Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Sekolah Sihir Astilice


__ADS_3

Pagi pun tiba tanpa di sadari. Karena terlalu lelah untuk perjalanan, Ravel terbangun di siang hari dan baru mulai mencari letak sekolah sihir itu. Ia berjalan menyusuri kota sambil membawa peta dan mengikutibpetunjuknya. Saat sudah hampir sampai, terlihat bangunan sekolah yang sangat besar dari kejauhan.


"Besar sekali, bukankah ini jauh lebih besar dari sekolahku?" ucap Ravel mengagumi sekolah itu.


Tanpa menunggu lama, ia langsung melanjutkan perjalanannya menuju ke sekolah itu. Ketika di tengah jalan, ia melihat sebuah pedagang yang menjual material sihir dan beberapa buku sihir. Ia pun mencoba melihat barang dagangan tersebut untuk mencari sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Paman, apa barang ini masih baru?" tanya Ravel menunjuk ke material monster iblis.


"Benar sekali, kami memperbarui material iblisnya setiap hari." jawab penjual itu.


"Apa ada barang yang bagus ya? Wah, batu katalis sihir ini murni sekali. Paman, aku ingin batu ini!" ucap Ravel membeli batu jatalis sihir untuk melengkapi beberapa hal untuk senjata barunya.


"Harganya 3 koin emas, apa kau sanggup membayarnya?" tanya pedagang itu ke Ravel.


"Bukan masalah, sisanya untukmu!" ucap Ravel memberikan 5 koin emas untuk penjual itu.


"Terima kasih banyak! Lain kali mampirlah lagi, tuan muda!" ucap penjual itu berterima kasih pada Ravel.

__ADS_1


Ia membelinya dengan harga mahal agar kelak pedagang itu berpihak padanya jika dia berebut barang dengan orang lain. Karena mungkin Ravel juga akan cukup lama berada di sekolah itu.


"Hanya 2 koin emas, bukan masalah sebagai permulaan." ucap Ravel dalam hati lalu melanjutkan perjalanannya.


Akhirnya Ravel sampai di depan gerbang sekolah itu. Ia menuju ke ruang kepala sekolah untuk melaporkan kedatangannya. Saat tiba di ruang kepala sekolah, para alumni sedang berada di ruang kepala sekolah dan berdebat. Ravel yang menyadari itu hanya menunggu di luar sampai mereka selesai.


Kemudian para alumni keluar dari ruang kepala sekolah dengan wajah kesal dan marah.


"Ada apa Kak Remon?" tanya Ravel tiba-tiba ketika Kak Remon keluar dari ruang kepala sekolah.


"Ravel! Bagus kau sudah sampai, Nia terluka di ruang UKS, cepat kau pergi ke sana!" ucap Kak Remon memberitahu keadaan Nia.


Setelah berlari ke sekitar sekolah, akhirnya ia menemukan ruang UKS dan mslihat Nia dan yang lainnya sedang mengobrol di dalam.


"Nia! Apa kau baik-baik saja?" ucap Ravel ketika membuka pintu.


"Ravel, kapan kau sampai ke sini?" tanya Dion ke Ravel.

__ADS_1


"Kak Remon bilang Nia terluka, Apa yang terjadi?" tanya Ravel ke Dion.


"Sebenarnya Nia terluka karena serangan tanpa arah. Kami sedang melakukan latihan mengikuti pelajaran sekolah ini, ketika melakukan uji coba menggunakan sihir, salah satu sihir mengarah padanya dan membuatnya terluka." jawab Dion menjelaskan kejadiannya.


"Apa benar hanya kecelakaan?" tanya Ravel dengan serius.


"Kali ini, memang benar-benar kecelakaan. Kaubtak usah khawatirkan hal itu." ucap Nia menjawab kekhawatiran Ravel.


"Syukurlah, aku akan pergi ke ruang kepala sekolah dahulu untuk melapor kedatanganku, Teleport!" ucap Ravel lalu kembali ke depan ruang kepala sekolah.


Kemudian ia memasuki ruang kepala sekolah untuk memperkenalkan diri dan melapor kalau ia juga salah satu murid perpindahan dari Sekolah Sihir Vitoria.


"Selamat siang, namaku Arravel Dista dari panti asuhan Lamour. Aku di sini sebagai murid perpindahan Sekolah Sihir Vitoria. Maaf, atas keterlambatanku. Karena ada beberapa hal yang harus di lakukan." ucap Ravel ke kepala sekolah yang ternyata seorang perempuan.


"Aku kepala sekolah ini, Namaku Momo Dynamite. Senang berkenalan denganmu juga." jawab kepala sekolah menggunakan sihir penggoda.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi." ucap Ravel lalu pergi tanpa terpengaruh sihir penggoda itu.

__ADS_1


"Siapa anak ini? Bahkan, Remon yang merupakan alumni sekolah itu saja harus menahan sekuat tenaganya ketika terkena sihir ini." ucap kepala sekolah terkejut dan merasa tertekan saat Ravel pergi begitu saja dengan mudahnya.


__ADS_2