
"Breaker Sickle! Tebasan pemutus kendali!" ucap Mort lalu menebas pria itu dan sabitnya hanya menembus tubuhnya saja.
Seketika orang itu terjatuh dan terbaring tanpa kesadaran. Meski Mort menyerangnya, sabitnya hanya menembusnya dan tidak meninggalkan luka apa pun.
"Apa itu tadi? Kenapa serangannya bisa begitu?" tanya Ravel terkejut.
"Ini kan senjata sihir, tentu saja aku bisa melakukannya." jawab Mort menghilangkan sabitnya kembali.
"Sekarang apa yang ingin kalian lakukan? Apa akan mencari pelakunya?" tanya Ella sedang mengobati pria besar tadi.
"Kita introgasi saja dulu, masalah mencari dalangnya kita tunda dulu." jawab Ares menyiram air ke kepala pria besar itu.
Kemudian pria besar itu tersadar dan terlihat kebingungan dengan situasinya. Ia tidak ingat kalau ia pernah mengacau di bar atau pun menyerang mereka berempat.
"Hei apa kau sudah sadar?" tanya Ares membangunkan pria itu setelah menyiramnya dengan air.
"Dimana aku? Siapa kalian? Bagaimana aku ada di sini?" tanya pria besar itu saat bangun.
"Apa kau tidak ingat apa pun? Kapan tempat terakhir yang kau kunjungi?" tanya Ravel mencoba mencari informasi.
__ADS_1
"Hutan Alf, di utara kota." ucapnya sambil mengelap wajahnya yang basah.
"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Ravel kembali mencari informasi.
"Aku mencari kulit kayu pohon cram untuk membuat obat. Lalu, kalau tidak salah aku bertemu seorang ras iblis di hutan. Karena takut aku melarikan diri dan bersembunyi sebelum mereka menyadariku." jawab pria besar itu.
"Mereka kau bilang? Ada berapa jumlah mereka?" tanya Ares merasa kalau akan menjadi masalah cukup serius.
"4 orang lengkap membawa senjata sihir dan jubah pelindung. Kalau tidak salah pemimpinnya berambut merah dan memiliki sebuah tindikan di telinga kirinya juga luka bakar di bahu kanannya." jawab pria itu mencoba mengingat.
Kemudian mereka membiarkan pria berbadan besar itu pergi. Kemudian mereka kembali ke bar untuk menanyakan mengenai kejadian itu. Mereka bertanya ke pemilik bar itu yang merupakan kakak dari pelayan yang pergi bersama mereka.
"Kak, mereka ingin menanyakan suatu hal padamu, apa kau bisa menemuinya?" tanya pelayan tadi memanggil kakaknya.
"Apa sebelumnya ada ras iblis yang pergi ke tempat mu?" tanya Ravel merasa ada yang aneh dengan pemilik bar itu.
"Tidak pernah, aku tak pernah kedatangan ras iblis di bar ku." jawab pemilik bar dengan tenang.
"Benarkah?" tanya Mort dengan wajah ingin membunuh orang.
__ADS_1
"Benar, aku tidak bohong." jawabnya dengan tenang.
"Sepertinya dia cukup tenang, tapi kenapa dia tidak merasa terancam oleh niat membunuh Mort? Lalu, saat kejadian pengacau bar, kenapa dia tidak berusaha mencegahnya?" pikir Ravel berulang kali berkata pada diri sendiri.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kau pernah kedatangan ras iblis di bar mu?" tanya Ravel mencoba memastikan dengan caranya sendiri.
"Hypnotic, katakan yang sejujurnya." ucap Ravel dalam hati menggunakan sihir hipnotis.
"Aku berbohong. Kamarin malam ada 4 ras iblis yang tiba-tiba datang ke bar ku saat aku sedang akan menutupnya. Mereka mengancamku jadi aku membiarkan mereka masuk dan melayani mereka." jawab pemilik bar itu.
"Apa yang dia lakukan di sini? Mengapa dia menuju kota kecil ini?" tanya Mort penasaran dengan motif mereka.
"Artefak langka, mereka mengincar itu dan berniat mencurinya. Mereka juga mengincar para penyihir yang memiliki barang bagus di kota ini seperti senjata sihir, ramuan, dan bahkan penyimpanan dimensi." jawab pemilik bar itu.
"Baiklah kau akan kembali dan melupakan apa yang kami tanyakan." ucap Ravel lalu pemilik toko itu sadar dan pergi kembali bekerja.
"Sepertinya masalah ini cukup penting, apa mau mengawasi ini sampai kompetisi selesai?" tanya Ravel ke yang lainnya.
"Kau benar, lagian kan tujuan kita juga artefak sihir. Mana mungkin aku berikan itu pada mereka." jawab Ares bersemangat.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita mencari penginapan. Kalian sudah lelah bukan?" ucap Ella yang selalu memperhatikan keadaan yang lainnya.
"Baiklah." jawab Ravel menghela napas panjang karena seperti yang di katakan Ella, dia sudah sangat lelah.