
Setelah itu, Ravel melepas semua benang itu. Ia merasa sudah cukup melatih instingnya untuk hari itu. Setiap hari, Ravel selalu melakukan latih tanding dengan Mort agar bisa melatih insting bertahan hidupnya dalam keadaan berbahaya yang nyata. Ia mengumpulkan kembali semua senjatanya yang patah dan menggunakan sihir untuk membuat ulangnya.
"Ravel, tadi sangat luar biasa. Dari mana kamu mempelajari cara bertarung seperti itu?" tanya kepala sekolah yang belum pernah seperti itu ketika melawan murid.
"Teknik tadi? Aku yang menciptakannya. Karena pisau sangat pendek, jadi aku berlatih mengayunkannya dengan benang agar menambah jangkauan senjatanya. Itu juga cukup berguna untuk serangan kejut." ucap Ravel sambil memperbaiki pisaunya satu persatu.
"Kepala Sekolah Gregory memang tidak berlebihan menilaimu. Kau memang benar-benar jenius di antara jenius yang lainnya. Bagi murid jenius di sekolah ini, kau lebih jenius dari mereka." ucap kepala sekolah memujinya lalu mengelus kepalanya.
"Apa kita bisa berlatih tanding sihir sekarang?" tanya Ravel yang sudah selesai menyelesaikan semua pisaunya.
"Tidak lagi, aku akan lelah jika berlatih denganmu dalam waktu lama." jawab kepala sekolah menolak latih tanding sihir.
"Kalau begitu, apa aku boleh ke perpustakaan inti untuk mempelajari sihir?" tanya Ravel ke kepala sekolah.
"Oh, kau ingin mempelajari sihir? Ayo, ikut aku ke perpustakaan inti." ucap kepala sekolah itu lalu mengajaknya ke perpustakaan inti.
__ADS_1
Mereka berjalan bersama menuju ke perpustakaan inti. Di setiap ada murid yang mereka lewati, mereka terlihat sangat terkesan dengan keberadaan Ravel.
"Sepertinya kau populer ya?" ucap kepala sekolah sambil berjalan menuju ke perpustakaan inti.
"Apa maksud kepala sekolah?" tanya Ravel merasa sedang di ejek.
Akhirnya, mereka sampai di perpustakaan inti. Di sana dua kali lebih besar dari perpustakaan di Sekolah Sihir Victoria. Namun, setiap buku sihir di beri sampul agar tidak di ketahui levelnya.
"Kenapa semua buku ini di sampul?" tanya Ravel ke kepala sekolah.
"Untuk menghindari pencurian dan murid memperebutkan buku sihir level tinggi. Kau tahu sendiri kalau murid di sini terlalu memandang tinggi diri mereka sendiri." jawab kepala sekolah tidak suka dengan keadaan muridnya.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya kepala sekolah ke 10 murid itu.
"Ada apa kepala sekolah?" tanya Ravel menuju ke kepala sekolah menanyakan situasi sambil membawa buku sihir sebanyak 10 buku.
__ADS_1
"Ravel? Apa kau tidak salah memilih buku? Maksudku dalam jumlah itu, apa kamu yakin?" ucap kepala sekolah terkejut ketika Ravel membawa banyak buku sihir untuk di pelajari sekaligus.
"Ini hanya 10 buku, apa aku mengambil terlalu banyak?" tanya Ravel yang merasa kalau ia tidak terlalu banyak membawa buku.
"Hanya 10 buku, kau bilang? Apa kau tahu seperti apa usaha mempelajari buku sihir?" ucap salah satu murid itu merasa kesal dengan Ravel.
"Ada apa denganmu? Apa kau datang ke sini untuk mengajak ku berkelahi?" tanya Ravel memprovokasinya karena ia merasa masih kurang latih tanding.
"Kalian berdua hentikan! Kalian semua kembali ke kelas, sekarang!" ucap kepala sekolah terlihat marah ke 10 murid itu.
"Kenapa kepala sekolah menyuruh mereka pergi?" tanya Ravel.
"Tadi kau bertanya murdi yang akan mengikuti latihan nyata perang sihir dunia, bukan? Mereka yang akan ikut serta." ucap kepala sekolah terlihat kesal dengan 10 murid tadi.
"Apa ada masalah?" tanya Ravel ke kepala sekolah.
__ADS_1
"Mereka semua anggota bangsawan kerajaan, jadi mereka hanya mengandalkan pelatihan dengan ramuan dan latihan dari kerajaan mereka. Mereka datang ke sini hanya untuk mengikuti latihan nyata itu. Aku di desak oleh kerajaan untuk membuat mereka ikut serta dalam latihan itu." ucap kepala sekolah menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Apa-apaan kerajaan ini? Aku tidak pernah mencari tahu tentang kerajaan, sebenarnya seperti apa kerajaan ibu kota negara ini?" ucap Ravel dalam hati merasa kalau ada kebusukan di kerajaan.