Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Kejutan Tanpa Akhir


__ADS_3

"Tepat sasaran dan, bang!" ucap Ravel sambil menekan pelatuk senapannya.


Pelurunya mengenai lengan iblis yang memegang artefak itu. Dengan mudahnya tangan iblis itu terpotong dan terlempar seketika.


"Aaaaah! Siapa itu?" gerang iblis itu memegangi tangannya yang putus.


"Siapa itu? Apa itu Mort?" ucap Ares bertanya-tanya dalam hati.


Kemudian Ravel berjalan menuju Ares dengan Mort mengikutinya dari belakang. Ares menatap Mort dengan pandangan bingung. Mort hanya merespon dengan menggelengkan kepala yang berarti dia mengkonfirmasi kalau bukan dia yang melakukan serangan itu.


"Apa tujuanmu?" tanya Ravel menodongkan senapannya tepat ke kepala iblis itu dan menanyakan rencananya.


"Ampun, ampuni aku, aku hanya di perintahkan untuk mencuri artefak ini." jawab wanita iblis itu ketakutan dan gemetar.


"Siapa yang memerintahmu?" tanya Ravel dengan mata di penuhi niat membunuh.


"Aku tidak tahu, kami hanya menerima pesan untuk mencuri ini dan membawanya ke Hutan Claymore." jawabnya gemetar dan tak berani berbohong.

__ADS_1


"Kalian berdua!" teriak Ravel meneriaki 2 iblis lainnya yang bertarung dengan Kak Remon dan para alumni.


Mereka yang melihat pimpinan mereka tergeletak tanpa satu tangan panik dan berusaha kabur. Mort sudah membuat penghalang di seluruh tempat untuk mencegah mereka bisa keluar dari tempat kompetisi.


"Kalian berlututlah atau kalian akan kehilangan tangan sama sepertinya." ucap Ravel mengancam mereka yang mencoba kabur di dalam penghalang Mort.


Mereka semua berlutut dan menyerah ketika menerima ancaman dari Ravel. Kepala sekolah sihir Astilice membawa mereka ke penjara kerajaan untuk di interogasi lebih lanjut. Sementara Ravel memeriksa artefak yang di curinya untuk memastikan kemampuan dari pedang itu. Karena tak terlalu paham, ia membawanya ke penginapan.


"Permisi, aku ingin minta tolong sebentar." ucap Ravel dengan teriak kecil mencari pemilik penginapan.


Ketika mereka memasuki penginapan itu, tiba-tiba muncul api dari dalam dan membakar penginapan itu dengan cepatnya. Mereka langsung berlari meninggalkan penginapan itu secepatnya dan kembali ke kapal sihir. Mereka kebingungan dengan penginapan itu yang tiba-tiba terbakar cepat tanpa sebab yang pasti.


"Bagaimana tempat itu bisa terbakar ya?" ucap Nia memikirkan penyebabnya namun tak mendapat kesimpulan.


"Kemungkinan, pemilik penginapan itu bukan orang yang baik." ucap Ravel pelan memperkirakan kejadiannya.


"Aku juga menduga itu. Saat kau terkena racun, saat yang tepat hanyalah ketika sarapan di sana." ucap Mort merasa janggal sejak keluar dari kebakaran tadi.

__ADS_1


"Aku juga merasakan mana yang aneh dari penyihir itu, dia seperti menggunakan mana dari alam seperti Ravel. Apa mungkin dia juga ras iblis?" ucap Ares bertanya pada Mort dan Ravel.


"Kemungkinan besar sih, tapi kita kehilangan dia. Mungkin akan terjadu sesuatu yang besar nanti. Karena ras iblis sudah mulai menyusup ke wilayah ini." ucap Mort merasa akan ada kejadian tak terduga.


"Hutan Claymore! Pasti ada petunjuk di sana. Kita harus menyelidiki ini nanti." ucap Ravel sedikit bersemangat.


"Kenapa kau bersemangat sekali?" tanya Mort yang merasa aneh dengan semangat Ravel.


"Aku sedang bosan, nanti kita juga ajak wanita iblis yang pernah kita temui untuk membantu kita." ucap Ravel yang sebenarnya hanya ingin mengisi waktu luangnya.


"Aku ikut saja, karena sepertinya cukup menyenangkan." ucap Ares merasa sedikit tergerak atas semangat Ravel.


"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Mort mengenai teman lainnya.


"Aku akan tanyakan nanti, para alumni tidak perlu di ajak, nanti akan membosankan jika mereka mengambil jatah pertempuran sihir kita." ucap Ravel membisik ke Mort dan Ares.


"Hahaha, kau sangat menarik sekali. Aku tidak pernah menduga kalau kau akan mengatakan hal itu." tawa Ares mendengar usulan Ravel.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengawasi kalian semua." jawab Mort menyerah terhadap mereka berdua.


"Kasus penyelidikan, mulai!" ucap Ravel dengan rasa penasaran dan tidak sabar.


__ADS_2