
Kemudian Nia dan Dion mempelajari buku sihir level biru itu bersama Ravel. Tak lama kepala sekolah masuk ke ruangan.
“Permisi, apa kalian menunggu lama?”
Ketika kepala sekolah muncul, banyak murid yang merasa senang. Mereka langsung mengerumuni kepala sekolah untuk bertanya mengenai buku yang mereka ambil. Sementara itu, Ravel dan teman-temannya mengabaikan keramaian dan mempelajari sihir bersama-sama.
“Bagian ini bagaimana? Aku tidak paham bahasa manusia setengah hewan.” tanya Dion.
“Oh, di bagian itu artinya kau hanya bisa menggunakan sihir ini selama 2 jam dan harus mengistirahatkan tubuhmu setidaknya 30 menit.” jawab Ravel.
“Ravel, ada yang ingin kutanyakan juga. Di bagian ini, bertuliskan ilusi jangkauan luas bukan? Kalau begitu bukankah mana yang dibutuhkan sangat banyak?” tanya Nia menunjuk bagian yang ia tidak pahami.
“Kau hanya perlu menyamakan mana mu dengan mana yang ada di sekitar, jika kau bisa melakukan itu kau bahkan bisa melakukannya tanpa mantra.”
“Benarkah? Tapi, bagaimana caraku mengetahui mana di sekitarku.”
“Cukup partnermu saja bukan? Jangan lupa kalau kau tidak sendirian.” jawab Ravel dengan penuh daya tarik.
__ADS_1
Banyak orang yang melihatnya yang sedang mengajari Nia dan Dion. Karena menurut murid sekolah, Ravel tidaklah terlalu hebat dibandingkan kedua temannya. Kepala sekolah yang melihatnya pun sedikit mendengarkan apa yang ia jelaskan ke Nia dan Dion. Kepala sekolah terkejut karena semua yang di katakan oleh Ravel benar.
Kemudian kepala sekolah pun memanggil Ravel dan menanyakannya buku apa yang ia pilih di perpustakaan.
“Ravel kemarilah, ada yang ingin kutanyakan.” ucap kepala sekolah sambil memberikan isyarat tangan untuk memanggil Ravel.
“Ada apa kepala sekolah Gregory?” tanya Ravel yang tidak tahu mengapa ia di panggil.
“Aku hanya ingin tahu, buku apa yang kau ambil di perpustakaan kelas sihir?” tanya kepala sekolah Gregory yang cukup penasaran.
“perpustakaan sihir? Aku tidak mengambil buku saat di sana.” jawab Ravel.
“Sebenarnya aku punya beberapa seni bela diri, jadi aku ingin melatihnya saja.” jawab Ravel apa adanya.
“Owh, seperti itu ‘kah? Kalau begitu kau bisa melanjutkan latihan mu.” ucap kepala sekolah Gregory.
“Terima kasih kepala sekolah, kalau begitu aku pamit.” ucap Ravel lalu menuju kedua temannya.
__ADS_1
Di ruangan itu ada beberapa orang yang tidak menyukai sikap Ravel. Sekolah memiliki 5 pintu teleportasi. Jadi, orang bebas memasuki pintu mana pun. Saat ini ada beberapa murid kelas 3 dan 4 yang ada di ruangan yang sama dengan Ravel. Sementara sisanya kelas 1 dan 2. Kemudian orang yang merasa kesal dengan Ravel mencoba memprovokasinya.
“Hei, bukankah kau memiliki ilmu bela diri? Apa kau mau mencoba latih tanding denganku?” ucap salah satu senior kelas 3 sambil menunjuk Ravel.
“Senior, apa kau ingin memprovokasiku? Sayang sekali aku tidak sebodoh yang kau kira.” jawab Ravel sombong sengaja memprovokasinya balik.
“Ravel, hentikan! Jangan memprovokasinya, nanti akan timbul masalah kalau kau mencari masalah dengan senior.” ucap Ariel memperingati Ravel.
“Kepala sekolah Gregory, apa kau mengizinkan sebuah latih tanding?”
“Aku izinkan, syaratnya adalah hanya boleh menggunakan sihir level merah dan hanya boleh menggunakan senjata kayu. Semuanya berikan ruang untuk mereka berdua.” ucap kepala sekolah Gregory.
Kemudian semua murid membentuk sebuah persegi panjang sebagai arena bertanding. Karena area cukup luas jadi bisa membuat mereka berdua lebih leluasa bergerak.
“Padahal sudah kuperingati si bodoh itu.” ucap Ariel yang kesal namun sebenarnya sangat khawatir.
“Tenang saja, ia pasti menang.” ucap Nia yang sangat mempercayai Ravel.
__ADS_1
“Ya, meskipun aku tidak pernah melihat ia melatih bela diri.” ucap Dion yang sebenarnya sedikit khawatir
“Pertandingan Dimulai!”