Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Bermain Sedikit


__ADS_3

“Apa-apaan dia itu? Berlagak sekali.” ucap murid dari sekolah.


“Padahal dia tidak melakukan apa-apa dari tadi.” ucap murid lainnya.


“Kalau membuat penghalang saja sih, aku juga bisa.” ucap murid lainnya.


“Bodoh sekali dia, padahal hanya berlindung di balik kedua temannya.” ucap murid lainnya.


Kemudian Ravel bersiap di tengah lapangan dan karena sedikit kesal ia menghancurkan penghalang yang ia buat. Karena ia ingin membuat sedikit kehebohan di sekolah ini. Untuk berjaga-jaga ia membuat lingkaran sihir. karena ia akan menggunakan sihir non-aktif untuk pertama kalinya, dan ia hanya mengetahui lingkaran sihirnya.


Note: Sihir non-aktif yang dengan kata lain, sihirnya tidak akan melukai targetnya.


Setelah membuat lingkaran sihir ia memberitahukan ke semua orang untuk membuat penghalang sebagai pelindung diri sendiri. Sedangkan yang ada di lapangan di beritahu untuk berada di belakang Ravel dan agak menjauh.


“Hei, kalian semua! Buatlah pelindung untuk melindungi diri kalian sendiri! Kalau ada yang pingsan jangan salahkan aku!” teriak Ravel ke arah lantai atas sekolah.

__ADS_1


Bukannya membuat penghalang, beberapa murid merasa kesal dan jengkel oleh sikap Ravel. Sebenarnya ia sengaja memprovokasinya karena akan menjadi lebih menyenangkan. Kurang-lebih ada belasan murid yang tidak membuat penghalang dan murid itu pun murid yang suka menindas orang lain.


Ravel tidak sekedar membuat lingkaran sihir setiap garis yang ia buat di taburkan garam. Menandakan lebih mudah menggunakan sihir, karena jalur lingkaran sihir di bantu dengan perbedaan tanah dengan garam. Kemudian Ravel menyentuh tanah dengan telapak tangannya.


“Illusion of Demon, Minotaur Zarka!” ucap Ravel menyebut sihir dan apa ilusi yang akan muncul.


Orang yang memasang pelindung tidak melihat apa pun. Sementara yang tidak membuat penghalang, ada yang pingsan, lari, bahkan pasrah ketakutan. Karena di hantui oleh ilusi Minotaur, yaitu monster berkepala banteng yang besar, biasanya membawa senjata kapak bermata satu yang besar.


Kemudian orang yang melihat anak-anak nakal di sekolah ini ketakutan memberikan tepuk tangan kepada Ravel. Ariel menghampirinya dan kebingungan karena dia tidak melihat apa pun. Ariel pun tanpa basa-basi langsung menanyakannya.


“Ravel, kau menggunakan sihir apa? Sampai murid kuat di sekolah ini pun ketakutan terbirit-birit.” tanya Ariel penasaran.


“Tidak perlu, Ravel aku lupa menanyakan satu hal, apa elemen roh kontrakmu?”


“Ra-ha-si-a.” jawab Ravel membisik ke telinga Ariel.

__ADS_1


Ariel hanya pergi dengan wajah sedikit kesal bersama teman-temannya. Baru saja akan pergi ia ditahan oleh Ravel.


“Tunggu dulu!” ucap Ravel menarik tangannya.


“Apa lagi yang kau inginkan?” tanya Ariel yang semakin kesal.


“Apa kau mengakui kami? Kau belum mengatakannya bukan? Ayo jawab!”


“Aku mengakui mereka berdua, tapi tidak akan pernah mengakuimu, hmmmp.” jawab Ariel lalu pergi.


Kemudian Ravel dan temannya kembali berkumpul dan istirahat sejenak di sana. Sambil mengobrol bersama dan menunggu Kak Nata. Karena Kak Nata bilang kalau kami harus menuruti orang yang ada di depan ruang kepala sekolah, lalu setelah selesai hanya di suruh menunggu Kak Nata menjemput.


“Hei, Dion apa aku salah bicara ya ke Ariel?”


“Kau ini, mau sampai kapan sikapmu seperti itu?” reaksi Dion sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Ya, mau bagaimana lagi memang seperti itulah dia ‘kan?” sambung Nia.


“Ya, benar juga.” jawab Dion.


__ADS_2