
Setelah itu Kak Walles teringat satu hal cukup penting di pikirannya. Hal itu mengenai Ravel yang sudah mempelajari buku sihirnya sampai sedalam itu yang berarti sudah di pastikan kalau ia sudah menguasainya.
“Ravel, kamu menulis buku ini kapan?” tanya Kak Walles yang menebak kalau Ravel sudah menguasai sihir ini sepenuhnya.
“Semalam. Aku melakukan beberapa uji coba untuk menyempurnakan buku sihir itu, karena itulah manaku benar-benar sekarat tadi pagi. Untunglah aku menemukan solusi pada buku sihir itu, walau pun bukan salinan asli, pasti cukup berguna bukan?” ucap Ravel menjawab terang-terangan.
“Lalu, sihir jebakan yang aku berikan?” tanya Kak Walles sekali lagi memastikan.
“Oh, buku itu. Aku sudah menguasainya sepenuhnya, karena itu aku ke sini ingin mengembalikan buku sihir ini.” jawab Ravel yang memberikan tekanan pada Kak Walles tanpa ia sadari.
“Ravel! Berapa lama kamu mempelajari buku sihirku?” tanya Kak Walles yang semakin penasaran dengan otak genius Ravel.
__ADS_1
“Untuk dua sihir selain yang putih, saat kamu baru memberikannya aku sudah menguasai buku sihir yang merah saat makan. Lalu, buku sihir yang biru aku cukup kesulitan dan membutuhkan waktu 1 jam, sisanya aku mempelajari buku sihir putih itu sampai pagi dan melakukan cukup banyak uji coba.” jawab Ravel yang membuat Kak Walles sudah tidak menganggap dirinya dan teman yang lainnya adalah seorang genius.
Setelah kejadian itu, situasi sepenuhnya berbalik. Ravel mengajari Kak Walles selama sisa waktu pelatihan bersama dengan Kak Walles. Setelah waktu pelatihan pertama selesai, Kak Walles berterima kasih kepada Ravel karena telah membagi ilmunya juga ke alumni yang sudah di anggap genius oleh beberapa orang.
“Ravel, terima kasih 1 bulan ini. Mulai sekarang kamu adalah adikku, bahkan jika kamu mau aku bisa menjadi kekasihmu.” ucap Kak Walles menggoda Ravel.
“Untuk ucapan terima kasih aku sangat terima, untuk menjadi kekasihmu aku menyerah. Karena aku bisa mati tanpa di ketahui orang lain jika aku menerimanya. Kak Walles tahu sendiri bukan?” ucap Ravel ke Kak Walles menyinggung tentang Ella.
Kak Walles menuju ke para alumni, sementara yang lain kembali ke asrama untuk mandi dan bersiap untuk makan malam.
“Tidak aku sangka, aku hanya mengajari Ravel selama 3 hari dan sisanya aku yang di ajarkannya.” ucap Kak Walles dalam hati saat menuju ke para alumni lainnya.
__ADS_1
Setelah itu para alumni berkumpul untuk menyampaikan pengajaran mereka. Saat penyampaian, semua alumni cukup senang melatih Ravel dan teman-temannya. Karena orang yang layak di latih datang sendirinya pada mereka. Kecuali salah satu dari mereka yang melatih Adrea, yaitu Azzack yang mendapat julukan Wall karena kekuatannya.
Kak Nata memberitahu pada Kak Azzack kalau Adrea merupakan ahli sihir penyembuhan, jadi memang tidak terlalu cocok saat berlatih dengannya. Meskipun begitu, ia merasa kalau Adrea terlalu lemah dalam serangan fisik karena hanya mempelajari sihir pendukung. Itulah sebabnya ia merasa tidak puas akan pelatihan bulan pertama ini.
“Hei Azzack! Jangan terlalu keras pada anak muda seperti mereka. Kau bilang ia tidak terlalu kuat dalam kekuatan fisik? Wajar saja karena dia wanita dan hanya mempelajari sihir pendukung selama ini.” ucap Kak Walles membela Adrea.
“Orang lemah, pada akhirnya akan di cap lemah.” jawab Kak Azzack dengan sombongnya.
“Remon! Biarkan dia berlatih dengan Ravel.” ucap Kak Walles kesal karena sifat bebal Kak Azzack.
“Sepertinya saranmu boleh juga. Baiklah, pelatihan berikutnya Azzack akan melatih Ravel!” ucap Kak Remon menentukan pelatihan berikutnya.
__ADS_1