Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Rencana Pelepasan Segel


__ADS_3

Setelah semua bandit di lumpuhkan, ternyata terdapat 5 orang yang tersisa di belakangnya dan berjalan dengan santainya ladang ranjau tersebut. Mereka melewati ledakan itu tanpa luka apa pun. Saat semua jebakan sudah di aktifkan, Kak Remon dan para temannya maju ke sana untuk melawan langsung sisa bandit.


Dalam hitungan menit, mereka berhasil melumpuhkan bandit itu dengan mudah. Mereka berhasil melewati jebakan tanpa luka karena mereka membawa sebuah artefak. Setelah berhasil menangkap semua bandit itu, mereka membawa semuanya ke penjara kota dan menjelaskan ceritanya secara rinci ke kepala sekolah.


Setelah menyelesaikan urusan di sekolah, mereka kembali ke rumah Kak Remon. Sesampainya di sana, hari sudah malam. Mereka sangat lelah setelah di suruh menceritakan bagaimana mereka menangkap semua bandit itu. Namun, setelah banyak hal akhirnya mereka selesai dengab urusan tersebut.


“Kak Remon, apa kau masih marah padaku?” tanya Ravel ke Kak Remon.


“Maaf, sekarang aku paham dengan kemampuan mereka berdua.” jawab Kak Remon tak busa mengelak dari pertanyaan Ravel.


“Mereka berdua akan terus mengikutiku, apa kau bisa membiarkan mereka juga tinggal?” tanya Ravel mencoba mendapat izin Kak Remon karena saat ini Kak Remon sedang merasa bersalah.


“Aku izinkan, tapi masalahnya sudah tak ada kamar lain lagi.” ucap Kak Remon mengatakan keadaannya apa adanya.

__ADS_1


“Mereka akan tinggal di kamarku, tidak masalah bukan?” ucap Ravel tak mempermasalahkannya.


“Baiklah, kau bisa membawa mereka bersamamu.” ucap kak Remon memberikan izin karena masih merasa bersalah.


Kemudian tak lama Kak Nata selesai memasak dan mereka makan malam bersama seperti biasanya. Setelah selesai makan, Ravel langsung menuju ke kamarnya dengan Mort dan Ares. Mereka mengecek kotak hitam yang tersegel itu dan mencari cara untuk membukanya.


“Bagaimana cara membuka peti ini?” ucap Ares bingung sambil memperhatikan sekeliling kotak itu.


“Tidak, kali ini kita harus mendapatkan kuncinya. Sebelumnya itu karena aku di segel di dalam tubuhmu, karena para dewa membaca takdirmu akan menjadi seorang anak tak berguna yang tak bisa sihir.


“Yah, aku merasa kasihan pada para dewa itu, dan terutama pemilik tubuh ini.” ucap Ravel memalingkan wajah merasa malu kepada dirinya sendiri.


“Kalau begitu, bagaimana cara kita menemukan kuncinya?” tanya Ares bingung di mana tempat kunci dari segel kotak tersebut.

__ADS_1


“Kalau mencari kuncinya, mungkin hanya ada di tangan para dewa. Sepertinya harus mencari cara dengan mempelajari sihir pemecah segel sampai ke tingkat tertinggi baru bisa membukanya.” ucap Mort berpikir tak mungkin kalau ingin merebut kunci dari dewa lainnya.


“Bukankah tak ada yang mencapai tingkat itu sampai saat ini? Di dunia dewa saja hanya bisa mencapai lebih rendah dua tingkat dari sihir tertinggi ini.” respon Ares merasa kalau ide Mort tidak akan bisa di realisasikan.


“Tenang saja, aku memiliki partner yang hebat.” ucap Mort menghentikan ucapan Ares.


“Eh? Aku? Bagaimana aku bisa mempelajari sihir sesulit itu?” ucap Ravel merasa permintaan Mort terlalu berharap kepadanya.


“Tak apa, kau pikir kenapa kami para dewa memiliki sihir yang tak bisa di pakai manusia?” tanya Mort ke Ravel.


“Tentu saja, karena sihir kalian merupakan sihir tingkat tinggi bukan?” jawab Ravel tanpa memikirkan jawabannya.


“Karena kami mempelajari sihir biasa dan membuatnya lebih kuat dengan ide baru dan menggabungkannya.” jawab Mort mengeluarkan buku sihir andalannya.

__ADS_1


__ADS_2