
"Aku mendapat laporan dari bawahanku kalau ada ras iblis yang punya kediaman di sekitar sini, tapi apa yang aku temukan? Kenapa seorang manusia bisa terjurumus oleh ras iblis dan menjadi pengikutnya? Aku harus mensucikannya secepatnya." ucap pemimpin pasukan itu yang menggunakan pakaian berbeda dan terlihat memiliki kedudukan yang cukup tinggi.
"Apa yang kau maksud? Apa kau ingin aku menjadi pengikutmu untuk nyawaku?" tanya Ravel merasa ada yang salah dengan orang itu.
"Hahahaha, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Yah, karena aku cukup baik, aku akan mensucikanmu dengan cepat." ucap orang itu menjilat darah yang ada di pedangnya.
"Apa-apaan orang itu? Menjijikan sekali. Aku tidak sabar ingin menebasnya." ucap Ares merinding ketika melihat hal menjijikan itu.
Kemudian Ares maju ke depan dan menantang langsung pemimpin itu. Ia menantang duel antar pemimpin sebagai jalan keluar yang ia rasa cukup menyenangkan dan menghilangkan kebosanannya.
"Namaku Ares, siapa namamu? Pedang ini akan mengingatnya." ucap Ares mengeluarkan pedangnya dari penyimpanan dimensi.
"Hah? Apa lawanku seorang wanita? Namaku Achilles Troy, dengan berat hati menerima tantangan nona Ares." ucapnya lalu mengangkat pedangnya dan menunjuk ke arah Ares.
Kemudian Ares langsung menyerang dengan cepat dan membuat wajah Achilles tergores.
__ADS_1
"Hahaha, cepat, sangat cepat, hahaha, aku jadi ingin, membunuhnya!" ucap Achilles lalu bergerak lebih cepat dan memukul Ares dengan sangat kuat hingga membuatnya memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.
"Ares! Apa kau baik-baik saja?" tanya Ravel terkejut ketika Ares memuntahkan sedikit darah.
"Buat apa panik begitu? Apa kau lupa kalau dia dewa perang yang haus darah?" ucap Mort hanya bersandar di pintu masuk gua sambil memperhatikan pertarungannya.
"Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkannya? Dia mengeluarkan darah loh." ucap Ravel yang panik ketika dewi bisa terluka ketika melawan manusia.
"Apa kau tahu kenapa aku santai begini?" ucap Mort merasa kalau suara Ravel sangat berisik.
"Dia tidak menggunakan sihirnya, sementara si lelaki gila itu menggunakan banyak sihir secara bersamaan." ucap Mort menjelaskan alasan dia tidak khawatir.
"Hah? Apa dia merapal sihir? Aku tidak mendengar apa pun." ucap Ravel bingung.
"Ia menggunakan sihir Indirect Spell! Jika kau pernah menggunakan lingkaran sihirnya, maka bisa menggunakan sihir itu lagi, mau kapan pun dan di mana pun itu. Sihir itu membuatmu bisa merapal sihir tanpa harus mengucapnya." ucap Mort memberitahu mengapa Ravel tak mendengar Achilles menggunakan sihir.
__ADS_1
Kemudian Ares terdiam dan menundukkan kepala. Achilles mengira Ares sudah menyerah dan tidak menduga kalau kemampuannya lebih tinggi dari Ares.
"Hahaha, saatnya memotong sayuran layu ini." ucap Ares tiba-tiba terlihat menyeramkan dengan wajah senang.
"Yah, dia melakukannya. Dia melakukan mode dewanya." ucap Mort dengan santainya.
"Mode dewa? Bukankah terlalu berlebihan untuk melawan seorang manusia?" ucap Ravel merasa kalau terlalu membahayakan nyawa banyak orang.
"Bukan mode dewa itu yang ku maksud, kau akan melihat kemampuannya untuk mengancam dan membuat orang tunduk kepadanya." ucap Mort dengan wajah memelas menjelaskannya.
"Mengancam? Membuat orang tunduk? Apa sebenarnya mode dewa ini?" ucap Ravel dalam hati bertanya pada diri sendiri dalam kebingungan.
Kemudian Ares melancarkan kembali serangannya ke Achilles. Ia menghancurkan pedangnya dengan serangan cepat yang tidak di lihat oleh Achilles. Achilles tidak bisa mengikuti kecepatannya dan kehilangan pandangan ketika Ares tiba-tiba menghancurkan pedangnya.
"Hahaha, sekarang berlututlah kalian semua!" ucap Ares dengan wajah mengancam yang sangat mengerikan.
__ADS_1