Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Racun Kecil dan Teman Lainnya


__ADS_3

Sesampainya di bawah terlihat Mort dan Ares sedang menunggu sarapan. Ravel dan Ella pun ikut bergabung untuk sarapan bersama. Kemudian penyihir pemilik penginapan itu mengabtarkan makanan yang di buatnya. Ada begitu banyak makanan dan semuanya terlihat enak. Karena ingin mengobrol, Ravel mengajak wanita itu untuk ikut sarapan bersama mereka.


"Tunggu dulu, apa aku bisa mengobrol sebentar?" tanya Ravel memanggil pemilik penginapan.


"Mengobrol? Apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya balik pemilik penginapan ke Ravel.


"Tidak, hanya ingin mengobrol dan menanyakan beberapa sihir saja. Bergabunglah dengan kami untuk sarapan bersama." jawab Ravel meminta pemilik penginapan bergabung dengan mereka.


"Aku jadi tidak enak, lagi pula kalian membayar di sini. Aku jadi merasa sedikit tidak tenang." jawab penyihir perempuan itu mengira kalau Ravel dan yang lainnya punya niat buruk mengenai kemampuan sihirnya.


"Maaf, aku tidak ingin kau salah paham. Kami murid dari Sekolah Sihir Vitoria dan sedang menjalankan pertukaran pelajar sementara ke di Sekolah Sihir Astilice" ucap Ravel menunjukkan lencana murid sekolah sihir ke pemilik penginapan itu.


"Sekolah sihir? Pantas saja aku tidak asing dengan jubah hitam yang kalian pakai." ucapnya bergabung karena sudah yakin dan percaya kepada Ravel dan yang lainnya.


Kemudian mereka sarapan bersama dan mengobrol panjang setelahnya. Ketika terlalu lama mengobrol, tak terasa hari sudah siang dan waktu pertandingan sudah akan di mulai. Mereka pun bergegas dengan sihir teleportasi Ravel untuk berpindah ke dekat arena. Saat sampai, hampir telat kompetisi kembali di mulai.

__ADS_1


Suara keramaian yang lebih kuat dari hari kemarin dan situasi gugup para peserta. Mereka mulai terbiasa dengan keadaan di sekitar dan bisa berkonsentrasi ketika bertarung. Kemudian Ravel merasakan sebuah senjata yang sangat mengerikan. Ia merasa kalau senjata itu sudah membunuh banyak sekali orang.


"Perasaan apa ini? Apa akan ada bahaya?" tanya Ravel ke dirinya sendiri saat merasakan aura tersebut.


"Ada apa Ravel? Kenapa wajahmu memucat?" tanya Mort menyadari kalau wajah Ravel sedikit memucat.


"Tidak apa, hanya sedikit tidak enak badan." jawab Ravel dengan badan lemas dan terjatuh pingsan setelahnya.


"Hei, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba pingsan?" teriak Mort mencoba membangunkan Ravel.


Kemudian Ravel kembali terbangun setelah 5 menit. Mort dan yang lainnya sangat kaget ketika Ravel terjatuh begitu saja tanpa sebab.


"Maaf, sepertinya ada yang meracuniku. Aku sudah menghilangkan racunnya." jawabnya merasa bersalah membuat semua orang panik.


Lalu terlihat sebuah bayangan gelap dari langit yang menutupi cahaya matahari. Bukan yang lain lagi selain semua temannya dengan kapal sihir yang merendah agar memudahkan mereka untuk turun. Semua temannya turun dan menyapanya yang tergeletak di tanah. Semua temannya beserta kepala sekolah juga ikut turun menemui Ravel.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak kembali? Kami mengkhawatirkanmu tahu!" ucap Nia memarahi Ravel setibanya di bawah.


Pengadil itu pun jadi sempat terbingung dengan situasinya dan menunda pertandingan pertama pada hari itu.


"Maaf, sebenarnya kalian siapa? Kapal sihir ini cukup mengganggu, apa kalian bisa memindahkannya sebentar?" tanya pengadil itu ke Nia yang sedang memarahi Ravel tanpa henti.


"Diam! Aku sedang bicara dengannya jadi tutup mulutmu!" jawab Nia mengabaikan yang lain dan terus memarahi Ravel di tempat itu.


Setelah semua selesai dan kericuhan mulai mereda, akhirnya mereka memulai kembali pertandingan itu. Nia dan yang lainnya hanya menonton pertandingan itu dan menunggu kompetisi selesai. Setelah lama menyaksikan dan akhirnya sampai di semi final dan hanya penyihir dan petarung berbakat yang tersisa.


"Baiklah, pertandingan semi final akan di mulai dengan pengelana yang meneliti semua sihir di dunia Mort akan melawan ahli pedang dan sihir dengan kontrol yang sangat baik Ares!" ucap pengadil itu memanggil peserta semi final.


"Haha, sepertinya akan menyenangkan." ucap Mort saat memasuki arena.


"Saatnya bertarung habis-habisan!" teriak Ares menarik keluar pedangnya saat memasuki arena.

__ADS_1


"Apa ini akan menjadi akhir dunia?" ucap Ravel merasakan pertanda buruk ketika melihat kedua orang itu memasuki arena.


__ADS_2