Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Sengatan Listrik dan Langkah Pertama Ella


__ADS_3

“Ravel, sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi, dimana ya?” tanya Dion sambil mencoba mengingat.


“Masa kau lupa, di ilmu dasar pelatihan mana bukan?” ucap Ravel menggelengkan kepalanya.


“Ya, ibuku juga suka menulis buku yang berasal dari pengetahuan yang ia temukan.”


“Ibumu seperti ilmuan saja.” ucap Ravel tanpa sengaja.


“Ilmuan, apa itu?” tanya Kak Nata.


“Ah, itu adalah orang yang meneliti sesuatu.” jawab Ravel terpaksa karena sembarang bicara.


“kalau begitu, kenapa Kak Nata tidak fokus ke sihir saja?” tanya Nia.


“Aku tidak diizinkan oleh ibuku.” Jawab Kak Nata dengan wajah lesu.


“Mengapa? Apa mereka punya alasan tertentu?” tanya Dion yang ia pikir sangat disayangkan.


“Aku akan memberitahu kalian kalau kalian tidak menertawakanku.”


“Ya, kami tidak akan menertawakanmu.” ucap Ravel menjanjikan.


“Ibuku bilang, aku tidak boleh menjadi penyihir kalau aku belum menikah.” ucap Kak Nata dengan malu-malu.


“Hahahahaha.” Teriak Ravel tertawa terbahak-bahak karena mendengarnya.

__ADS_1


Kemudian Nia dan Dion lari menjauhi Ravel dan bersembunyi. Kak Nata meletakkan tangannya ke kepala Ravel yang masih tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba Ravel terkena serangan sihir elemen listrik.


“Haaaaaaah, ampun kak!” teriak Ravel memohon ampun sambil menahan sengatan listrik yang cukup besar.


Kemudian Kak Nata melepaskan sihirnya. Ravel tergeletak kesakitan karena sengatan listrik. Lalu, Kak Nata meninggalkan Ravel dan merapikan peralatan makan yang kotor. Setelah marah Kak Nata mereda, Nia dan Dion menghampiri Ravel dan membantunya. karena seluruh badan Ravel tidak bisa bergerak karena efek dari sengatan listrik itu.


“Hei, apa kau tidak apa?” tanya Dion membopongnya ke sofa.


“Kalian tidak setia kawan, kenapa kalian lari meninggalkanku?” tanya Ravel yang sedikit kesal.


“Lagian, siapa suruh kau tertawa sekeras itu.” jawab Nia.


“Apa kau bisa berdiri?” tanya Dion.


“Tidak, badanku tidak bisa bergerak sedikit pun.” ucap Ravel dengan nada menahan sakit.


“Ravel, kau menyusahkan sekali.” ucap Nia mengeluh namun tetap membantu Ravel.


Saat Nia dan Dion ingin mengangkat Ravel tiba-tiba Ella muncul melakukan perwujudan. Lalu tanpa berkata apa pun ia memberikan air dari sebuah daun dan Ravel bisa bergerak kembali. Setelah itu Nia dan Dion meninggalkan mereka berdua.


“Bagaimana keadaanmu? Apa sudah sembuh semua?” tanya Ravel mengkhawatirkan luka Ella saat berbagi penderitaan dari Mort.


“Ya, hampir semua pulih. Bagaimana keadaanmu?”


“Seperti yang kau lihat, sudah benar-benar sehat.”

__ADS_1


“Sehat apanya, padahal tadi kau tidak bisa bergerak sama sekali.”


“Hahaha, ya aku akan hati-hati lain kali.”


“Apa Mort mengganggumu? Aku tidak bisa tenang saat kau hanya menggunakan kekuatannya.”


“Tenang saja, dia tidak banyak tingkah. Hanya saja dia berisik sekali kalau melihat perempuan.”


“Siapa yang kau maksud itu?” tanya Mort tiba-tiba melakukan perwujudan.


“Memang benar bukan?” tanya balik Ravel ke Mort.


“Ya, kalau itu sih memang tidak salah.” jawab Mort pasrah.


“Ngomong-ngomong air apa yang kau minumkan padaku Ella? Bukankah air itu sangat berguna?” tanya Ravel.


“Itu air mata peri.” ucap Ella menghindari kontak mata dari Ravel.


“Hah?” ucap Ravel bingung.


“Ya, itu air mataku.” jawab Ella dengan wajah memerah.


“Kenapa rasanya manis? Kau ingin menipuku ya? Mort apa yang dia katakan benar?” tanya Ravel ke Mort karena tidak terlalu percaya perkataan Ella.


“Seperti yang kau dengar.” ucap Mort sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah itu pun wajah Ravel memerah karena malu. Begitu pun Ella karena Ravel mengatakan kalau air matanya manis. Tanpa banyak bicara Mort menghentikan perwujudannya. Mereka tidak saling bicara sedikit pun, hanya saling membelakangi. Tapi, seakan saling memberitahu kalau mereka saling mencintai.


__ADS_2