
“Bagus! Instingmu makin terasah.” ucap Mort ke Ravel.
“Latihan macam apa itu? Mengagetkanku saja.” ucap Dion dengan napas lega.
“Maaf, dia memang suka begini. Aku sudah terbiasa jadi dia berani melakukan itu.” jawab Ravel berterima kasih pada Dion yang mengkhawatirkannya.
“Ngomong-ngomong, apa kau menguasai sihir es? Aku melihat sesuatu yang spesial pada manamu.” tanya Mort tertarik dengan suatu hal.
“Ya, aku menguasai sihir es. Memangnya ada apa dengan manaku?” tanya Mort
“Maaf, bisakah aku minta sedikit darahmu.” ucap Mort lalu menggores jari Dion dengan pisau.
__ADS_1
Mort mengumpulkan darahnya di tangannya. Kemudian muncul sebuah hawa dingin di tangannya dan juga panas di saat bersamaan. Ia langsung tertegun setelah tersadar akan darah sesuatu. Ia sangat tak menyangka dapat melihat orang yang memiliki darah itu.
“Darah naga! Ravel, temanmu memiliki darah keturunan ras naga.” ucapnya dengan sangat rerkejut.
“Naga? Apa kau serius dengan yang kau katakan?” tanya Ravel masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mort.
“Aku memiliki darah keturunan ras naga? Tunggu, ngomong-ngomong soal naga aku masih memiliki kalung taring naga dari Kak Nata.”
“Berikan padaku! Biar ku lihat.” ucap Mort lalu langsung melihat taring itu.
Kemudian luka goresan pisau di tangannya langsung sembuh dalam seketika. Darahnya meningkatkan pemulihan lukanya ke level yang cukup gila. Karena, bekas goresan itu hilang tanpa bekas apa pun. Ia sendiri pun terkejut kalau ada hal atau kekuatan semacam ini di dalam tubuhnya. Sekarang ia menjadi makin percaya diri dalam meningkatkan kemampuannya.
__ADS_1
“Kau, adalah keturunan ras naga tersembunyi yang seharusnya sudah punah. Jangan sampai orang lain tahu tentang ini. Itu akan membahayakan nyawamu dan orang sekitarmu.” ucap Mort memperingatinya lalu menghentikan perwujudannya.
“Ya, terima kasih banyak!” ucap Dion berterima kasih pada Mort meskipun ia sudah tak di sana.
“Aku tak menyangka kau memiliki kemampuan hebat tersembunyi seperti ini. Hatiku jadi makin tenang karena ada orang kuat di sampingku.” ucap Ravel terkesan dan memujinya.
“Haha, meski pun begitu kau juga tak kalah hebat Ravel. Kau yang paling hebat di antara kita bertiga. Sebelumnya aku cukup tertekan karena merasa tertinggal oleh kalian berdua, sekarang aku jadi lebih sedikit percaya diri.” ucap Dion memberitahu Ravel apa yang ia khawatirkan belakangan ini.
“Kau itu tipe pemikir, pada akhirnya nanti kita pasti akan bergantung padamu di keadaan genting. Kalau begitu aku ke kamar dulu ya, hari ini sangat melelahkan.” ucap Ravel mencoba menghiburnya.
“Baiklah.” jawab Dion.
__ADS_1
Kemudian Ravel pergi ke kamarnya dan Dion berpikir sejenak di sana. Ia memang merasa lega karena mengetahui hal ini, tapi dia tetap merasa kalau itu belum cukup untuk melindungi kedua temannya. Ia teringat perkataan Ravel yang di gunakan untuk menghiburnya. Ia mengerti suatu hal dari satu kalimat kata tersebut.
“Pada akhirnya akan bergantung padaku di keadaan genting kah? Kau membuatku tenang Ravel, karena kau selalu mencegah keadaan genting benar-benar terjadi.” ucap Dion dalam hati merasa bersyukur memiliki teman seperti Ravel.