
"Siapa yang berani membuat keributan di sini?" ucap salah satu pengajar para anak bangsawan.
"Hei, orang tua sialan! Maju sini, biar kami hajar kalian semua." ucap Ares menantang semua pengajar bangsawan.
Kekacauan pun terjadi di sana. Mereka sepenuhnya bertarung satu sama lain. Kepala sekolah juga tidak memiliki kemampuan untuk mencegah kekacauan itu. Mereka bertarung tanpa memandang sekitar dan banyak ledakan terjadi di sekeliling.
"Sial, kita tidak cukup orang. Aku terpaksa harus memanggilnya, Fanya! Catari!" teriak Ravel lalu naga muncul di langit dan di tunggangi ras iblis.
Semuanya mundur dan berhenti bertarung sesaat dan menjaga jarak. Catarj dan Fanya mendarat dan berkumpul dengan Ravel. Karena dari awal mereka tidak serius, akhirnya mereka mengeluarkan senjata mereka. Sabit Mort, pedang Ares, Palu Fanya dan panah Ravel yang di dapat dari Nina.
"Cobalah menahan diri untuk tidak membunuh siapa pun!" teriak Ravel lalusemua temannya berjalan dengan santai menuju semua orang itu.
Aura kuat orang yang sudah berkali-kali di hadapkan dengan keadaan hidup dan mati membuat nereka gemetar ketika mereka bertiga maju. Meski hanya berjalan, langkah yang di tinggalkan Mort meninggalkan retakan besar layaknya hentakan penuh tenaga. Para pengajar secara perlahan mundur karena serangan mental mereka bertiga.
"Ku kira seperti apa, ternyata hanya pengecut." ucap Ravel menurunkan panahnya dan duduk mengelus Catari.
Kepala sekolah dan tuan putri menuju Ravel yang sedang duduk dengan santainya. Putri sangat tertarik dengan Catari yang begitu penurut dan jinak pada Ravel. Karena baru pertama kali dia melihat seekor naga yang begitu patuh.
"Naga ini?" tanya Putri begitu penasaran dengan Catari.
"Namanya Catari, dia sahabat ku." jawab Ravel tersenyum sambil mengelus kepala Catari.
__ADS_1
"Apa aku boleh mengelusnya?" tanya Putri dengan begitu semangat.
"Catari, Putri ingin mengelus mu, apa kau memperbolehkannya?" tanya Ravel ke Catari dan Catari menjawabnya dengan menganggukkan kepala.
Kemudian Putri mengelus kepala Catari dan terkejut kalau naga jauh lebih lembut dari yang ia kira. Ia selalu berpikir kalau naga bersifat buas dan kejam.
"Ravel! Semuanya sudah beres." teriak Mort memanggil Ravel karena semua pengajar bangsawan itu menyerah ketakutan.
"Baiklah, ikat mereka semua dan ikuti aku!" teriak balik Ravel dan bangun dari duduknya.
"Kemana kau akan pergi?" tanya Putri ke Ravel.
"Aku akan melakukan pertunjukkan kecil, kau bisa menunggangi Catari dan memperhatikan dari atas. Karena di sanalah bangku penonton terbaiknya." jawab Ravel lalu bergegas.
"Ayo! Bawa mereka ke tengah lapangan latihan." ucap Ravel lalu mereka semua bergegas.
Sesampainya di sana, Ravel kembali mengambil perhatian dengan teriakannya.
"Hei! Kalian semua yang merasa sebagai penyihir hebat hanya karena masuk sekolah ini! Muncul ke sini dan akan aku tunjukkan apa itu kekuatan!" teriak Ravel lalu bermunculan para pengajar dan murid sekolah.
Kemudian Mort membawa para pengajar bangsawan yang sudah di ikat ke lapangan. Ravel menunjukkan niat membunuhnya dan membuat semua orang tidak berani berkomentar ketika melihatnya termasuk para murid dari pengajar itu.
__ADS_1
"Kalian pasti tahu siapa mereka, aku tidak salah kan? Kalian menganggap mereka adalah salah satu orang terkuat di sekolah ini setelah kepala sekolah." ucap Ravel menatap para murid bangsawan.
Kemudian Mort dan yang lainnya berjalan di sampingnya beserta Fanya yang merupakan ras iblis.
"Apa kalian ingin melihat seberapa tinggi kekuatan kami?" ucap beberapa murid mulai terpancing provokasi Ravel.
"Tentu saja, aku sangat ingin melihat kemampuan murid dari sekolah yang di kabarkan memiliki murid terkuat di banding sekolah lain." jawab Ravel terus memancing provokasi semua orang tanpa menahan diri sedikit pun.
Kemudian Catari turun dari langit dengan Putri dan kepala sekolah.
"Catari, apa kau sudah selesai bermain?" ucap Ravel terus memprovokasi semuanya dan menguras mental mereka.
Ia terus berpikir bagaimana cara agar para murid dan pengajar di sana merasakan tekanan besar dan tidak berani menyombongkan diri lagi.
"Apa kalian tahu tentang, latihan nyata perang sihir dunia?" ucap Ravel lalu semua orang terkejut kalau Ravel mengucap itu.
Ia menemukan ide menarik dan sangat berguna untuk mengukur kekuatannya. Ia mencoba menantang semua murid di sana beserta pengajar untuk melawan mereka.
"Supaya adil, aku ingin latih tanding dengan kalian. Kalian semua beserta kepala sekolah, melawan kami dan beberapa orang teman ku. Apa kalian berani?" tanya Ravel mengeluarkan senapannya dan membuat bingung orang-orang karena anehnya senjatanya.
Ia mengarahkan senapannya ke arah menara sekolah yang besar dan menembakkannya. Suara nyaring peluru terdengar di ikuti suara runtuhnya menara itu yang membuat semua orang gemetar ketakutan melihatnya.
__ADS_1
"3 hari lagi, kita bertanding di arena ilusi." ucap Ravel lalu pergi dengan sihir tekeportasi bersama semua temannya.