Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Kecemasan


__ADS_3

Kemudian Ravel melepaskan Ares dan mengembalikan pisaunya ke penyimpanan dimensi. Mereka mengobrol tentang keadaan Ares. Ella pun juga melakukan perwujudan untuk menyembuhkan luka Ares lebih teliti lagi.


“Bagaimana kamu bisa kemari? Bukankah kamu sedang bersembunyi di gunung naga itu?” tanya Mort ke Ares yang sedang di sembuhkan oleh Ella.


“Sebenarnya, tempat itu sudah tidak aman. Chuvash membantuku melarikan diri dengan selamat sampai ke dunia manusia. Sayangnya, saat aku melalui dimensi perbatasan dunia aku terkena serangan.” jawab Ares menjelaskan.


“Tidak apa, yang terpenting kamu selamat. Sudah lama tak bertemu, aku sudah menjalin kontrak dengan anak ini. Berikutnya apa yang akan kamu lakukan?” tanya Mort menunjuk Ravel yang ada di sebelahnya mendengar percakapan itu.


“Aku akan mengikuti kalian! Oh, sebelum itu lihat apa yang aku dapatkan.” ucapnya mengeluarkan peti hitam yang di penuhi rantai dengan lubang kunci di tengahnya.


“Mort, bukankah ini . . .?” ucap Ravel terhenti.


“Benar, ini adalah setengah kekuatanku yang tersegel. Jika ini bisa terbuka, aku bisa mendapatkan kekuatanku kembali seutuhnya.” ucap Mort merasa senang.


“Tunggu dulu, aku mencium suatu aroma yang enak.” ucap Ares mencium aroma masakan dari lantai bawah lalu langsung menuju ke bawah.

__ADS_1


“Hei, tunggu dulu!” teriak Ravel mencoba menghentikannya.


Ares berlari menuju lantai bawah. Saat sampai di bawah, ia membuat semua orang terkejut dengannya. Karena seharusnya tak mudah untuk masuk ke rumah Kak Remon yang penuh dengan penghalang. Kemudian, Ravel berlari mengejarnya dan menjadi sorotan semua temannya yang melihatnya seperti mengenal wanita itu.


Setelah itu, Mort juga menyusulnya dan berlari menuju lantai bawah. Ia juga mendapat pandangan yang aneh dari beberapa orang yang sudah mengenalnya. Setelah itu, Ravel di suruh menjelaskan ke para alumni tentang bagaimana hal ini bisa terjadi. Ravel menjelaskan semuanya dengan hal yang tak benar dan terus meyakinkan Kak Remon.


“Sebenarnya, dia ini sahabatku. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri, dan yang wanita yang sedang makan itu adalah kekasihnya.” Jawab Ravel mencoba menjelaskan keadaan sementara Ares malah makan bersama yang lain tanpa rasa malu sedikit pun.


“Baiklah aku sekarang mengerti mereka adalah kenalanmu, tapi bagaimana mereka bisa masuk ke sini?” tanya Kak Remon dengan wajah sangat menyeramkan.


“Mort, aku mencium aroma akan muncul perang.” ucap Ares menoleh ke arah Mort dan Ravel.


Ravel dan Mort langsung mengabaikan Kak Remon dan berjalan dengan cepat ke depan Ares yang masih mencoba mengendus suatu aroma. Ravel mengeluarkan peta, lalu Ella dan Mort mengecek arah angin untuk memastikan arah dari aroma itu.


“2000 kaki arah utara.” ucap Ares mencium aroma itu.

__ADS_1


“Arah angin lebih cepat dari biasanya ke arah timur, berarti sekitar 2000 kaki ke arah timur laut.” ucap Mort ke Ravel yang sedang mengecek peta.


“Kita berada di sini, arah itu menunjukkan ke arah sekolah! Mort, Ares, Ella! Kita akan langsung menuju ke sana!” ucap Ravel ke mereka bertiga.


“Ke sana? Mau ke mana kau Ravel? Masalah di sini belum selesai, jangan melarikan diri dulu.” ucap Kak Remon tak mengerti dengan sikap Ravel.


“Kak Remon, sebaiknya biarkan dia pergi dulu.” ucap Dion menahan Kak Remon.


“Apa maksudnya? Apa dia tidak bercanda?” tanya Kak Remon ke Dion yang menghalanginya.


“Tenang saja, aku akan ikut dengannya.” jawab Dion ke Kak Remon.


“Kami juga akan ikut!” ucap Nia dan yang lainnya.


Para alumni terpaksa mengikuti Ravel dan bersiap menuju ke sekolah sihir vitoria. Setelah selesai bersiap, semua orang terkejut melihat wajah Ares, Mort, dan Ravel yang sangat cemas. Setelah berkumpul Ravel langsung melakukan tindakan secepat mungkin.

__ADS_1


“Teleport! Dengarkan aku, kali ini aku tidak bercanda sedikit pun. Sekolah akan dalam bahaya.” ucap Ravel memperingati semuanya setelah memunculkan kotak teleportasinya.


__ADS_2