Kehidupan Baru di Dunia Lain

Kehidupan Baru di Dunia Lain
Akar Masalah


__ADS_3

Memangnya kenapa kalau di tunggangi?" tanya Ravel ke kepala sekolah.


"Bukan kenapa-kenapa sih, hanya saja akan bahaya jika ada yang ingin memburunya bukan?" ucap kepala sekolah mencoba mengingatkan Ravel betapa bahayanya.


"Oh, tidak apa. Kalau sedang di langit aku membuatnya tidak terlihat dengan sihir Invisible." jawabnya dengan santainya.


"Begitu, lalu bagaimana dengan kelas hari ini?" tanya kepala sekolah penasaran dengan apa yang berhasil mereka capai di hari pertama.


"Bagaimana? Aku ingin memberitahumu! Kau harus mempertimbangkan masalah ini dalam cangkupan guru yang salah. Karena memang salah berdasarkan kenyataan." ucap Ravel memberikan saran.


Kemudian mereka pergi untuk mengambil makan siang bersama. Setelah makan siang, akan ada kelas teori lagi sampai siang hari. Karena malas mengikuti, Mort dan Ares pergi mengelilingi kota berdua. Ravel pun sudah merasa bosan, pada akhirnya ia pergi ke perpustakaan bersama Ella untuk mencari buku sihir yang menarik untuk di pelajari.


Sesampainya di sana, terlihat kepala sekolah sedang menulis sesuatu di perpustakaan yang hanya ada beberapa orang itu.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Ravel mendekati kepala sekolah.


"Hanya masalah kecil, lalu kenapa kau bisa di sini?" tanya kepala sekolah ke Ravel.

__ADS_1


"Aku bosan, jadi aku pergi begitu saja." jawabnya apa adanya.


"Bosan? Berani sekali seorang penyihir mengatakan bosan mempelajari sihir. Apa kau ingin aku hukum?" ucap kepala sekolah marah ketika merasa kalau sihir di hina.


"Sejak kapan aku bosan mempelajari sihir? Aku hanya bosan dengan cara mengajar guru itu dan mendengar ocehan murid lain yang mengabaikan guru itu. Memangnya apa yang kau pikirkan ketika melihatku datang ke perpustakaan?" ucap Ravel memarahi balik kepala sekolah itu.


"Apa kau datang ke sini untuk mencari buku sihir?" tanya kepala sekolah.


"Tidak juga, aku hanya akan membaca sesuatu yang menarik perhatianku saja." jawab Ravel memilih buku di sebuah rak.


"Apa kau sudah menguasai sihir dasar? Dari kapasitas manamu, sepertinya akan mustahil menjadi seorang penyihir." ucap kepala sekolah meledeknya ketika menyadari kecilnya kapasitas mana Ravel.


"Ada apa Ravel? Aku hanya bercanda saja." jawab kepala sekolah.


"Tidak perlu berpura-pura lagi, apa kau ingin aku yang membuat wujud aslimu keluar?" ucap Ravel terus mencurigai dan memprovokasinya.


"Bosah sialan!" teriak kepala sekolah lalu menyerang Ravel dengan sihir tanpa mantra, lingkaran sihir, atau pun nama sihirnya.

__ADS_1


"Seranganmu itu, kau ras iblis bukan?" tanya Ravel dengan mata menatap tajam ke padanya.


"Hahaha, benar sekali. Aku adalah ras iblis, bagaimana kalau kau menyerah saja?" ucap iblis itu berubah ke wujud aslinya.


"Apa tujuanmu? Di mana kepala sekolah yang sebenarnya?" tanya Ravel yang menyadari kalau persiapan Kak Remon sudah selesai.


"Kepala sekilah yang asli? Aku mengurungnya di penjara sekolah. Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan sebelum mati?" ucap iblis itu ke Ravel.


"Tidak, kau sudah berakhir. Karena sejak awal, aku tak ada niat mepawanmu sendiri." ucap Ravel membuatnya kaget.


"Apa?" kaget wanita itu dan ketika ia melihat sekitar sudah tidak ada orang di perpustakaan.


"Sampai jumpa, iblis ******. Teleport!" ucap Ravel lalu berpindah ke depan sekolah yang pada saat itu sudah banyak murid yang sudah di evakuasi Kak Remon dan kawan-kawannya.


"Kerja bagus, perpustakaan sudah tersegel dan tak bisa di buka untuk 24 jam ke depan. Apa sudah mengetahui di mana keberadaan kepala sekolah yang asli?" ucap Kak Remon memuji Ravel dan menanyakan keberadaan kepala sekolah yang asli.


"Ada di penjara sekolah ini. Aku sudah mendapatkan jawaban langsung dari wanita iblis itu."

__ADS_1


"Ayo, kita pergi menolongnya!" ucap Kak Remon ke para rekannya.


__ADS_2