
Kemudian mereka berkumpul di hutan tempat persembunyian. Ravel menjelaskan mengenai alasan dia membuat keributan di sekolah. Ia pun menceritakan keadaan dan alasan mengapa dia membuat kekacauan. Setelah panjang-lebar menjelaskan ke semua temannya, akhirnya ia melanjutkan ke rencananya.
"Jadi, kita akan menghadang langsung mereka semua tanpa sembunyi-sembunyi." ucap Ravel tanpa basa-basi.
"Bagaimana mungkin dengan jumlah semua murid di sekolah di tambah kekuatan para guru dan terutama kepala sekolah." ucap Kak Remon menolak rencana Ravel.
"Bukan begitu, maksudnya adalah kita benar-benar harus membuat perlawanan. Jika kita menang tanpa membuat mereka melihat kemampuan kita, itu hanya akan membuat semua ini sia-sia." ucap Ravel menjelaskan lebih jelas.
"Lalu, bagaimana dengan susunan kelompoknya?" tanya Dion.
"Baiklah, pertama Kak Remon, Kak Azzack, Ariel, dan Ares akan melawan mereka yang menghadang langsung dari depan. Di belakang mereka, pengguna panah akan membantu dari titik ketinggian di sekitar sana dengan posisi berpencar. Untuk serangan jarak menengah ini aku serahkan pada Kak Walles dan Nina." ucap Ravel menjelaskan secara detail susunan kelompok.
__ADS_1
"Di bagian sudut kanan dan kiri bisa menjadi lubang serangan, siapa yang menjaga area ini?" tanya Nia.
"Pertama aku dan Mort akan membuat banyak jebakan di sepanjang jalur kanan dan kiri agar tidak ada serangan. Sebagai penjagaan kalau mereka berhasil melewatinya, Dion jaga bagian kanan dan Nia jaga posisi kiri. Di titik pertahanan akan di jaga oleh Mort sendirian, sementara tim medis ku serahkan pada Kak Nia dan Adrea." jawab Ravel yang sudah memikirkan semua rencana.
"Bagaimana dengan ku?" tanya Fanya.
"Fanya dan Intelligent ikut dengan ku melakukan serangan udara. Mereka tidak akan memiliki banyak serangan udara. Fanya akan langsung melompat di kumpulan orang yang sedang bertempur di garis depan dan kacaukan barisan mereka. Intelligent serang titik pertahanan mereka dengan seluruh mana dan gunakan sihir perluasan terkuat mu." jawab Ravel menjelaskan posisi yang tersisa.
"Ini akan menjadi latihan sebelum menjalani latihan." ucap Nia tersenyum bersemangat.
"Baiklah, yang akan bertarung dalam kelompok sebaiknya berlatih melawan monster iblis di sekitar area ini." ucap Ravel lalu beristirahat.
__ADS_1
Ella muncul untuk membantu Ravel beristirahat dengan tenang. Ia memangku Ravel yang awalnya bersandar ke pohon untuk tidur.
"Ella? Apa kau sudah siap menggunakan kekuatan kita yang sesungguhnya nanti?" tanya Ravel ke Ella sambil memejamkan matanya dan merasakan embusan angin.
"Apa kau yakin? Bukankah ini terlalu berlebihan untuk melawan mereka?" tanya Ella khawatir kalau cara Ravel tidak benar.
"Tenang saja, aku hanya akan menggunakannya untuk melawan kepala sekolah." jawab Ravel lalu tertidur pulas.
Di waktu yang sama, para murid berkumpul untuk bekerja sama untuk melawan Ravel. Kepala sekolah sudah malas ikut campur dan membiarkan semuanya mengalir dan hanya ikut serta saja. Ia juga sudah tidak sabar dengan hal yang akan di lakukan Ravel.
"Aku penasaran dengannya, apa yang akan di lakukannya untuk melawan semua orang ini?" tanya putri.
__ADS_1
"Dia sedang mengumpulkan rekan yang menurutnya bisa di percaya dari sifat atau pun kemampuannya." jawab kepala sekolah asal menebak.
"Aku akan melihat pertandingannya nanti, kau juga ikut, bukan? Semangatlah! Aku juga akan mendukung mu." ucap putri membuat kepala sekolah tak bisa berkata.