
Senior yang menantang Ravel merupakan orang yang cukup terkenal ilmu pedangnya. Senior itu pun menggunakan pedang kayu sebagai senjatanya. Sementara Ravel hanya menggunakan tangan kosong.
“Hei, apa kau terlalu malu kalau kalah menggunakan senjata?” ucap Senior mengejek Ravel.
“Apa hanya itu yang ingin kau bilang?” tanya balik Ravel merendahkannya.
“Bocah tengik, jangan terlalu sombong.” ucap senior itu lalu menerjang ke arahnya.
Ia menghunuskan pedangnya ke arah Ravel, namun Ravel yang sudah dalam posisi siap terus menghindari serangan senior itu. Ravel tidak melakukan penyerangan sedikit pun, orang yang melihatnya merasa kalau Ravel semakin terpojokkan oleh serangan anak kelas 3 tersebut. Sebaliknya Nia dan Dion tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, Ravel kau jahat sekali!” teriak Nia ketika menontonnya.
“Hahaha, tunjukkan saja kemampuanmu yang sebenarnya agar cepat berakhir!” teriak Dion setelah Nia.
“Mengapa kalian berdua tertawa? Bukannya mendukung Ravel malah mengatakan hal itu.” tanya Adrea.
“Kepala sekolah! Apa aku di perbolehkan menggunakan sihir non-elemen?” teriak Ravel sambil menghindari serangan lawannya.
__ADS_1
“Kalau masih sihir level merah tidak apa.” jawab kepala sekolah Gregory.
Kemudian Ravel menggunakan sihir level merah non-aktif
“Absorb Mana.” ucap Ravel mengucap sihir.
Absorb mana adalah sihir menyerap mana lawan, karena mana sama dengan tenaga maka lama-kelamaan orang itu akan kehabisan mana dan tergeletak karena lelah. Sayangnya, senior yang menjadi lawannya mengetahui sihir tersebut dan membuat penghalang agar penyerapan mana terganggu dan lama.
“Senior, ternyata kau hebat sekali.” ucap Ravel yang benar-benar kagum.
Senior itu merasa kalau ia sedang di ejek dan langsung menggunakan sihir penguatan dengan seluruh mananya.
“Bahaya, ia menggunakan mana terlalu besar. Sihir itu setara dengan sihir kelas biru.” Ucap kepala sekolah.
Ravel yang akan di serang hanya terdiam menunggu serangan dengan pukulan tangannya, tepat saat pedang kayu itu hampir memukulnya, ia memukul pedang kayu itu dengan teknik bela diri kotak hitam. Kayu itu terbelah 2 meskipun sudah mendapat sihir penguatan hingga termasuk ke level biru.
Semua orang yang melihat hanya terdiam. Senior yang melawannya pingsan kehabisan mana. Kemudian di senyapnya suara penonton, Ella melakukan perwujudan dan menangkap tubuh Ravel yang tiba-tiba terjatuh. Dion dan Ella yang melihatnya pun langsung berlari menuju Ravel yang tergeletak. Sementara orang hampir tak berkedip karena melihat peri di depan mereka langsung.
__ADS_1
“Ella, ada apa dengan Ravel? Apa dia terluka?” tanya Dion panik.
“Ella, kenapa Ravel tiba-tiba pingsan?” ucap Nia dengan wajah yang hampir menangis.
Kemudian saat Nia menangis, Ravel mengejutkannya karena ia hanya berpura-pura pingsan. Ia mengatakan rencana ke Ella dengan hubungan pikiran.
“Wah! Hahaha, aku hanya pura-pura saja.” teriak Ravel mengejutkan Nia dan Dion yang ada di dekatnya.
“Ravel, jangan membuat kami jantungan dong.” ucap Dion sedikit terkejut lalu menghela nafas lega.
“Bodoh! Mati saja sana! Aku sudah mengkhawatirkanmu kau malah pura-pura pingsan!” teriak Nia marah namun sambil menangis.
“Sudah, berhentilah menangis.” ucap Ravel mencoba menenangkan Nia.
“Aku tidak peduli padamu lagi!” ucap Nia lalu memukul Ravel dan pergi.
“Hei, kemana kau akan pergi?” tanya Dion.
__ADS_1
“Toilet.” ucap Nia sambil menghapus air matanya.
Kemudian Ravel kembali pingsan ketika Nia sudah pergi. Ia memaksakan agar terlihat baik-baik saja di depan Nia.