Ravel menuju ke tempat Kak Azzack dan duduk di depannya yang sedang melihat-lihat banyaknya buku sihir.
“Bocah sialan, bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Kak Azzack kaget karena seharusnya Ravel tak busa bergerak.
Kemudian Ella melakukan perwujudan di samping Ravel yang duduk di depan Kak Azzack. Ia terkejut melihat seorang peri secara langsung dengan mata kepalanya.
“Sudah mengerti bukan?” tanya Ravel memberitahu alasannya mengapa ia bisa bergerak.
__ADS_1
“Aku paham, kalau begitu cepatlah pilih!” ucap Kak Azzack memberikan semua buku sihir itu yang sekiranya ada 12 buku sihir tanpa buku sihir ungu yang masih di pegang Kak Azzack.
“Aku akan ambil semua.” jawab Ravel merapikan banyaknya buku sihir itu.