
Setelah menyelamatkan naga kecil itu, Ravel memberikan makanan untuk naga kecil itu. Setelah selesai makan, naga itu terlihat sangat jinak dan selalu mengikutinya. Karena termasuk hewan langka, tanpa berat hati Ravel akan merawatnya. Mort memberitahunya kalau kelak naga itu pasti akan membantu jika Ravel mendapat masalah.
Ravel pun melanjutkan latihannya, ia melatih meningkatkan mana di bawah air terjun. Karena dengan derasnya air terjun yang menimpa tubuh akan mempercepat dan memperlancar aliran mana dalam tubuh dan akan lebih cepat dalam memperluas kapasitas mana. Ravel terus berlatih di air terjun itu selama 3 hari tanpa henti, dan Ella dan Mort yang menjaga naga kecil itu.
Setelah 3 hari berlatih tanpa jeda sedikit pun, kapasitas mananya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Memang masih jauh dari kapasitas mana penyihir kerajaan itu namun, ada sebuah trik untuk menahan serangan dengan kapasitas mana yang besar. Sihir dengan mana besar biasanya akan mencakup wilayah serangan yang cukup luas.
Di saat itulah Mort akan memberitahu di mana titik lemah serangan itu dan mampu menahannya. Jika penggunaan sihir mencakup wilayah kecil dengan mana yang besar, hanya perlu menghindarinya. Karena jika serangan terpusat dengan mana penyihir kerajaan itu yang dua kali lipat dari mananya, sudah di pastikan kalau Ravel akan terpental jauh jika mencoba menahannya.
Setelah berhasil meningkatkan kapasitas mana, Ravel mulai mempelajari sihir Accel yang merupakan sihir percepatan untuk menghindari serangannya. Karena Ravel merupakan orang yang cepat dalam berlatih, ia bisa menggunakan sihir itu hanya dengan mempelajarinya selama 2 jam. Waktu yang di tunggu tiba dan waktunya ia menunjukkan diri di mata kerajaan dengan memenangkannya.
Ravel menuju ke sekolah, sesampainya di sana semua teman-temannya sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Setelah sampai ia langsung menuju ke tempat pelatihan di mana ia akan memulai tantangan. Sesampainya di sana banyak murid yang menontonnya dari tempat penonton. Ravel pun sedikit merasa gugup setelah melihat sekitarnya.
__ADS_1
“Entah kenapa aku jadi gugup, tempat ini sudah seperti gladiator saja.” ucapnya dalam hati ke Mort dan Ella.
“Hahaha, tidak usah khawatir pada tantangan kecil seperti ini.” jawab Mort.
“Iya betul, untuk apa berlatih mati-matian tapi malah gugup di saat seperti ini.” jawab Ella.
Note: Gladiator adalah seorang petarung yang bertarung untuk menghibur para penonton di masa Republik Romawi.
“Tuan penyihir kerajaan akan memberikan 3 serangan sihir apa pun, sementara Ravel harus bertahan dari sihir itu dengan cara apa pun, kalian paham?” tanya kepala sekolah.
“Tidak usah terlalu serius kepala sekolah, anak ini juga paling tidak akan bertahan dari 1 mantra sihir.” ucap sang penyihir kerajaan dengan sombongnya.
__ADS_1
“Ya, sepertinya kau benar juga. Tapi, jangan terlalu meremehkan lawanmu, seekor elang yang memangsa ular akan terkena bisa jika tidak benar dalam menangkap mangsa.” ucap Ravel memprovokasinya.
“Haha, ular? Kalau aku elang bukankah kau hanya semut?” ucapnya lalu langsung menuju ke posisi yang di tentukan.
“Sepertinya berhasil ya, rencananya.” ucap Mort ke Ravel dengan pikiran.
“Sepertinya begitu, sebisa mungkin harus memperdayainya.”
“Hahaha, kau sangat hebat dalam mengelabui orang ya, Ravel.” ucap Ella dengan tawa kecil.
“Baiklah, sudah saatnya memberikan racun ular ke elang itu!” ucap Ravel dengan semangat.
__ADS_1
“Ya!” jawab Ella dan Mort bersamaan dengan semangat memuncak.