
Kemudian Ravel dan Ariel menuju ke sebuah toko bernama Pandai Besi Strakeln. Ketika sampai di sana mereka langsung masuk ke dalam dan melihat-lihat. Berdasarkan yang di katakan Ariel, toko ini adalah toko termurah yang ada di dekat sekolah. Setelah melihat barang yang di pajang, Ravel merasa kalau orang yang membuat senjata ini sangat bermurah hati.
Karena banyak barang berkualitas bagus yang di jual dengan harga terjangkau. Bahkan dengan uang tabungan Ravel, ia juga bisa membelikan beberapa barang bagus untuk Nia dan Dion. Kemudian mereka menuju ke dwarf yang ada di tempat pembayaran untuk menanyakan apa bisa membuat bahan pesanan untuk saat ini juga.
“Permisi, apa kau pemilik toko ini?” tanya Ravel ke penjaga toko itu.
“Aku adalah pemilik tempat ini, apa ada yang bisa ku bantu?” tanya penjaga toko itu.
“Aku ingin memesan senjata desain ku, apa kau bisa membuatnya?”
“Bagaimana kalau kita masuk ke dalam dan membicarakannya?”
“Baiklah”
Kemudian mereka bertiga masuk ke ruangan di dalam dan membicarakan tentang senjata yang akan di buat. Ravel di berikan selembar kertas dan sebuah pensil untuk menggambarkan senjata apa yang ia inginkan. Ravel menggambar sebuah zirah besi lengan kiri dari ujung jari hingga lengan bagian paling atas, sedangkan lengan kanannya hanya sarung tangan hitam yang di lengkapi katalis.
“Apa kau bisa membuat ini? Aku ingin kau membuat yang ringan namun kuat.”
__ADS_1
“Aku bisa, tapi apa batu yang ada di sarung tangan kanan ini?”
“Ini batu katalis, kalian cukup menyatukannya di tengah sarung tangannya. Bukankah kalian juga membuat tongkat sihir? Pasti bisa kan?”
“Aku sebagai Dwarf akan mencoba memenuhi keinginan pengunjung.”
“Terima kasih paman, kelak kita mungkin akan saling bekerja sama. Namaku Arravel Dista dari Sekolah Sihir Vitoria.”
“Namaku Ulfghar Strakeln. Barangmu besok siang sudah akan kusiapkan, untuk biayanya cukup 1 koin emas dan 4 koin perunggu.”
“Semurah itu, terima kasih paman.”
Kemudian Ravel dan Ariel kembali ke sekolah. Hari ini Ravel memutuskan untuk melatih sedikit ilmu bela diri. Karena meskipun ia mempelajari ilmu bela diri dari kotak hitam tetapi, fondasi dari dalam tubuhnya belum stabil.
“Ariel, tadi kau menyuruh kami mengambil buku ksatria kan?” tanya Ravel basa-basi.
“Ya, memangnya kenapa?”
__ADS_1
“Kalau sudah mengambil buku, dimana tempat berlatihnya?” tanya Ravel yang bingung karena dari tadi tidak melihat orang yang berlatih.
“Ayo, aku akan menunjukkannya padamu, lagi pula aku juga akan latihan seni bela diri.”
“Serius?” tanya Ravel terkejut.
“Memangnya salah kalau aku melakukan ini?” ucap Ariel sedikit kesal.
“Tidak ada apa-apa.” jawab Ravel yang takut terkena sambaran petir lagi.
Kemudian mereka menuju ke sebuah ruangan yang ada di dekat pintu masuk sekolah. Ravel terkejut bukan kepalang karena pintu itu adalah semacam pintu teleportasi. Saat Ariel membuka pintu itu, isi di dalam pintu itu adalah hutan yang di dalamnya banyak murid yang berlatih bela diri. Saat di dalam ia melihat Nia dan Dion yang sedang mempelajari buku yang ia sarankan.
“Hei kalian berdua, apa kalian sudah memahami buku itu?” tanya Ravel ke Dion dan Nia.
“Mereka baru ke sini 3 jam yang lalu, tentu saja belum ‘kan?” cela Ariel yang menganggap pertanyaan Ravel bodoh.
“Kita berdua sudah mengerti isi buku ini, hanya saja ada beberapa bagian yang tidak kumengerti coba lihat ini Ravel.” jawab Nia lalu menunjukkannya ke Ravel.
__ADS_1
“Apa benar Dion?” jawab Ariel yang sangat terkejut lalu menanyakannya ke Dion.
“Seperti yang kau dengar.” jawab Dion dengan senyuman.