
Setelah mendengar suara itu mereka bersembunyi di gudang yang tidak jauh dari mereka. Mereka memikirkan cara agar selamat dari kejadian aneh tak terduga ini. Baru 5 menit di dalam gudang, mereka mendengar suara pemberitahuan dari langit.
“Dengarkan kalian semua! Bertahanlah sebisa mungkin, tempat evakuasi ada di lapangan. Di sini ada para guru, untuk kalian yang masih terjebak di dalam sekolah jangan bertindak ceroboh atau pun nekat. Bantuan dari kerajaan akan sampai 2 jam lagi, kalau bisa bersembunyi lebih baik sembunyi.” suara kencang dari langit.
“Suara ini, ini sihir kakekku.” ucap Ariel setelah menyadari kalau suara ini adalah suara kepala sekolah Gregory.
“Apa kamu yakin? Meskipun begitu, bantuan akan datang dalam 2 jam. Waktunya terlalu lama.” ucap Dion mengingatkannya.
“Benar, kita harus menyembunyikan diri kita sebaik mungkin.” ucap Nia yang sedikit ketakutan.
“Kalau hewan gaib sih memang tidak masalah, tapi akan berbahaya kalau sampai ada monster iblis.” ucap Adrea yang mencoba tenang dan berpikir.
Sementara Ravel hanya diam memejamkan matanya dan merasakan hawa keberadaan yang ada di depan pintu gudang. Ia menggunakan kekuatan Ella yang memanifestasikan mana dari energi alam dan merasakan hawa keberadaan makhluk hidup. Berdasarkan hawanya, ia memperkirakan ada sekitar belasan hewan gaib level rendah.
“Ella, apa ada sihir yang cocok untuk menyelesaikan masalah ini? Kalau berdiam diri di sini pun pasti akan ketahuan.” tanya Ravel menggunakan pikiran.
“Sepertinya di kotak hitam ada buku tentang pengendalian paksa hewan gaib.” jawab Ella sambil mencoba mengingat.
__ADS_1
“Maksudmu, aku harus membuat kontrak dulu dengan mereka?” tanya Ravel yang merasa akan merepotkan jika harus melakukannya.
“Tidak, ini bukan jenis sihir kontrak. Ini merupakan sihir semacam pengendalian pikiran. Namun, hanya bisa bertahan beberapa menit.” jawab Ella menjelaskan.
“Berapa ketepatan waktu pengendaliannya?”
“10 menit.”
“Kalau begitu, apa ada sihir-aktif perluasan yang bisa menghajar semua makhluk ini dalam sekejap?”
“Ravel, sebaiknya kau gunakan bela diri kotak hitam.” ucap Mort tiba-tiba dalam pikiran Ravel.
“Tenang saja, aku akan membantumu.”
Kemudian Ravel membicarakan sebuah rencana pada semua yang ada di gudang. Ia akan membantu semua murid yang masih terjebak dalam sekolah. Namun, ia ingin teman-temannya mengamankan jalur pelariannya.
“Aku punya rencana! Semuanya dengarkanlah aku!” ucap Ravel tiba-tiba.
__ADS_1
“Rencana apa? Apa kita tidak sembunyi saja sampai bantuan datang?” tanya Ariel.
“Ravel, kurasa kalau kau punya rencana pasti rencana yang berbahaya bukan?” ucap Ariel yang menebak pikiran Ravel.
“Hahaha, ya memang begitulah. Rencana ini akan sedikit berbahaya.” jawab Ravel menggaruk kepala.
“Memang apa rencanamu? Apa kita akan menuju ke lapangan?” tanya Dion.
“Kalau hanya menuju ke lapangan sih sangat mudah. Aku ingin kalian semua ke lapangan, lalu bilang kalau ada monster iblis dalam sekolah. Aku akan memancing monster iblis itu keluar agar dapat diurus oleh para guru. Bagaimana pendapat kalian?”
“Ditolak!” ucap mereka semua menjawab pertanyaan Ravel bersamaan.
“Kenapa semuanya menolak? Bukankah ini rencana yang aman bukan?”
“Kenapa kau bilang ini aman, padahal kau yang dalam bahaya kalau rencana ini kita lakukan.” ucap Nia yang mengkhawatirkan Ravel.
“Tenang saja, aku punya kartu andalan.”
__ADS_1
“Meskipun kau punya kartu andalan, aku masih tidak yakin kau bisa berhasil! Jangan membuang nyawa untuk melakukan tindakan konyol!” ucap Ariel yang kesal atas ucapan Ravel.