Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Senjata Baru dan Perjalanan Singkat


__ADS_3

Kemudian Ravel masuk ke dalam toko dan memberikan desain yang sudah ia buat. Paman Strakeln bingung dengan gambar Ravel. Lalu menyerahkan bahan mentah langka yang ia dapat.


"Apa ini? Bukankah ini bahan mentah yang sangat langka? Sementara itu, bagaimana desain ini bisa di sebut sebuah senjata?" tanya Paman Strakeln melihat gambar Ravel yang merupakan gambar setiap bagian Sniper Barett M82A1 yang merupakan senjata kesayangannya saat di dunia lamanya.


"Tak apa, Paman buat saja semua itu. Aku akan menyelesaikan bagian akhirnya sendiri." ucap Ravel yang setidaknya hanya perlu di buatkan semua bagian itu lalu ia akan menyusunnya sendiri.


Dua hari berlalu, Ravel membuat peluru dari bahan mentah standar dan di tambahkan serpihan batu peledak sebagai pengganti mesiu. Ia juga membuat Scope untuk membidik dari jarak jauh. Kemudian Ravel menyusun semua bagian senjata itu lalu mencoba menembakkan satu peluru. Karena di belakang toko, terdapat tempat untuk menguji senjata.


"Baiklah, aku akan mencoba menembakkan satu peluru. Bang!" peluru melesat ke arah sebuah patung yang sudah di lengkapi pertahanan sihir level tinggi.

__ADS_1


"Duar!" suara ledakan terdengar dari arah patung itu ketika peluru mengenainya.


Semua tertutup debu dari tembakan itu. Ketika debu mulai menghilang, terlihat jelas secara langsung, kepala patung itu hancur dan tembok di belakangnya pun juga hancur. Karena peluru itu, toko itu sekarang memiliki lubang.


"Terima kasih banyak paman, ini bayarannya di tambah ganti rugi lubang di dindingmu." ucap Ravel berterima kasih lalu pergi dan meninggalkan uang lebih untuk ganti rugi.


"Senjata macam apa itu? Bahkan, sihir kepala sekolah saja tidak akan mudah menembus sihir kelas atas guruku yang ada di patung itu." ucap Paman Strakeln berbicara sendiri saking terkejutnya.


Hari mulai malam, Catari pun mulai lelah untuk terbang. Karena sudah setengah jalan, mereka beristirahat untuk malam itu dan mengisi kembali kekuatan dengan makan dan tidur.

__ADS_1


"Sepertinya mereka sampai ke sana pada malam ini." ucap Ravel memperkirakan keberadaan mereka sekarang dan tidur setelahnya.


Matahari terbit dengan cerahnya, silauan cahaya dari celah rimbunnya pepohonan membuat Ravel terbangun. Setelah sarapan, Ravel kembali meneruskan perjalanannya. Mereka terbang dengan sangat cepat, karena merasa sedikut bosan, Ravel mwnghitung jumlah peluru yang berhasil ia buat.


"33, 34, 35, Hanya segini kah? Sepertinya masih cukup untuk keadaan darurat." ucap Ravel merasa cukup karena ia hanya akan menggunakan senjatanya dalam keadaan darurat saja.


Ia menyiapkan satu amunisi full berisi 5 peluru yang sudah terpasang di dalam senjatanya lalu menyimpannya kembali ke penyimpanan dimensi. Setelah melakukan perjalanan sepanjang hari, pada malam hari mereka tiba di kota. Karena tak ingin membuat kekacauan, Ravel berjalan dari hutan menuju ke gerbang masuk kota.


Baru saja akan masuk, terlihat indahnya kota dari gerbang masuknya saja. Karena terkenalnya sekolah sihir ini, membuat banyak orang untuk pindah ke kota ini dan melakukan bisnis perdagangan karena kotanya tak pernah sepi.

__ADS_1


"Pertama, aku harus mencari penginapan dulu. Besok, barulah aku menuju ke sekolah sihir itu. Tunggu dulu, sekolah sihir terkuat di benua ini berarti bukankah Sekolah Sihir Astillice? Apa mungkin aku bisa bertemu dengan orang yang aku lihat di surat kabar ketika aku masih di panti asuhan?" ucap Ravel dalam hati berbicara pada dirinya sendiri.


Kemudian Ravel menyewa penginapan untuk satu malam saja dan beristirahat di sana agar bisa mencari sekolah itu dengan keadaan penuh tenaga.


__ADS_2