
"Aku sangat yakin, lihatlah buku ini." ucap Ravel mengeluarkan buku tentang majikan wanita iblis itu dari penyimpanan dimensinya.
Wanita iblis itu membacanya dengan sangat teliti, secara perlahan matanya semakin berkaca-kaca di setiap lembar buku yang berganti. Ia menangis dengan kerasnya dan meluapkan semua kesedihannya. Ravel yang mendengarnya, hanya membiarkan wanita iblis itu puas untuk menangis. Setelah tangisan wanita itu berhenti barulah Ravel berbicara.
"Siapa namamu? Namaku Arravel Dista." tanya Ravel ke wanita iblis itu.
"Namaku Fanya, aku tak memiliki nama belakang. Aku menerima nama ini dari majikanku." ucap Fanya menjawab tersedu-sedu.
"Fanya? Aku paham sekarang. Majikanmu ingin kau terbebas dari rasa ingin melunasi balas budi dan melakukan apa yang kau inginkan. Apa kau tahu apa arti dari namamu itu?" ucap Ravel mendapat sedikit penjelasan kecil mengenai nama Fanya.
"Tidak tahu, memangnya apa artinya?" Tanya balik Fanya tak tahu arti namanya.
"Fanya memiliki arti wanita yang berjiwa bebas. Mungkin, majikanmu ingin kau melakukan apa saja yang kau inginkan." ucap Ravel menjelaskan.
__ADS_1
"Bebas kah? Apa aku bisa melakukan apa yang aku inginkan? Aku bahkan tak bisa membalaskan dendam majikanku." ucap Fanya termenung.
"Balas dendam hanyalah hal konyol yang menenangkan hati untuk sesaat, meskipun kau membunuh orang yang membunuh majikanmu, apa kau bisa menghidupkan majikanmu kembali?" tanya Ravel mencoba menasihatinya.
"Kau benar juga, sepertinya aku akan mencoba melakukan beberapa hal yang menarik perhatianku." ucap Fanya menghilangkan pikiran untuk balas dendam.
Lalu Ravel berjalan menuju ke sebuah batu kristal ungu besar yang ada di dekatnya. Ia mengeluarkan bukunya dan mencari tahu tentang batu kristal itu. Setelah berhasil mencari jenisnya di buku, ternyata kristal itu termasuk ke dalam bahan mentah untuk membuat senjata yang cukup langka. Ravel pun berniat meminta beberapa bongkahan batu kristal itu.
"Ambillah, lagi pula aku tak membutuhkannya. Sejak pertama kali masuk ke tempat ini sudah banyak kristal itu, aku pikir majikanku menggunakannya sebagai penerang ruangan. Memangnya, apa kegunaan batu itu?" tanya Fanya merasa sedikit tertarik.
"Ini merupakan bahan mentah untuk membuat senjata yang cukup sulit di temukan. Apa kau mau aku buatkan senjata juga?" tanya Ravel merasa tak enak jika hanya meminta tanpa berbuat sesuatu.
"Apa kau bisa membuatnya?" tanya Fanya merasa kalau Ravel memiliki wawasan yang sangat luas.
__ADS_1
"Meski tak terlalu handal, aku bisa membuatnya loh." jawab Ravel percaya diri dengan kemampuannya.
Kemudian Ravel membuat senjata di tempat itu untuk Fanya. Sedangkan Fanya secara terus menerus menggunakan sihir api untuk memanaskan bahan mentah itu agar bisa di bentuk. Fanya meminta Ravel untuk membuatkannya sebuah palu dua tangan. Setelah selesai, Ravel mencoba mengangkatnya dan ia merasa itu lebih berat dari yang ia kira.
"Apa ini tidak terlalu berat? Aku saja sampai berusaha untuk mengangkatnya." ucap Ravel terengah-engah setelah mengangkat palu itu.
"Tidak masalah, karena aku selalu memiliki kekuatan fisik lebih tinggi dari rata-rata, karena memang itulah kemampuan dari wujud ras iblisku." ucap Fanya mengangkat palu itu dengan mudah hanya dengan satu tangan dan membuat Ravel terdiam.
Setelah beristirahat selama beberapa menit, Ravel berpamitan pada Fanya dan kembali ke rumah Kak Remon. Ia bertujuan membuat senjata darurat sebagai senjata rahasianya. Ia berniat, membuat senapan.
"Dah! Jangan lupa mengunjungiku di lain waktu!" teriak Fanya yang sudah mulai akrab dengan Ravel.
"Baiklah, aku akan membawa beberapa temanku lain kali." ucap Ravel meninggalkan gua itu sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1