Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Kelas Inti


__ADS_3

Selang beberapa waktu Kak Nata datang menjemput mereka di lapangan bersama kepala sekolah. Mereka yang melihatnya langsung berdiri dan menuju ke sana. Mereka diajak ke ruang kepala sekolah untuk membicarakan tentang daftar sekolah. Setelah sampai di ruang kepala sekolah ada Ariel bersama temannya di dalam.


Mereka duduk di dalam bersama dan membicarakan tentang kelas yang akan mereka tempati.


“Perkenalkan namaku Gregory Astrian. Aku kepala sekolah ini, kalian sudah mengenal cucuku kan? Dia adalah murid didikan utamaku. Jadi, aku ingin kalian masuk ke kelas inti agar dapat lebih dalam mempelajari ilmu tentang sihir dan lain-lain.”


“Apa itu kelas inti?” tanya Ravel polosnya.


“Kau bahkan tidak tahu hal itu, tidak dipercaya kau bisa masuk sekolah ini.” jawab Ariel yang mengikuti kakeknya.


“Ariel, jangan bersikap tidak sopan seperti itu. Sekolah ini memiliki kelas inti dimana ada banyak murid bertalenta di sana. Kelas inti bebas melakukan apa pun dan mempelajari apa yang di minatinya. Jadi, sebaiknya kalian rajin mempelajari sihir dan bertanya saja padaku dengan menunggu di kelas inti.” ucap kepala sekolah menasihati Ariel dan menjawab pertanyaan Ravel.


“Tunggu dulu, apa yang kepala sekolah maksud dengan bebas?” ucap Ravel tertawa terbahak-bahak.


“Bodoh, sopanlah sedikit!” ucap Nia memukul kepalanya.


“Jadi bisa di bilang kalian bebas mempelajari apa saja, bahkan kalian di perbolehkan membuat tujuan sendiri. Kelas ini dibimbing olehku seorang diri. Jadi, bisa di bilang kalian bebas menanyakan apa pun yang kalian ingin pelajari.”

__ADS_1


“Owh, sekarang aku mengerti.” Ucap Ravel mengusap kepalanya yang di pukul oleh Nia.


“Jadi, apa kau sudah tahu ingin mempelajari apa?” tanya kepala sekolah ke mereka bertiga.


“Kalau aku mempelajarinya sendiri apa di perbolehkan?" tanya Ravel yang berniat menjadi penunggu perpustakaan buku sihir.


“Itu boleh asalkan kalian selalu menunjukkan hasilnya ketika berhasil mempelajarinya." jawab kepala sekolah.


“Kalau begitu bisakah kami mendapat penjelasan detail sebelum kami menentukannya?” tanya Dion.


“Baiklah kalau begitu kami permisi dulu kepala sekolah, Kak Nata kami akan menunggumu di depan gerbang.” ucap Ravel berdiri bersama kedua temannya dan memberitahu Kak Nata.


“Kalau begitu, Ariel antar mereka ke gerbang.”


“Baik, kakek.” jawab Ariel terpaksa.


Kemudian Ariel mengantar mereka ke gerbang ditemani temannya. Mereka mengobrol sepanjang perjalanan menuju gerbang.

__ADS_1


“Ariel, pelajaran apa yang kau ambil di kelas inti?” tanya Nia.


“Aku pernah mengambil materi ahli peracik, aku hanya bisa membuat pil mana level 1, sekarang aku mengambil materi sihir aktif perluasan.”


“Sihir aktif perluasan? apa itu?” tanya Dion.


“Sihir aktif perluasan adalah sihir serangan langsung dalam jangkauan luas atau bisa di targetkan ke lebih dari 1 orang. Benar bukan?” jawab Ravel menjelaskan dan menanyakan apa pendapat ia benar.


“Ya, seperti itulah. Saat ini aku baru bisa melakukannya seluas lingkaran berdiameter 5 meter.” ucap Ariel yang sedikit terkejut karena melihat Ravel memiliki wawasan luas.


“Kenapa hanya sampai 5 meter?” tanya Ravel yang bingung.


“Karena aku baru mencobanya, aku baru 3 bulan mempelajari ini. Tapi, sepertinya akan sulit.” jawab Ariel merasa akan kesulitan ke depannya.


“Apa susahnya kau hanya perlu menentukan berapa besar mana yang kau keluarkan bukan?” jawab Ravel yang menggampangkan segala hal.


“Justru itulah yang sulit bodoh.” jawab Ariel yang kesal karena rasanya seperti diejek oleh Ravel.

__ADS_1


__ADS_2